When The World Just Need a Robot not a Human

irobotSaat ini semakin banyak film yang berusaha menggambarkan tentang peradaban bumi di masa depan. Rata-rata dalam film tersebut digambarkan bahwa robot akan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia di masa depan. Robot akan menjadi “pekerja” yang efisien bagi seluruh pekerjaan manusia, seperti gambar di atas dalam film yang dimainkan oleh Will Smith, yaitu :iRobot.

Robot pada dasarnya adalah sebuah komputer yang diperlengkapi dengan tubuh manusia. Sebuah komputer yang telah diprogram untuk melakukan pekerjaan manusia, baik pekerjaan yang membutuhkan kekuatan tubuh maupun pikiran, dengan kompetensi lebih baik dari manusia. Robot juga tidak akan terdistraksi dengan kepentingan pribadi mereka, sehingga para robot dapat bekerja dengan sangat fokus, bahkan mereka tidak akan protes bila diberi pekerjaan yang banyak! Maka hasil yang diperoleh adalah pekerjaan selesai dengan efisien, efektif, rapih, akuratdan boleh digaransi 0% kesalahan. Bayangkan perusahaan apa dan bos mana yang tidak ingin punya anak buah seperti itu? Basicly we don’t need human to do the human jobs, because robots can do better!

Film-film futurustik tersebut menunjukkan gambaran kita semua akan masa depan. Dengan tuntutan dunia saat ini akan kompetensi dan profesionalitas yang begitu tinggi, maka tidak heran apabila kita membayangkan masa depan tentunya akan memiliki tuntutan yang lebih tinggi lagi dibandingkan masa kini. Maka robot menjadi sebuah konsekuensi logis dalam memenuhi tuntutan masyarakat tersebut. Tapi bagi saya, film tersebut bukanlah sekedar gambaran dan prediksi kita akan masa depan. Bagi saya, film-film tersebut adalah potret masyarakat global saat ini. Sebuah masyarakat yang lebih membutuhkan robot daripada manusia. Read More

Brand It Like Beckham : The World Football Anomaly

Pada Headline halaman depan Koran Kompas edisi Sabtu 18 Mei 2013, tertampang foto David Beckham  dengan judul “Mau ke Mana Lagi, Beckham?” Lalu di bagian olahraga, Beckham mengambil 1 halaman penuh. Bahkan Berita pembahasan tentang Europa League : Benfica vs Chelsea hanya mengambil setengah halaman. Ini adalah hal yang mengagumkan dan luar biasa. Selama 17 tahun saya nonton sepakbola, saya tidak pernah melihat ada pesepakbola (bahkan olahragawan lain) yang pensiun dan mengambil headline di surat kabar nasional! Hanya Beckham satu-satunya.

Beckham Pensiun - Kompas

Setelah Beckham menyatakan pensiun, seperti yang telah diduga, respon di seluruh dunia langsung berhamburan. Banyak sekali artikel menulis tentang Beckham yang diikuti dengan komen-komen orang dalam artikel tersebut. Hal yang membuat sedih adalah dari sekian banyak komen tersebut cukup banyak orang yang mengkritik bahkan menghina Beckham. Komen tersebut memiliki pesan yang senada, antara lain :

  • Beckham bukan pemain hebat, dia hanya modal ganteng dan penampilan
  • Beckham adalah pemain bola yang overrated
  • Beckham bukan pemain bola, hanya bintang iklan yang dikontrak klub demi alasan marketing

Selama saya membaca komen tersebut, saya tidak berhenti berpikir dan bertanya :

Apa salahnya seorang pesepakbola menjadi terkenal untuk hal di luar sepakbola? Read More

Role Model as a Perfect Education Tools

Tahun 1996, terjadi sebuah gol yang dicetak oleh seorang pemain sepakbola Inggris berumur 21 tahun dan disaksikan oleh seorang bocah Indonesia berusia 11 tahun. Gol tersebut dicetak dari tengah lapangan sepakbola.  Setelah kejadian itu, hidup si pemain bola dan si bocah kecil tidak pernah sama lagi.

Pemain bola itu kemudian menjalani 17 tahun karir yang berkilau dengan prestasi. Menjadi satu-satunya pesepakbola Inggris yang :

  • bermain di 4 Klub Besar di 4 Liga terbesar di Eropa (Liga Inggris, Spanyol, Italia & Perancis),
  • meraih gelar juara liga di 4 negara berbeda,
  • 2 kali menjadi runner-up FIFA WORLD PLAYER of Year,
  • mencetak gol pada 3 Piala Dunia yang berbeda (1998, 2002, 2006).
  • Tahun 2002 mendapat penghargaan dari Asosiasi Sepakbola Inggris sebagai “Goal of The Decade”.

Beckham halfway goalSedangkan sang bocah tumbuh menjadi fans setia pemain tersebut dan pecinta permainan sepakbola. Pemain sepakbola muda tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya. Bocah itu mengikuti dengan seksama kisah hidup dan karir si pesepakbola, membeli baju bola dan sepatunya, bermain bola sesuai dengan posisinya, memakai baju dengan nomor punggung yang sama dengannya, dan hampir setiap jengkal kamar si bocah penuh dengan posternya. Seperti yang mungkin telah ditebak oleh teman-teman, pemain bola tersebut adalah David Robert Joseph Beckham dan bocah kecil itu adalah William Sulivan Budiman alias saya sendiri. Tanggal 16 Mei 2013, David Beckham mengumumkan bahwa dirinya pensiun dari sepakbola. Sebuah berita yang sangat mengejutkan dan menyedihkan terutama bagi saya.

Jujur tanpa melebih-lebihkan, saya merasa ada sedikit bagian dari diri saya yang hilang saat mendengar berita itu.

Bagaimana tidak?! Setelah 17 tahun lebih, Beckham menjadi lebih dari sekedar idola bagi saya. Ia telah menjadi role model atau teladan. Read More

Bermimpi, Percaya, Berdoa dan Berusaha

Pada usianya yang ke-34, Florence Chadwick memiliki tujuan untuk menjadi wanita pertama yang berhasil berenang dari Pulau Catalina menuju pesisir California. Jutaan Orang menyaksikan usahanya tersebut melalui TV pada tanggal 4 Juli 1952. Florence terlihat berjuang di hamparan lautan yang kelihatannya seperti padang es yang tak bertepi dan yang dikelilingi kabut yang sangat tebal. Begitu tebalnya kabut itu sehingga bahkan ia tidak dapat melihat perahu yang mengawalnya. Ibu dan pelatihnya berada dalam perahu itu sambil terus memberian dorongan dengan berteriak: “Ayo, sedikit lagi sudah hampir sampai !” Florence terus berjuang untuk melawan air laut yang dinginnya menembus kulit sambil menghindari ikan-ikan hiu yang berenang kearahnya. Ikan-ikan hiu itu hanya dapat diusir melalui tembakan senapan yang ditembakkan oleh pelatihnya dari perahu. Read More

Jangan Terjebak Pada Kesedihan Yang Sama

Seorang guru spiritual diundang datang ke sebuah seminar yang dihadiri ribuan hadirin. Guru tersebut diminta untuk berceramah dan memberikan nasihat-nasihat hidup bagi para hadirin. Saat sang guru ini mulai naik ke atas panggung, seluruh hadirin bertepuk tangan menyambutnya dan penasaran menanti wejangan-wejangan yang akan diberikan oleh guru spiritual ini.

Di atas panggung, sang guru memulai ceramahnya dengan menceritakan sebuah lelucon. Seluruh hadirin tertawa mendengarnya. Setelah hadirin berhenti tertawa, sang guru kembali menceritakan lelucon yang sama, kali ini hanya sebagian hadirin yang tertawa. kemudian sang guru tersebut selama 10 menit kemudian terus mengulangi cerita lelucon yang sama, sampai tidak ada satu pun hadirin yang tertawa lagi. Melihat raut wajah para hadirin yang terlihat bingung, sang guru pun tertawa.

Sang guru kemudian tersenyum lebar dan berkata, “Apabila kamu tidak dapat tertawa pada lelucon yang sama berulang-ulang, mengapa kamu selalu menangisi masalah yang sama berulang-ulang dalam waktu yang sangat lama?”

Setelah berbicara itu, sang guru pun turun panggung meninggalkan para hadirin yang termenung mendengar ucapannya.

Make Happiness a Habit and SMILE UP YOUR LIFE!

Kastena Boshi

follow me @WilliamSBudiman

Gembala dan Pemburu

Pada jaman Tiongkok kuno, terdapat seorang gembala domba yang memiliki tetangga seorang pemburu. Pemburu ini memiliki anjing-anjing ganas yang seringkali meloncati pagar gembala ini dan mengejar domba-domba miliknya. Beberapa kali sang gembala ini mengingatkan tetangganya ini tentang dombanya namun selalu tidak dihiraukan.

Sampai suatu hari anjing pemburu tersebut kembali melompati pagar dan melukai beberapa domba sang gembala tersebut. Kesal dan marah atas kejadian ini, sang gembala langsung pergi ke kota untuk menemui hakim demi menuntut keadilan.

Hakim mendengarkan seluruh cerita keluh kesah si gembala. Lalu hakim tersebut berkata, “saya bisa saja menghukum pemburu tersebut dan memerintahkan dia untuk mengurung dan merantai anjing-anjing miliknya. Akan tetapi kamu akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Apakah kamu ingin memiliki tetangga yang adalah teman atau musuh?”

Mendengar pernyataan hakim, sang gembala kemudian merenung sesaat dan menjawab dengan hati-hati, “saya tentu memilih memiliki teman. Tetapi bagaimana caranya agar saya tetap memiliki teman dan saya tidak terus dirugikan?”

“Baik saya akan memberikan sebuah solusi yang dapat kamu jalankan sepulang dari tempat ini.” jawab sang hakim. Mendengar solusi yang diberikan oleh hakim tersebut, sang gembala pun setuju dan pulang ke rumah. Read More

Taking Responsibility

[lanjutan dari https://williambudiman.com/2012/02/17/berteman-dengan-kesalahan-dan-kegagalan/]

Pada tulisan saya sebelum ini, saya menekankan bahwa setiap kesuksesan pasti “ditemani” dengan kesalahan dan kegagalan. Saya menuliskan bahwa “KEBERHASILAN atau KESUKSESAN adalah HASIL dari akumulasi kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan yang telah direfleksikan dan diperbaiki“. Dalam bahasa yang lebih sederhana : untuk menjadi sukses, kita harus belajar dari setiap kesalahan dan kegagalan kita. Saya rasa semua orang tahu dengan hal ini. Bahkan saya yakin semua orang setuju akan hal ini. Oleh karena itu ada beberapa peribahasa yang menyebutkan hal yang bernada sama, seperti : “Pengalaman adalah guru yang terbaik” ; “keledai tidak jatuh pada lubang yang sama dua kali!”. Namun hal yang perlu kita cermati dan renungi adalah, apabila semua orang setuju bahwa kita harus belajar dari kesalahan dan kegagalan kita untuk menjadi sukses, mengapa masih lebih banyak orang yang tidak sukses dibanding sukses? Mengapa banyak sekali orang yang selalu terjebak dengan kesalahan dan kegagalan yang sama tanpa pernah menjadi lebih baik? Read More

Berteman dengan Kesalahan dan Kegagalan

Pekerjaan sebagai seorang trainer membawa saya bertemu dengan banyak orang-orang baru. Bertemu dengan teman-teman baru dari banyak latar belakang keluarga, agama, ras, ekonomi, umur, pendidikan bahkan bangsa yang berbeda. Pengalaman bisa berkenalan dan “bersentuhan” dengan banyak karakter individu yang unik inilah merupakan salah satu sebab mengapa saya mencintai pekerjaan saya ini. Kesempatan saya untuk belajar bersama dengan para peserta yang luar biasa di banyak kegiatan membuat saya melihat ada satu kesamaan ditengah-tengah perbedaan karakteristik para peserta. Kesamaannya adalah sebagian besar dari para peserta pelatihan, seminar dan workshop saya memiliki hambatan dalam memberikan pendapat!

Ketika saya mengajukan pertanyaan ataupun sebuah pernyataan, hanya sebagian kecil dari peserta saya yang berani untuk menjawab dan berpendapat. Sebagian besar lainnya memilih untuk tetap diam dan menjadi pendengar yang baik. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi ketika saya membantu sebuah training di Iran, fenomena ini pun terjadi. Hanya sebagian kecil peserta yang aktif dan berani memberikan pendapat. Tentunya banyak hal yang dapat menyebabkan fenomena ini, namun saya melihat ada satu penyebab yang cukup dominan, yaitu : TAKUT SALAH! Read More

Ayah, Anak & Keledai

Ada sepasang ayah dan anak yang sedang berjalan menarik keledai milik mereka. Mereka berniat untuk menjual keledai ini di kota. Saat awal perjalanan dari rumah menuju kota, sang ayah dan anak berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Sampai tak berapa lama, ada orang yang berkata kepada ayah dan anak ini, “Kalian bodoh sekali, kalian berdua menuntun keledai yang seharusnya bisa mengangkut salah satu dari kalian!”

Mendengar orang berkata seperti itu, sang ayah menyuruh sang anak duduk di atas keledai tersebut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka berjalan, mereka berjalan berpapasan dengan satu orang kembali. Orang tersebut tiba-tiba berkata, “Dasar anak tidak berbakti! Orangtua yang sudah tua disuruh berjalan kaki, tetapi sendirinya malah enak-enakan duduk santai di atas keledai!”

Mendengar komentar seperti itu, sang ayah dan anak pun segera berganti posisi. Sekarang sang ayah yang duduk di atas keledai dan sang anak yang berjalan kaki menuntun keledai. Tak berapa lama kemudian, kembali mereka berpapasan dengan orang lain di jalan. Orang tersebut berkomentar, “Dasar orangtua tidak sayang anak! Anak sudah terlihat kelelahan berjalan, bukannya disuruh duduk di atas keledai malah dirinya sendiri yang enak-enakan duduk di atas keledai!”

Segera setelah mendengar komentar tersebut, sang ayah menyuruh anaknya ikut naik menunggang keledai. Sehingga sekarang kedua sang ayah dan anak tersebut sama-sama duduk menunggangi keledai. Kembali setelah tak lama berjalan, terdengar komentar dari orang lain, “Kalian lihat keledai yang malang tersebut. Bagaimana kalian bisa membiarkan keledai tersebut mengangkut kalian berdua. Kalian berdua mungkin lebih mudah mengangkat keledai ini daripada keledai ini mengangkut kalian berdua!”

Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengikat kaki keledai mereka di sebuah tongkat panjang, kemudian sang ayah dan anak memanggul keledai tersebut di pundak mereka. Semakin dekat mereka berjalan menuju kota, semakin banyak orang yang merasa aneh melihat pemandangan seekor keledai dipanggul oleh ayah dan anak ini. Banyak orang mulai penasaran dan mulai berbondong-bondong datang berdiri melihat dari dekat ayah dan anak ini. Karena banyak orang di sekeliling, keledai menjadi takut dan mulai meronta-ronta. Saat mereka melewati jembatan, keledai ini meronta dengan sangat hebat dan akhirnya terlepas dari ikatannya, lalu terjatuh ke sungai dan mati tenggelam. Read More

Belajar Menjadi Bangsa Besar

September 2010 saya berangkat ke Xiamen, China. Saya mendapatkan beasiswa penuh 2 semester untuk jurusan bahasa dari pemerintah China. Sampai saat ini masa saya tinggal di negeri tirai bambu tersebut masih saya anggap sebagai salah satu masa paling membahagiakan dalam hidup saya. Belajar bahasa mandarin, belajar kebudayaan baru, berteman dengan sesama pelajar dari berbagai negara, travel ke beberapa kota di China secara spontan menggunakan kereta api. Tanpa terasa 1 tahun lewat sekejap mata. Padahal masih segar dalam ingatan saya, bagaimana pada bulan September awal tahun lalu, keluarga dan teman terdekat mengantar saya sampai ke Bandara Soekarno-Hatta. Mengantar kepergian saya ke China. Sekarang saya kembali ke Jakarta, Indonesia. Akhirnya saya bisa membayar lunas kerinduan saya makan gado-gado, nasi uduk, nasi kuning, sayur lodeh, minum es cendol, dan sebagainya. Selama saya di China, saya menyadari bahwa negara kita beserta rakyatnya, masih perlu banyak belajar dari negara lain. China hanyalah negara yang “muda” jika dibandingkan Indonesia. China baru berumur 30 tahun sejak berdiri sebagai Republik, sedangkan Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun. Jika ingin kita personifikasikan, negara China hanyalah seorang pria dewasa yang bahkan belum terhitung separuh baya. Sedangkan Indonesia adalah seorang kakek berumur 66 tahun. Namun sangat disayangkan sekali perkembangan pembangunan di Indonesia harus kita akui kalah jauh dibanding dengan negara panda ini. Saya menulis ini bukan hendak membanding-bandingkan Indonesia, apalagi menjelek-jelekan Indonesia. Saya mencintai negara Indonesia. Namun untuk bisa maju sebagai sebuah bangsa, saya yakin bahwa kita harus bisa mengakui dan menerima kenyataan bahwa negara kita masih banyak hal yang harus diperbaiki. Belajar dari kelebihan negara lain menjadi salah satu cara tepat untuk dilakukan. Saya yakin banyak dari kita yang juga mempunyai pendapat yang sama. Tetapi saya mempunyai sedikit pandangan berbeda. Belajar dari negara dan bangsa lain tidak akan berguna apabila hanya pemerintahnya saja yang dituntut untuk belajar. Justru yang harus banyak belajar adalah kita, rakyat Indonesia secara keseluruhan. bangsa besar Sebelum beasiswa ini, saya juga pernah pergi ke belajar bahasa mandarin selama 1 bulan saat libur sekolah di Beijing pada tahun 1999. Saat itu usia saya adalah 14 tahun. Saat saya pergi tersebut saya melihat Beijing (Ibukota China) lebih buruk, lebih tertinggal dan lebih berantakan dibandingkan Jakarta. Sekarang, 12 tahun kemudian, kota tempat saya belajar yaitu Xiamen bahkan jauh lebih bagus, lebih tertata, lebih maju dan lebih bersih dibandingkan Jakarta. Xiamen adalah kota kecil seperti Batam. Sedangkan Jakarta adalah Ibukota, di mana merupakan kota terbesar dan termaju di di Indonesia. Kota terbesar di Indonesia kalah maju, kalah bersih dan kalah rapih dibandingkan kota kecil di China. Terus terang saya sempat berasa malu ketika pertama kali di Xiamen dan memikirkan kembali kota Jakarta. Sejak 14 tahun lalu sampai hari ini, kondisi Jakarta masih tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali jumlah Mall dan Seven Eleven. Sedangkan kondisi angkutan umum di Jakarta tidak ada perubahan yang signifikan. Kedisiplinan masyarakat Jakarta masih sama saja; tidak ada perubahan. Jalanan di Jakarta masih sangat semerawut dengan segala pelanggaran lalu lintasnya. Dalam waktu 14 tahun, Jakarta seperti “gerak jalan”, namun China dalam 14 tahun seperti “berlari kesetanan”. Demi teman-teman mampu membayangkan kemajuan China, mari saya tuliskan beberapa kemajuan tersebut. Read More