Manusia Apa Robot?

Saya pernah diundang oleh teman saya untuk datang ke pesta house warming di rumah barunya. Kebetulan daerah kompleks rumahnya saya tahu, tetapi saya tidak pernah masuk ke dalam kompleks tersebut. Saya diberikan alamatnya dan bersiap-siap berangkat. Sampai di kompleksnya itu urusan mudah, mencari alamat rumahnya di kompleks itu yang sulit.

Di gerbang kompleks, saya tanya kepada satpam dan ditunjukkan sampai ke jalan utama sesuai dengan alamat yang diberikan. Saya pun bisa sampai dengan mudah di jalan utama yang ditunjukkan, tetapi cerita belum berakhir, mencari blok dan nomor rumah yang sepertinya sedikit susah. Satu blok, dua blok, akhirnya saya ketemu blok yang sesuai. Saatnya cari nomor rumah. Nomor x, xx, xxx, xxxx, dan sampai!

Saya sampai tepat di tanah kosong bekas rumah dirubuhkan!

“Oh, teman saya hebat ya.. rumah belom jadi aja sudah dibuat pesta house warmingnya!! apalagi kalau sudah jadi..” pikir saya pas melihat pemandangan tanah kosong yang ditutup seng-seng.

Saya pikir saya salah. Saya cek lagi alamat dan mencocokkan dengan rumah sekelilingnya. Benar ini alamatnya. Ada satpam lewat, saya tanya, dan benar itu alamatnya. Saya akhirnya menelepon teman saya dan teleponnya sibuk terus. “Mungkin dia sibuk kejar target bangun rumah biar pestanya bisa diadain 1 jam lagi!” pikir saya kesal sambil terus telepon. Akhirnya telepon saya diangkat, perbincangan pun terjadi. ternyata tadi pas dia kirim alamat tadi, dia sambil sibuk mengurus banyak hal, jadi dia salah menuliskan blok rumahnya. Rumah dia satu blok sebelom blok ini, dan rumahnya bukan tanah kosong.

Pernah mengalami pengalaman seperti pengalaman saya di atas? Salah alamat?

Saya punya tujuannya. Saya mau ke rumah teman saya di daerah Jakarta Utara. Tetapi, walau sejelas apapun tujuan kita dan sekuat apapun keinginan kita, jika alamatnya salah, sampai kapanpun kita tidak bakal sampai ke tempat tujuan. Alamat menjadi penting. Alamat memberikan tujuan kita sebuah identitas, sebuah definisi. Definisi inilah yang kemudian memungkinkan kita tahu jalan-jalan mana saja yang perlu diambil untuk sampai ke tujuan tersebut.

Mencari rumah ini sama dengan kita mencari kebahagiaan. Kita tidak bisa benar-benar bahagia hanya dengan keinginan kuat untuk bahagia. Kita tidak bisa bahagia hanya dengan menetapkan tujuan hidup untuk bahagia. Kita harus punya alamat kebahagiaan yang tepat. Kita harus mempunyai definisi dari kebahagiaan yang tepat, sehingga dari definisi tersebut kita bisa menyusun rencana hidup yang tepat, mengambil keputusan dengan tepat, dan meletakkan prioritas hidup pada hal yang tepat pula. Sayangnya, sebagian dari kita tidak pernah memeriksa apakah kita memiliki definisi kebahagiaan di kepala kita yang tepat.

Pernahkah kita bertanya-tanya dalam hati, “mengapa walau di sosial media tersebar #BahagiaItuSederhana, tetapi yang benar-benar bahagia sedikit?”

Kalau benar sederhana, kenapa sedikit yang bahagia?

03

Hal itu terjadi karena banyak orang punya “alamat” kebahagiaan yang salah, sehingga hanya sedikit yang bisa benar-benar bahagia. Sebagian besar orang memiliki sebuah definisi kebahagiaan yang salah dalam pikirannya. Bagi sebagian besar orang, kebahagiaan adalah sesuatu yang bersyarat, oleh karena itu mereka mati-matian mengejar syaratnya, tetapi malah kebahagiaan semakin menjauh. Bagi banyak orang kebahagiaan adalah produk dari kesuksesan material (uang, jabatan) ataupun kepemilikan sesuatu (barang, orang, cinta), maka ketika mereka mengejar hal tersebut mati-matian. Hal tersebut menjadi obsesi.

Oleh karena itu untuk menjadi bahagia, carilah definisi yang tepat. Definisi yang memungkinkan kita untuk mengambil langkah-langkah tindakan yang memang mengarahkan kita pada kebahagiaan sejati bukan kebahagiaan sementara.

Apakah “alamat” tepat dari kebahagiaan dan bagaimana cara mencapai ke sana dengan mudah?

Bagaimana cara mendapatkan kehidupan yang benar-benar saya idam-idamkan?

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut terdapat dalam buku #ManusiaApaRobot yang saya tulis. Dalam buku ini terdapat 18 tulisan yang telah disusun dengan seksama dan ditulis dengan bahasa yang ringan demi membantu teman-teman meninjau ulang pemahaman kita tentang kebahagiaan, serta tips-tips yang mudah diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Akhir kata, semoga teman-teman menemukan tulisan saya ini menyenangkan dan menarik. Beberapa ide mungkin terdengar asing dan bertentangan dengan apa yang selama ini teman-teman percaya. Oleh karena itu, bacalah buku ini dengan situasi rileks dan tenang.

Ketenangan dan suasana santai akan membantu tubrukan ide tersebut tidak berdampak negatif, malah membangun sebuah pemahaman baru yang lebih holistik. Dan semoga tulisan-tulisan opini saya dalam buku ini dapat memberikan teman-teman sebuah insight dan inspirasi.

Manusia Apa Robot? karya William Budiman

Dapatkan panduan mendapat kebahagiaan yang bertahan lama hanya dengan Rp50.000,- (versi cetak)

Buku ini dapat ditemukan di Toko Buku Gramedia dan Toko Buku Gunung Agung di daerah Jabodetabek. Untuk yang berada di luar Jabodetabek dan ingin mendapatkan buku ini, pemesanan dapat dilakukan dengan mengisi form di bawah.

Versi elektronik (ebook) dapat dibeli melalui : http://www.wayang.co.id/index.php/toko/detail/18568

Selamat bersantai dan membaca.

Kastena Boshi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s