Anti-Intelektualisme Adalah Kanker Dalam Masyarakat Indonesia

Pernahkah Anda merasa ada sesuatu yang sangat salah ketika membaca status-status di sosial media Anda atau membaca komentar-komentar di berita online?

Saya pernah.

Pernahkan Anda merasa bingung, miris, kesal, sedih (atau semuanya dicampur jadi satu), ketika melihat teman atau saudara kita sangat percaya dengan berita atau artikel hoax dari situs abal-abal di sosial media, lalu ia menyebarkan informasi tersebut dengan bangga dan ditambahkan kata-kata persuasif agresif seperti layaknya sales yang dikejar target?

Saya pernah.

Pernah berdebat mengenai sebuah topik di sosial media dengan seseorang yang justru lebih tertarik mengatai/menghina/melabel kita dibandingkan isi dari argumen yang sedang didebatkan?

Saya pernah.

Teman-teman, tiga hal di atas adalah sedikit dari ciri-ciri dari sebuah fenomena yang kita sebut sebagai anti-intelektualisme. Anti-intelektualisme adalah sebuah pandangan, pemikiran, sikap dan tindakan yang berseberangan, meremehkan, ataupun menolak ide-ide, teori, kajian-kajian yang menggunakan pendekatan keilmuan (ilmiah). Secara sederhana, anti-intelektualime adalah pandangan, dan tindakan yang jauh dari pendekatan intelektual.

Fenomena Anti-Intelektualisme

Fenomena Anti-Intelektualisme

Fenomena anti-intelektualisme ini tidak dapat kita abaikan dan kita remehkan begitu saja, karena dapat berdampak besar dalam persatuan bangsa dan negara kita. Anti-intelektualisme adalah kanker yang ada dalam bangsa kita, berlipat ganda pertumbuhannya atas bantuan sosial media, dan mulai merobek persatuan masyarakat kita.

Read More

Mengkhianati Esensi Agama Demi Membela Agama

Saya bukan seorang ahli agama, saya bukan pemuka agama, saya hanyalah seorang penganut agama yang tergelitik dan berefleksi atas apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Tulisan ini sama sekali tidak diperuntukkan untuk salah satu pihak agama tertentu, bukan masalah politik dan pilkada. Tulisan ini muncul akibat keresahan saya melihat demo kemarin dari TV ataupun rekaman video yang tersebar di sosmed, yang merekam ujaran-ujaran kebencian sampai pembunuhan untuk Ahok. Kok seram ya. Sebenarnya, kondisi serupa juga terjadi untuk agama lain di luar negeri, misal bhiksu di Myanmar yang membantai kaum muslim Rohingya, dsb.

“Kok agama jadi seseram itu, ya?” itu alasan tulisan ini keluar.

Agama bagi saya adalah sebuah petunjuk atau pegangan hidup bagi kita manusia agar kita mampu hidup yang harmonis, damai, penuh kasih sayang dan bermoral. Tentunya agama ini kita yakini adalah sebuah perintah/firman Tuhan yang diberikan melalui seorang nabi (messenger of God) dengan berbagai macam panggilan kita untukNya sesuai dengan agama keyakinan kita. Perkataan-perkataan dan kisah kebijaksanaan dari para nabi tersebut dituliskan dalam sebuah kitab suci yang kemudian menjadi pegangan kita dalam beragama sampai saat ini. Kemudian seiringnya berjalan waktu dan perkembangan yang terjadi dalam penyebaran agama, maka agama perlahan-lahan mulai mengembangkan atribut-atribut keagamaan yang membuat agama tersebut menjadi unik dan dapat dikenali oleh masyarakat. Atribut dapat berupa sebuah ritual cara beribadah, cara berpakaian, komunitas, logo, dsb. Atribut agama, biasa dipengaruhi secara kental oleh adat budaya di mana agama tersebut berkembang, oleh karenanya atribut agama bahkan dari agama yang sama bisa berbeda di lokasi yang berbeda.

Read More

Memaknai Rasa Kebangsaan

Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tahun ini, kita disuguhi 2 buah peristiwa yang menarik. Peristiwa tersebut memberi perayaan 17 Agustus 2016 sebuah warna yang berbeda. Peristiwa pertama adalah kejadian menteri ESDM yang diberhentikan dengan hormat karena ternyata memiliki 2 kewarganegaraan. Peristiwa kedua adalah kejadian seorang siswi SMA bernama Gloria Natapradja, yang berhasil melewati seleksi ketat dan berlatih selama berbulan-bulan untuk menjadi seorang anggota paskibraka pada upacara bendera di Istana Negara, yang pada akhirnya “dikeluarkan” karena ia ternyata dinyatakan sebagai seorang Warga Negara Asing (WNA) bukan Warga Negara Indonesia (WNI), sebab ayahnya berwarga negara Perancis dan ia memegang paspor negara Perancis.

Potongan berita diambil dari Kompas

Potongan berita diambil dari Kompas

Read More

Ujian Bagi Persatuan Indonesia

Saat kita tahu ada seorang suami berselingkuh, itu bukan artinya suami saya pasti berselingkuh. Saat kita dengar ada seorang istri yang membunuh suaminya sendiri, kita sadar istri kita juga bukan artinya pembunuh.

Kita juga sadar adalah sebuah kesalahan ketika kita menuding dan menghukum suami/istri kita sendiri atas perbuatan salah yang dilakukan oleh suami/istri keluarga lain. Karena ketika menuding dan menghukum anggota keluarga kita atas hal yang dia tidak dia perbuat (tapi diperbuat oleh orang lain di keluarga mereka sendiri), maka perpecahan akan terjadi. Kerukunan terganggu.

Bahkan kita seharusnya bersyukur karena punya suami/istri yang lebih baik dari suami/istri keluarga lain tersebut. Berkaca dari kejadian keluarga lain untuk saling berdiskusi agar tercegah kejadian tersebut di keluarga kita.

Keluarga kita adalah keluarga kita. Keluarga orang lain bukanlah keluarga kita. Read More

Optimisme vs Harapan

Salah satu pemahaman baru yang saya dapat dari pertemuan komunitas Positif Psikologi beberapa hari yang lalu yaitu harapan dan optimisme itu berbeda. Sadarkah teman-teman kalau seseorang bisa berharap tapi tidak optimis. Memiliki harapan akan perubahan tapi tidak percaya/optimis bahwa apapun yang dilakukan dapat membawa perubahan.

Mungkin itu juga sebabnya banyak orang yang setelah “jatuh” dan mengalami kesulitan-kesulitan, ia tetap dapat bertahan, tetapi tidak melakukan banyak hal yang dapat mengubah kondisi hidupnya untuk menjadi lebih baik. Hal itu disebabkan karena orang tersebut tidak optimis bahwa tindakannya akan berdampak.

Contoh sederhana lain, cowok/cewek tertarik sama seseorang. Jatuh cinta. Berharap dia jadi miliknya. Memiliki harapan itu. Setiap hari membayangkan kegiatan yang akan dilakukan sama dia ketika sudah jadi pasangannya. Membayangkan emosi yang muncul kalau jadi pacarnya. Tapi ga pernah menyatakan perasaan atau melakukan sesuatu untuk bisa semakin dekat. Karena takut dan ga percaya atau ga optimis kalau tindakannya bakal berhasil mencapai harapannya.

Harapan bersifat pasif. Optimisme bersifat aktif.
Harapan membuat kita bertahan. Optimisme mendorong kita maju.

Siapakah kita?
Kita orang yang hanya penuh harapan atau orang yang optimis?

Kastena boshi

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 11,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Belajar Berdamai Dengan Trauma Masa Lalu Dari Film The Babadook

[Artikel ini sebelumnya telah dipublikasi di majalah Cinemags dalam rubrik CineTherapy]

The-Babadook-Poster

“The Scariest monsters are the ones that lurk within our souls” – Edgar Allan Poe

Film horor asal Australia ini menceritakan kisah seorang wanita bernama Amelia, seorang single parent dari Samuel, anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun. Suami Amelia meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil yang terjadi ketika sedang mengantarkan Amelia untuk bersalin. Amelia selamat dan sejak itu ia harus membesarkan Samuel seorang diri. Selama 7 tahun, Amelia berusaha menjadi orangtua yang baik bagi Samuel, walaupun Amelia sebenarnya belum benar-benar selesai bersedih atas kematian suaminya. Hal ini menjadi semakin sulit bagi Amelia karena Samuel tumbuh menjadi anak yang bermasalah. Read More

Pixar Inside Out : Mengatasi Kehilangan Dan Depresi

Pixar Inside Out adalah sebuah film yang luar biasa dari kacamata saya sebagai seorang praktisi di bidang kesehatan psikologis, karena film ini memberikan sebuah penjelasan yang sederhana dan gamplang mengenai kecerdasan emosi. Namun bila kita melihat lebih jauh dan teliti, film Inside Out menunjukkan kepada kita bagaimana seseorang mengalami kehilangan dan depresi, serta bagaimana cara sembuh dari luka tersebut. Saya telah membahas mengenai pembelajaran sederhana mengenai kecerdasan emosi / EQ pada tulisan saya sebelum ini. Sekarang saatnya kita belajar bersama mengenai pelajaran lain yang disuguhkan di film ini, yaitu bagaimana mengatasi sebuah kehilangan dan depresi.

1ca03764e1621ede59125c2eb8c23128 Read More

5 Pelajaran EQ Sederhana dari Film Inside Out

INSIDE-OUT

Saya selalu suka dengan film animasi Pixar melebihi film animasi dari produksi studio lainnya. Mengapa? Karena Pixar mampu menyuguhkan sebuah cerita animasi yang menarik, lucu, menyentuh, dan penuh dengan pelajaran hidup bagi anak kecil maupun dewasa. Anak yang menonton mampu terhibur, orangtua dan dewasa yang menonton mampu tersentil melalui pembelajaran yang disuguhkan dalam sebuah kisah yang menarik. Dan kecintaan saya terhadap film Pixar semakin menjadi-jadi setelah keluarnya film terbaru mereka, yaitu Inside Out!

Saya adalah seorang trainer yang bergerak di bidang kesehatan psikologis, sehingga saya sangat sering berbicara dengan kecerdasan emosi, karena salah satu ciri mereka yang mampu sehat secara psikologis adalah mereka yang pintar dalam mengelola emosi. Dan Pixar melalui film Inside Out membantu saya dalam tugas saya. Pertama, film ini membangun kesadaran seberapa pentingnya emosi dalam hidup seseorang. Kedua, Inside Out menggambarkan secara sederhana cara kerja emosi, yang memungkin saya meminjam film tersebut untuk menjelaskan kecerdasan emosi kepada banyak orang.

Untuk poin kedua di atas, mari kita melihat beberapa pelajaran mengenai kecerdasan emosi yang diberikan oleh film ini. Memang film ini dapat dibedah secara mendalam, tetapi pada kesempatan ini mari kita pelajari 5 hal sederhana saja.
Read More

Kalau Uang Tidak Bikin Bahagia, Mungkin Cara Belanjanya Salah!

Dari zaman dulu, zaman pra sejarah, manusia awal-awal sudah memahami sebuah kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Kemampuan manusia untuk memproduksi kebutuhannya tidak mampu mengimbangi jumlah kebutuhan dirinya sendiri. Oleh karena itu, manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun pada masa itu, manusia belum bisa membeli kebutuhannya dari orang lain, karena uang belum diciptakan oleh manusia. Uang baru diciptakan manusia sekitar 3000 tahun yang lalu, atau tepatnya 1100 SM (Sebelum Masehi).

Jadi yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan melakukan barter. Barter adalah kegiatan tukar-menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa perantaraan uang. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Akibatnya barter, yaitu barang ditukar dengan barang. Pada masa ini timbul benda-benda yang selalu dipakai dalam pertukaran. Kesulitan yang dialami oleh manusia dalam barter adalah kesulitan mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Jadi barter sangat tidak efisien. Read More