Memaknai Rasa Kebangsaan

Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tahun ini, kita disuguhi 2 buah peristiwa yang menarik. Peristiwa tersebut memberi perayaan 17 Agustus 2016 sebuah warna yang berbeda. Peristiwa pertama adalah kejadian menteri ESDM yang diberhentikan dengan hormat karena ternyata memiliki 2 kewarganegaraan. Peristiwa kedua adalah kejadian seorang siswi SMA bernama Gloria Natapradja, yang berhasil melewati seleksi ketat dan berlatih selama berbulan-bulan untuk menjadi seorang anggota paskibraka pada upacara bendera di Istana Negara, yang pada akhirnya “dikeluarkan” karena ia ternyata dinyatakan sebagai seorang Warga Negara Asing (WNA) bukan Warga Negara Indonesia (WNI), sebab ayahnya berwarga negara Perancis dan ia memegang paspor negara Perancis.

Potongan berita diambil dari Kompas

Potongan berita diambil dari Kompas

Dua peristiwa di atas hanya dua buah contoh dari orang-orang yang ingin mengabdi pada Negara Indonesia, tetapi terhalang karena masalah kewarganegaraan. Dan yang lebih menyedihkan adalah banyak masyarakat kita bukan menghargai niatnya, malah berkomentar negatif. Dalam kesempatan ini, saya tidak berniat (berminat saja tidak) untuk mendebat dan membahas dari sisi ketentuan UU ataupun peraturan lainnya. Saya lebih tertarik melihat kejadian ini dari sisi dari bagaimana kita memaknai sebuah nasionalisme dan kebangsaan.

Semakin sering saya melihat status-status di sosial media dan komentar-komentar di portal berita elektronik, semakin saya menyadari satu hal, yaitu ternyata banyak dari kita yang melihat kebangsaan adalah sebagai satu hal yang terberi dan terpatok lokasi. Ketika saya lahir di negara Indonesia, hidup di Indonesia, dan sejarah leluhur saya semua adalah kelahiran di Indonesia, maka saya adalah bangsa Indonesia! Sisanya adalah pendatang, tamu, yang rasa nasionalismenya dipertanyakan, bahkan perlu dicurigai motifnya tinggal dan hidup di tanah air kita yang indah ini.

Apakah kebangsaan hanya dapat dilihat seperti itu? Bagi saya jawabannya tidak.

Jika rasa kebangsaan hanya dilihat dari hal tersebut, maka rasanya rasa kebangsaan dan nasionalisme itu menjadi sesuatu yang sangat sempit. Rasa kebangsaan dan nasionalisme menurut saya tidak dapat ditempelkan dengan sesuatu yang terberi, seperti etnis, keluarga dan negara tempat kita dilahirkan. Bagi saya, rasa kebangsaan dan nasionalisme merupakan sebuah rasa, sebuah niat yang kemudian terpancarkan melalui perbuatan dan karya yang memberi manfaat bagi negara dan bangsa.

Biar lebih jelas maksud saya, mari kita sejenak bermain sebuah permainan kecil yang saya sebut “SIAPA YANG LEBIH NASIONALIS DAN PUNYA RASA BERKEBANGSAAN?”

Ada 2 orang :

  1. Seorang remaja SMA yang punya orangtua-kakek buyut semua keturunan Indonesia, lahir juga di Indonesia, tapi lebih senang menggunakan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Selalu membandingkan Indonesia dengan negara lain, dan kebetulan Negara Indonesia selalu kalah. Upacara bendera juga selalu malas-malasan dan ketika upacara sikapnya tidak penuh dengan rasa hormat.
  2. Seorang remaja SMA, punya darah keturunan dari warga negara asing, lahir di luar negeri dan tinggal di sana selama beberapa tahun. Pindah tinggal di Indonesia. Walau fasih berbahasa asing, memilih untuk berbicara bahasa Indonesia. Suka dengan sejarah bangsa Indonesia. Dan sangat hormat ketika upacara bendera. Mengajukan diri untuk menjadi bagian dari petugas upacara dan berlatih dengan sungguh untuk itu. (ini bukan si Gloria.)

Siapa yang lebih punya rasa kebangsaan?

Ada 2 orang :

  1. Seorang warga negara Indonesia 100% asli, dari jaman batu sampai jaman internet sehat, seluruh keluarga berdarah murni, tidak kecampur. Dari sekolah malas, pas lulus sekolah, karyanya juga seadanya. Buang sampah sembarangan, seluruh peraturan lalu lintas dilanggar, pajak tidak pernah dibayar (masa bayar ke negara? Negara dong yang harusnya biayain rakyat kecil!). Di sosial media kerjaannya buat rusuh dan provokasi, jadi pada benci-bencian dan perang komentar antara satu golongan dengan golongan lainnya.
  2. Warga Negara Indonesia yang sah. Semua surat administrasi lengkap. Sayang darahnya kurang murni. Kakeknya dulu pendatang dari negara lain. Selama sekolah rajin, lulus sekolah karyanya banyak dan menginsipirasi banyak orang. Walau muka tidak nyambung dengan kebanyakan orang di sekitar, tetapi selalu dengan bangga mengatakan bahwa dia adalah Bangsa Indonesia! Tidak buang sampah sembarangan, taat aturan, bayar pajak dengan kesadaran sendiri, berusaha mendukung kebijakan pemerintah yang ada. Di sosial media, dia sibuk berkomentar mengenai persatuan Indonesia demi meredakan keributan yang diakibatkan oleh berita yang dipelintir oleh media dan komentar provokasi dari orang yang di atas.

Siapa yang lebih punya rasa kebangsaan?

Terakhir.

Ada 2 orang :

  1. Kelahiran Indonesia. Keturunan Indonesia. Lahir dan tinggal di Indonesia. Tidak bangga dengan keragaman etnis dan budaya negara kita. Tidak menghargai (apalagi menghidupi) dasar negara Pancasila, bahkan mau diganti dengan falsafah lainnya. Hidup dengan gaya hidup budaya bangsa lain, lalu menjelekkan budaya sendiri. Ingin menjadikan Indonesia menjadi seperti negara lain, dan seringkali membuat suasana di lingkungannya tidak kondusif dengan sikapnya yang intoleran.
  2. Warga negara asing. Pindah dan tinggal di Indonesia. Jatuh cinta dengan budaya Indonesia. Beradaptasi dengan budaya dan falsafah negara Indonesia. Menikah dan memutuskan saatnya menjadikan Indonesia sebuah negara yang bisa dipanggilnya sebagai rumah. Berusaha dengan kemampuannya untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya Indonesia keluar negeri.

Siapa yang lebih punya rasa kebangsaan?

Nasionalisme

Di dunia yang memungkinkan perjalanan antar negara menjadi sangat mudah dan cepat. Perusahaan multinasional yang semakin banyak yang memungkinkan banyak orang harus bekerja di negara lain. Internet yang membuat batas negara menjadi hilang. Maka rasa kebangsaan dan nasionalisme tidak dapat lagi dikekang dengan batasan teritorial. Rasa kebangsaan dan nasionalisme tidak dapat lagi hanya dikaitkan dengan status terberi, di mana orang-orang tidak mempunyai kemampuan untuk memilih. Sebagian dari kita beruntung untuk terlahir di Indonesia, mempunyai silsilah keturunan Indonesia dan secara otomatis menjadi warga negara Indonesia. Status tersebut adalah sebuah hak istimewa, tetapi tidak serta merta menunjukkan rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi.

Rasa kebangsaan dan nasionalisme adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih untuk memiliki itu atau tidak. Rasa kebangsaan dan nasionalisme terpancarkan dari perilaku nyata, kontribusi dan karya untuk negara, bukannya cuma pernyataan yang kita keluarkan sendiri kalau kita cinta bangsa dan berjiwa nasionalisme. Bangga terhadap negara kita dengan segala kekuatan dan kelemahannya dibanding dengan negara lain. Mengakui dan mengikuti dasar negara kita Pancasila dan menjaganya dengan baik. Mencintai budayanya dan mengakui perbedaan. Berkontribusi untuk negara dalam bentuk nyata sekecil apapun, misal berkomentarlah di sosial media agar terjaga persatuan Indonesia, bukannya nyinyir terus kerjaannya.

Potongan cuplikan berita ini diambil dari Tribunnews

Potongan cuplikan berita ini diambil dari Tribunnews

Bangsa sedang bergerak dan berkembang untuk menjadi negara yang besar di dunia. Untuk itu dibutuhkan kontribusi nyata dari setiap anak bangsa untuk mendukung hal tersebut. Hanya dengan kontribusi nyata dari seluruh rakyatnyalah, negara kita akan bergerak maju. Kalau rakyatnya sibuk berperang sendiri demi menunjukkan siapa yang lebih nasionalis, siapa yang lebih bangsa Indonesia, siapa yang cuma tamu di negara ini, dan sebagainya, maka jalannya negara akan terhambat.

Berprestasi nyata membanggakan Indonesia

Tontowi/Liliyana berprestasi nyata membanggakan Indonesia di Olimpiade Rio 2016

Maka berkontribusilah. Kalau masih bingung mau kontribusi apa, paling tidak jagalah kesatuan Indonesia sementara Anda mencari keahlian yang bisa dikontribusikan.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Kastena Boshi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s