Catatan Samping TEDx [Part 2] : Kesempatan Datang Ketika Kita Pantas

Tulisan ini adalah bagian dari serangkaian pembelajaran yang saya refleksikan dari pengalaman saya ketika menjadi Pembicara TEDxBinusUniversity.

Bagian 2.

TED Talks dan TEDx menjadi acara-acara yang sangat saya kagumi dari sejak lama. TED menjadi tempat saya untuk mendapatkan banyak pembelajaran baru, mencari bahan untuk artikel tulisan dan pelatihan/seminar, maupun hanya sekedar untuk terinspirasi dengan ide-ide yang dibagikan di sana oleh para pembicara yang luar biasa. Para pembicara di sana orang-orang yang dianggap merupakan ahli di bidangnya, para peneliti, para penulis, dsb. Sebagian besar penulis buku favorit saya dan orang yang saya kagumi merupakan pembicara di TED atau TEDx.

Mempertimbangkan betapa saya menyukai video-video TED TALKS ataupun TEDx, serta kenyataan bahwa saya adalah seorang trainer, seorang pembicara, seorang penjaja ide, maka menjadi sangat wajar kalau saya ingin sekali suatu saat nanti akan menjadi seorang pembicara TEDx. Keinginan saya untuk menjadi pembicara TEDx memiliki intensitas yang sama besarnya dengan saya ingin menerbitkan buku sendiri.

Ketika akhirnya kesempatan itu datang, saya tanpa berpikir panjang langsung merengkuhnya dengan sesegera mungkin.

Perjalanan saya sampai akhirnya bisa berdiri di panggung TEDx sebenarnya sudah dimulai dari 4 tahun lalu. Saat itu, saya baru mulai serius mempelajari positive psychology dan baru mulai menjajaki untuk menjadi trainer/pembicara bagi para pekerja profesional di perusahaan-perusahaan. Sebelumnya, saya hanya memfokuskan diri untuk memberikan pelayanan training, seminar, workshop bagi anak-remaja di sekolah-sekolah.

Pada masa itu, saya meminta rekan saya untuk menuliskan rekomendasi ke TEDxJakarta untuk menominasikan saya untuk menjadi pembicara TEDxJakarta. Saya sangat ingin menyampaikan pesan mengenai pentingnya kebahagiaan dan kesehatan psikologis bagi masyarakat maupun kehidupan pribadi masing-masing manusia. Setelah email rekomendasi dikirimkan ke TEDxJakarta, saya kemudian menunggu. Saya menunggu selama 4 tahun, baru akhirnya saya bisa menjadi seorang pembicara TEDx di TEDxBinusUniversity. Saya akhirnya dapat menyampaikan pesan yang ingin saya sampaikan di panggung tersebut.

Proses penantian tersebut tidaklah berjalan mulus. Awalnya, menunggu email rekomendasi yang tidak pernah berbalas, sambil terus mengetahui bahwa TEDxJakarta dan beberapa TEDx universitas terus bermunculan dan berjalan, membuat diri saya kesal, kecewa, sedih dan akhirnya mempertanyakan kemampuan diri saya sendiri. Terlebih lagi, perjuangan untuk menjadi pembicara/trainer untuk perusahaan-perusahaan nasional selalu menemukan jalan buntu sejauh itu. Saya sudah dua tahun kesulitan untuk menemukan perusahaan yang bersedia untuk menjadikan saya sebagai rekan pembelajar bagi para karyawannya. Usaha untuk terus mendapatkan kepercayaan memegang training bagi karyawan perusahaan kemudian mengambil porsi yang sangat besar dari perhatian dan pemikiran saya. Karena, terus terang berusaha hidup dan berkembang dalam bisnis pengembangan SDM itu akan sangat sulit ketika kita hanya mengandalkan klien sekolah. Untuk menghidupi diri sendiri dan rekan saya saja sulit setiap bulannya; kadang dapat penghasilan yang cukup, namun ada banyak bulan yang mengharuskan saya dan rekan saya berhemat mengencangkan ikat pinggang demi bisa bertahan. Hal ini kemudian membuat mimpi dan tujuan saya untuk menjadi pembicara TEDx akhirnya terlupakan.

Melewati waktu yang tidak sebentar untuk dapat masuk dan menjadi pembicara/trainer bagi perusahaan membuat saya banyak bergumul dalam hati dan pikiran. Saya kemudian berefleksi atas sebuah pertanyaan yang muncul di benak saya.

“Mengapa sulit? Apa yang salah?”

Hasil refleksi saya menghasilkan sebuah kesimpulan : saya belum pantas.

Apa maksudnya “belum pantas”?

Saya merasa mengapa saya sulit dipercaya menjadi pembicara & trainer untuk para pekerja profesional di perusahaan-perusahaan nasional karena belum memiliki kepantasan. Saya belum memiliki karya yang bisa menginspirasi orang lain. Saya masih belum terlalu paham secara mendalam dan menguasai bidang yang telah saya pilih untuk menjadi bidang spesialisasi saya (positive psychology & emotional intelligence). Singkat kata, saya masih belum terbukti.

Mendapatkan pemahaman tersebut, maka saya berusaha berhenti untuk mengeluh; berhenti untuk terfokus pada penolakan-penolakan terhadap diri saya. Alih-alih, saya mengalihkan energi dan fokus perhatian saya dalam membangun kepantasan untuk diri saya sendiri.

Saya mulai memperdalam ilmu, pengetahuan dan keterampilan saya, serta mulai membuat karya-karya yang dapat menginspirasi orang. Saya membuat tulisan-tulisan melalui blog saya, sambil terus membentuk diri saya sebagai seorang profesional. Semakin menulis, semakin paham akan siapa diri saya, apa minat saya dan semakin menulis, semakin paham saya akan bidang yang saya dalami dan geluti. Menulis di blog kemudian membawa saya pada terbukanya pintu kedua, yaitu menjadi kontributor di majalah untuk kolom cineTherapy – memahami kesehatan psikologis melalui film. Lalu, terbukalah pintu lain lagi yaitu penerbitan buku saya, Manusia Apa Robot

Buku “Manusia Apa Robot?” kemudian menjadi pintu masuk untuk kesempatan lainnya. Seorang produser acara TV untuk stasiun TV kecil berbasis parabola membaca buku saya dan merasa saya cocok untuk program acara yang mau dibuatnya. Saya dipanggil dan diajak untuk membuat sebuah acara Show TV sendiri di sebuah stasiun TV itu. Saya bebas menentukan topik, konsep acara, konten acara, dan tamu yang diundang dalam acara tersebut. Sebuah pengalaman yang bermakna. Karya saya bersama stasiun TV tersebut membuka pintu kesempatan lain. Saya saat ini, menjadi narasumber reguler untuk sebuah acara seputar psikologi keluarga di stasiun TV nasional.

NGOPI-Ngobrol Psikologi @Damai TV

Narasumber di acara Ruang Keluarga – DAAI TV

Sambil saya mulai membangun kepantasan melalui karya-karya saya, tanpa disadari beberapa perusahaan mulai mempercayai saya untuk mengadakan training/seminar/workshop untuk karyawan di perusahaannya. Di mulai dari perusahaan yang saya cukup yakin tidak diketahui oleh semua orang, sampai sekarang perusahaan yang besar di Indonesia sudah mempercayai saya. Dari hanya diberi imbalan makan siang, sampai sekarang beberapa belas bahkan sampai puluh juta untuk satu kali kesempatan berbicara membawakan training/seminar/workshop di perusahaan.

Poster TEDxBinusUniversity

Semua cerita tersebut berujung pada awal Februari 2017, di mana tiba-tiba saya mendapatkan email undangan untuk menjadi pembicara di TEDxBinusUniversity. Dalam email tersebut disebutkan bahwa Binus University sedang ingin mengadakan TEDx Event dengan tema “Loud Voices” dengan salah satu topik yang ingin dibawakan adalah mengenai kebahagiaan. Panitia mendapatkan rekomendasi nama saya dari pihak universitas dan setelah melakukan riset sederhana melalui youtube dan tulisan blog, maka saya dianggap sesuai untuk membawakan topik ini pada acara TEDxBinusUniversity.

Awalnya, saya kira ini hanya bercandaan. Lalu berubah menjadi ketidakpercayaan. Kemudian berubah menjadi suka cita yang luar biasa setelah saya mempelajari email tersebut dan mulai menemukan bahwa ini sepertinya bukan email iseng.

Sesuatu yang telah saya lupakan untuk sementara waktu, tiba-tiba datang menghampiri saya. Tetapi tetap saya memandang kejadian yang membahagiakan ini bukanlah sebuah kebetulan. Saya tidak akan dipanggil dan dipercaya untuk menjadi pembicara TEDx mengenai topik kebahagiaan, jika dari awalnya (4 tahun lalu) saya hanya terus berkeluh kesah mengapa kesempatan yang tidak kunjung datang. Saya tidak akan dipanggil ketika saya belum pantas. Kesempatan untuk menjadi pembicara TEDx untuk topik yang menjadi panggilan saya ini akan diberikan kepada orang lain yang lebih pantas, jika saya tidak pernah mulai membangun kepantasan melalui karya-karya saya.

Menjadi pembicara TEDx bagi saya adalah hasil dari proses pembangunan kepantasan yang telah dilakukan selama 4 tahun terakhir; dari pertama kali saya mengirimkan surat permohonan menjadi pembicara TEDx, sampai saya berdiri di panggung TEDx tersebut.

Happiness Paradox

TEDxBinusUniversity

Saya selama menulis tulisan ini menyadari dengan jelas satu hal, bahwa saya pun masih belum memiliki kepantasan yang sama dibandingkan banyak senior-senior psikolog, praktisi psikologi positif senior Indonesia, dan para trainer/pembicara kenamaan di Indonesia. Saya masih terus berusaha membangun kepantasan diri saya sendiri untuk memperoleh kesempatan-kesempatan lain yang dibawa oleh hidup di hadapan saya.

Hal yang bisa teman-teman semua pelajari dari pengalaman saya adalah : kesempatan akan datang kepada mereka yang telah siap dan pantas.

Memang banyak orang yang mendapatkan kesempatan baik dengan menggunakan sumber daya yang ia miliki untuk mengambil jalan pintas bukannya kepantasan. Namun percayalah, bahwa buah hasil dari kesempatan yang diambil dengan kepantasan jauh lebih baik dan bertahan lama dibandingkan dengan jalan pintas.

Maka ketika kita memiliki mimpi dan keinginan untuk memperoleh sesuatu, janganlah hanya berdiam diri dan berharap kesempatan itu datang dengan sendirinya. Buat kesempatan itu menghampiri kita dengan membangun kepantasan diri kita secara proaktif. Mau mendapatkan posisi yang tinggi dalam perusahaan, pastikan kita pantas melalui karya-karya hasil kerja kita.

Pertanyaan yang bisa kita renungi bersama sekarang, yaitu : apakah diri kita sudah cukup pantas untuk kesempatan yang selalu kita idam-idamkan?

Jangan memaksakan hasil tanpa berproses. Percaya pada proses, karena proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Kastena boshi

Advertisements

One comment

  1. uunwijianto · May 28

    Mantep mass

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s