Mengkhianati Esensi Agama Demi Membela Agama

Saya bukan seorang ahli agama, saya bukan pemuka agama, saya hanyalah seorang penganut agama yang tergelitik dan berefleksi atas apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Tulisan ini sama sekali tidak diperuntukkan untuk salah satu pihak agama tertentu, bukan masalah politik dan pilkada. Tulisan ini muncul akibat keresahan saya melihat demo kemarin dari TV ataupun rekaman video yang tersebar di sosmed, yang merekam ujaran-ujaran kebencian sampai pembunuhan untuk Ahok. Kok seram ya. Sebenarnya, kondisi serupa juga terjadi untuk agama lain di luar negeri, misal bhiksu di Myanmar yang membantai kaum muslim Rohingya, dsb.

“Kok agama jadi seseram itu, ya?” itu alasan tulisan ini keluar.

Agama bagi saya adalah sebuah petunjuk atau pegangan hidup bagi kita manusia agar kita mampu hidup yang harmonis, damai, penuh kasih sayang dan bermoral. Tentunya agama ini kita yakini adalah sebuah perintah/firman Tuhan yang diberikan melalui seorang nabi (messenger of God) dengan berbagai macam panggilan kita untukNya sesuai dengan agama keyakinan kita. Perkataan-perkataan dan kisah kebijaksanaan dari para nabi tersebut dituliskan dalam sebuah kitab suci yang kemudian menjadi pegangan kita dalam beragama sampai saat ini. Kemudian seiringnya berjalan waktu dan perkembangan yang terjadi dalam penyebaran agama, maka agama perlahan-lahan mulai mengembangkan atribut-atribut keagamaan yang membuat agama tersebut menjadi unik dan dapat dikenali oleh masyarakat. Atribut dapat berupa sebuah ritual cara beribadah, cara berpakaian, komunitas, logo, dsb. Atribut agama, biasa dipengaruhi secara kental oleh adat budaya di mana agama tersebut berkembang, oleh karenanya atribut agama bahkan dari agama yang sama bisa berbeda di lokasi yang berbeda.

Jadi, bagi saya, agama dapat dipecah dalam 3 hal :3-lingkaran-agama

  1. inti / esensi ajaran agama, yang berisikan pesan universal untuk membuat kita harmonis, damai, penuh cinta kasih dan bermoral.
  2. medium ajaran agama, yaitu kitab suci agama.
  3. atribut agama, seperti ritual, cara berpakaian, dsb.

Kejadian-kejadian yang menimbulkan gejolak di Indonesia belakangan ini membuat saya berpikir, dan kemudian ketika saya berusaha memperhatikan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan agama di dunia memiliki banyak kesamaan, yaitu pembelaan umat beragama membela agama dalam tingkat medium dan atribut, tetapi mengkhianati esensi dari ajaran agamanya tersebut.

Saya yang tumbuh besar aktif dalam organisasi di sekolah dan kuliah, sangat memahami bahwa atribut organisasi sangat berperan besar dalam “mengikat” kesetiaan dan kebanggan dalam berorganisasi. Atribut organisasi dapat membuat organisasi tersebut melebur dalam identitas diri saya. Itu hanya organisasi biasa, apalagi agama. Agama seringkali sudah menyentuh tempat terdalam dari diri kita, sudah melebur menyatu sebagai bagian dari identitas diri kita. Maka satu saja atribut agama kita terusik, maka diri kita terlukai.

Maka bagi saya sangat wajar ketika seseorang menjadi sangat terluka, dan marah ketika atribut-atribut / medium agamanya dihina. Itu adalah kewajaran. Saya juga akan begitu. Saya pasti akan merasa terluka ketika melihat atribut agama saya dilecehkan.

Ironi baru terjadi selanjutnya ketika orang yang terluka akibat atribut agamanya dilecehkan mengambil tindakan. Saya membaca banyak sekali berita kejadian dalam dan luar negeri, lintas agama, bahwa ketika demi membela agamanya, orang-orang cenderung melupakan inti ajaran agamanya.

Saya cukup yakin, bahwa setiap agama mengajarkan kita untuk damai dan harmonis, mengajarkan kita untuk mengasihi orang lain bahkan yang menjahati kita, kita diajarkan untuk mengampuni, mengajarkan kebaikan hati. Namun dalam upaya-upaya pembelaan agama, saya melihat kebencian yang diumbar, dendam yang disimpan, ketiadaan pengampunan, menyakiti dengan kekerasan sampai dengan pembunuhan pun dihalalkan.

Ketika kita membela agama dengan cara seperti itu, rasanya kita telah mengkhianati inti dari ajaran agama kita.

Dan ketika kita kita mengkhianati inti ajaran agama yang kita bela mati-matian tersebut, rasanya pada saat itu kita menghina agama kita, nabi kita, dan Tuhan kita lebih dari orang yang menghina atribut agama kita.

Saya rasa membela agama paling baik adalah berusaha sebaik-baiknya tidak mengkhianati inti ajaran agama yang kita yakini. Saya percaya akan ada hukuman yang datang langsung dari Tuhan bagi penista agama kita pada waktu yang Tuhan tentukan sendiri.

sikap-toleransi-dalam-perbedaan-beragama-57d9360dda9373624a997f08

Menjaga kedamaian dan keharmonisan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa adalah cara kita membela agama.

Saya berdoa Indonesia akan terus menjadi damai dan harmonis berkat andil dari kita masyarakat Indonesia yang Berketuhanan tetapi beragam keyakinan agama.

Kastena boshi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s