Ayah, Anak & Keledai

Ada sepasang ayah dan anak yang sedang berjalan menarik keledai milik mereka. Mereka berniat untuk menjual keledai ini di kota. Saat awal perjalanan dari rumah menuju kota, sang ayah dan anak berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Sampai tak berapa lama, ada orang yang berkata kepada ayah dan anak ini, “Kalian bodoh sekali, kalian berdua menuntun keledai yang seharusnya bisa mengangkut salah satu dari kalian!”

Mendengar orang berkata seperti itu, sang ayah menyuruh sang anak duduk di atas keledai tersebut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka berjalan, mereka berjalan berpapasan dengan satu orang kembali. Orang tersebut tiba-tiba berkata, “Dasar anak tidak berbakti! Orangtua yang sudah tua disuruh berjalan kaki, tetapi sendirinya malah enak-enakan duduk santai di atas keledai!”

Mendengar komentar seperti itu, sang ayah dan anak pun segera berganti posisi. Sekarang sang ayah yang duduk di atas keledai dan sang anak yang berjalan kaki menuntun keledai. Tak berapa lama kemudian, kembali mereka berpapasan dengan orang lain di jalan. Orang tersebut berkomentar, “Dasar orangtua tidak sayang anak! Anak sudah terlihat kelelahan berjalan, bukannya disuruh duduk di atas keledai malah dirinya sendiri yang enak-enakan duduk di atas keledai!”

Segera setelah mendengar komentar tersebut, sang ayah menyuruh anaknya ikut naik menunggang keledai. Sehingga sekarang kedua sang ayah dan anak tersebut sama-sama duduk menunggangi keledai. Kembali setelah tak lama berjalan, terdengar komentar dari orang lain, “Kalian lihat keledai yang malang tersebut. Bagaimana kalian bisa membiarkan keledai tersebut mengangkut kalian berdua. Kalian berdua mungkin lebih mudah mengangkat keledai ini daripada keledai ini mengangkut kalian berdua!”

Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengikat kaki keledai mereka di sebuah tongkat panjang, kemudian sang ayah dan anak memanggul keledai tersebut di pundak mereka. Semakin dekat mereka berjalan menuju kota, semakin banyak orang yang merasa aneh melihat pemandangan seekor keledai dipanggul oleh ayah dan anak ini. Banyak orang mulai penasaran dan mulai berbondong-bondong datang berdiri melihat dari dekat ayah dan anak ini. Karena banyak orang di sekeliling, keledai menjadi takut dan mulai meronta-ronta. Saat mereka melewati jembatan, keledai ini meronta dengan sangat hebat dan akhirnya terlepas dari ikatannya, lalu terjatuh ke sungai dan mati tenggelam. Read More

Belajar Menjadi Bangsa Besar

September 2010 saya berangkat ke Xiamen, China. Saya mendapatkan beasiswa penuh 2 semester untuk jurusan bahasa dari pemerintah China. Sampai saat ini masa saya tinggal di negeri tirai bambu tersebut masih saya anggap sebagai salah satu masa paling membahagiakan dalam hidup saya. Belajar bahasa mandarin, belajar kebudayaan baru, berteman dengan sesama pelajar dari berbagai negara, travel ke beberapa kota di China secara spontan menggunakan kereta api. Tanpa terasa 1 tahun lewat sekejap mata. Padahal masih segar dalam ingatan saya, bagaimana pada bulan September awal tahun lalu, keluarga dan teman terdekat mengantar saya sampai ke Bandara Soekarno-Hatta. Mengantar kepergian saya ke China. Sekarang saya kembali ke Jakarta, Indonesia. Akhirnya saya bisa membayar lunas kerinduan saya makan gado-gado, nasi uduk, nasi kuning, sayur lodeh, minum es cendol, dan sebagainya. Selama saya di China, saya menyadari bahwa negara kita beserta rakyatnya, masih perlu banyak belajar dari negara lain. China hanyalah negara yang “muda” jika dibandingkan Indonesia. China baru berumur 30 tahun sejak berdiri sebagai Republik, sedangkan Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun. Jika ingin kita personifikasikan, negara China hanyalah seorang pria dewasa yang bahkan belum terhitung separuh baya. Sedangkan Indonesia adalah seorang kakek berumur 66 tahun. Namun sangat disayangkan sekali perkembangan pembangunan di Indonesia harus kita akui kalah jauh dibanding dengan negara panda ini. Saya menulis ini bukan hendak membanding-bandingkan Indonesia, apalagi menjelek-jelekan Indonesia. Saya mencintai negara Indonesia. Namun untuk bisa maju sebagai sebuah bangsa, saya yakin bahwa kita harus bisa mengakui dan menerima kenyataan bahwa negara kita masih banyak hal yang harus diperbaiki. Belajar dari kelebihan negara lain menjadi salah satu cara tepat untuk dilakukan. Saya yakin banyak dari kita yang juga mempunyai pendapat yang sama. Tetapi saya mempunyai sedikit pandangan berbeda. Belajar dari negara dan bangsa lain tidak akan berguna apabila hanya pemerintahnya saja yang dituntut untuk belajar. Justru yang harus banyak belajar adalah kita, rakyat Indonesia secara keseluruhan. bangsa besar Sebelum beasiswa ini, saya juga pernah pergi ke belajar bahasa mandarin selama 1 bulan saat libur sekolah di Beijing pada tahun 1999. Saat itu usia saya adalah 14 tahun. Saat saya pergi tersebut saya melihat Beijing (Ibukota China) lebih buruk, lebih tertinggal dan lebih berantakan dibandingkan Jakarta. Sekarang, 12 tahun kemudian, kota tempat saya belajar yaitu Xiamen bahkan jauh lebih bagus, lebih tertata, lebih maju dan lebih bersih dibandingkan Jakarta. Xiamen adalah kota kecil seperti Batam. Sedangkan Jakarta adalah Ibukota, di mana merupakan kota terbesar dan termaju di di Indonesia. Kota terbesar di Indonesia kalah maju, kalah bersih dan kalah rapih dibandingkan kota kecil di China. Terus terang saya sempat berasa malu ketika pertama kali di Xiamen dan memikirkan kembali kota Jakarta. Sejak 14 tahun lalu sampai hari ini, kondisi Jakarta masih tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali jumlah Mall dan Seven Eleven. Sedangkan kondisi angkutan umum di Jakarta tidak ada perubahan yang signifikan. Kedisiplinan masyarakat Jakarta masih sama saja; tidak ada perubahan. Jalanan di Jakarta masih sangat semerawut dengan segala pelanggaran lalu lintasnya. Dalam waktu 14 tahun, Jakarta seperti “gerak jalan”, namun China dalam 14 tahun seperti “berlari kesetanan”. Demi teman-teman mampu membayangkan kemajuan China, mari saya tuliskan beberapa kemajuan tersebut. Read More

3 Things

3 hal dalam hidup yang tak pernah kembali

  1. Waktu
  2. Perkataan
  3. Kesempatan

Teman-teman, kita tak akan pernah bisa memutar kembali waktu. Tapi kita bisa menciptakan kenangan dengan waktu yang masih kita punya. Manfaatkanlah waktu yang ada, walau waktu hidup kita hanya “sekejap mata”, untuk menciptakan kenangan yang berarti. Kenangan yang manis bagi diri kita dan orang-orang lain di sekitar kita. Kenangan manis yang selalu bisa dikenang bukan hanya oleh diri kita, tetapi oleh orang-orang yang hidup setelah masa hidup kita telah berlalu.

Time is free but it’s priceless, you can’t own it but you can use it. You can’t keep it but you can spend it.

Kita tak akan pernah bisa menarik ucapan yang telah kita keluarkan. Perkataan kasar yang keluar dari mulut kita tidak akan pernah dapat kita tarik kembali hanya dengan sebuah ucapan “maaf“. Kita tak akan pernah dapat menghapus lubang di hati orang lain akibat dari apa yang telah kita katakan hingga membuat orang lain marah, terluka atau menangis. Lubang itu akan selamanya berada di sana, di hati teman-teman atau orang yang kita kasihi. Read More

Never Never Never Lose Hope

Alkisah dahulu kala di China, di daerah dekat perbatasan dengan negara lain, hiduplah seorang kakek tua. Kakek ini hidup dengan putranya. Suatu hari saat sedang membawa kudanya pergi makan ke padang rumput, sang putra tanpa sengaja membiarkan kudanya terlepas dan lari ke daerah negara lain. Mendengar kabar ini, para tetangga datang ke rumah sang kakek untuk menghibur beliau. Tanpa diduga, sang kakek malah berkata kepada para tetangganya, “saya memang kehilangan kuda, tapi belum tentu ini adalah sebuah kesialan atau hal buruk.” Mendengar perkataan sang kakek, seluruh tetangga yang datang menjadi bingung dan pulang.

Beberapa bulan kemudian, saat sang putra keluar dari rumah, tiba-tiba ia melihat kudanya kembali sendiri. Tanpa tanggung-tanggung kudanya ini membawa satu kuda lain. Sehingga saat ini sang kakek bukan hanya memiliki satu kuda, tetapi 2 kuda sekaligus. Seluruh penduduk kampung heboh mendengar kejadian ini. Para tetangga kemudian datang kembali ke rumah kakek untuk mengucapkan selamat atas keberuntungan ini. Tetapi sekali lagi sang kakek berkata kepada para tetangganya, “memang saya mendapat satu kuda baru, tapi hal ini belum tentu sebuah keberuntungan.” Tetangganya kembali bingung dengan pernyataan sang kakek.

Kuda baru yang dibawa oleh kuda lama mereka adalah kuda liar yang sangat baik kualitasnya. Oleh karena itu sang putra sangat senang dan sangat bersemangat untuk mencoba menunggang kuda baru tersebut. Saat sedang menunggang kuda baru tersebut, karena belum terbiasa dengan kuda ini dan kurang hati-hati, sang putra terjatuh. Tulang kakinya patah. Para tetangga mendengar kabar ini kembali ke rumah sang kakek untuk menghibur sang kakek. Tetapi sang kakek malah berkata, “memang kelihatannya kejadian ini sebuah hal buruk, tapi belum tentu ini sebuah kesialan.” Tetangganya semakin bingung mendengar hal ini. Bagaimana mungkin kaki sang anak patah bukan sebuah kesialan. Bagaimana hal ini bisa jadi sebuah keberuntungan?

Beberapa bulan kemudian, negara China berperang dengan negara tetangga. Berhubung desa sang kakek merupakan daerah perbatasan dengan negara tersebut, maka seluruh pria yang cukup dewasa dan bisa memanggul senjata diwajibkan untuk pergi berperang. Dan hampir seluruh pria yang pergi berperang tersebut meninggal di medan perang, kecuali putra sang kakek. Putra sang kakek kakinya pincang, sehingga tidak bisa pergi berperang. Oleh karena itu si putra diperbolehkan tinggal di rumah dan melewati hari dengan tenang dengan ayahnya.

[Sumber cerita : Chinese Proverb塞翁失马“ ] Read More

Friends and Enemies of Success

Di sebuah hutan hiduplah seorang pertapa. Pertapa ini dianggap sakti dan bijaksana oleh penduduk di sekitar hutan tersebut, oleh karena itu tidak jarang orang yang datang ke pertapa ini untuk meminta bantuan. Di desa tidak jauh dari hutan sang pertapa, hiduplah seorang pemuda. Dirinya cukup pemalas dan tidak mau bekerja keras, tapi dirinya ingin kaya. Oleh karena itu, pemuda ini memutuskan untuk mencari sang pertapa untuk meminta pertolongan. Setelah beberapa mencari lokasi pertapa ini, sang pemuda akhirnya bertemu dengan sang pertapa. Tanpa panjang lebar, sang pemuda langsung mengutarakan niatnya kepada sang pertapa. “Wahai pertapa bijaksana, saya ingin cepat kaya tanpa harus berusaha keras! Tolong bantu saya.” Lalu sang pertapa menjawab, “Hal ini mudah, kamu tinggal ke tebing dekat laut di seberang desa kamu. Cari sebuah batu yang ketika kamu pegang terasa hangat dan sangat halus. Jika kamu bisa menemukan batu ini, artinya kekayaan akan segera datang ke kamu. Pemuda ini menurut dan keesokan harinya ia langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh sang pertapa. Tempat tersebut ternyata sebuah tebing yang sangat besar dan banyak sekali batu. Pemuda ini langsung mulai mengambil satu batu dan memeriksa batu tersebut. Ternyata batu tersebut terasa dingin dan permukaannya kasar. Oleh karena itu bukan batu yang di maksud, maka ia melempar batu tersebut ke luar tebing, ke arah laut. Satu per satu pemuda ini memeriksa batu di sana, dari pagi hari sampai matahari tenggelam. Tetapi tidak ada satupun batu yang terasa hangat dan halus. Keesokan paginya ia kembali datang ke tempat tersebut dan melakukan kegiatan yang sama, tapi selalu dengan hasil yang sama. Semua batu yang dipegangnya selalu dingin dan kasar. Ia terus melakukan kegiatan ini hari demi hari, bahkan bulan demi bulan, dan selalu dengan hasil yang sama. Suatu hari, ia kembali datang ke tebing ini dan melakukan kegiatan yang sama. Setelah lewat berjam-jam di tebing tersebut, ia mengambil sebuah batu, dipegang sebentar di telapak tangan dan langsung dilempar ke laut. Tapi tiba-tiba dia jatuh berlutut, berteriak kencang dan mulai menangis. Ternyata batu yang dibuang tersebut adalah batu yang dicari-cari dirinya selama ini. Batu yang hangat dan halus. Tapi karena pemuda ini selama berbulan-bulan terbiasa mengambil batu, dipegang  sebentar dan langsung dilempar ke laut, tanpa terasa ketika batu yang dicari-cari telah ketemu, ia secara otomatis tetap membuang batu tersebut. Saat dirinya sadar, semuanya telah terlambat. Kebiasaan dirinya telah menyebabkan batu yang dicari-cari selama berbulan-bulan terbuang begitu saja. Read More

Life is Like a Cup of Coffee

Sekelompok alumni yang sudah sangat mapan dalam hal karir pekerjaan, memutuskan untuk berkunjung ke rumah dosen dari universitas mereka dulu. Perbincangan di antara mereka di awali dengan menceritakan kabar masing-masing, pengalaman menyenangkan semasa kuliah. Tetapi perlahan-lahan, topik pembicaraan mereka mulai mengarah pada keluhan-keluhan mereka akan stress pekerjaan dan hidup mereka.

Sementara para mahasiswanya sedang berdiskusi tentang keluhan-keluhan hidup, sang dosen menawarkan para tamunya ini kopi. Setelah semua tamunya setuju dengan tawarannya, sang dosen ini pergi ke dapur dan segera kembali ke ruang tamu dengan satu teko besar kopi dan beberapa macam cangkir. Cangkir ini ada yang terbuat dari plastik, porselin keramik, kaca, kristal, kayu, logam, dll. Beberapa dari cangkir tersebut terlihat murah, beberapa terlihat mahal, beberapa terlihat sederhana dan polos, beberapa terlihat sangat cantik dan anggun.

Sang dosen mengatakan kepada para tamunya untuk tanpa sungkan-sungkan melayani diri mereka sendiri. Lalu para alumni ini mulai satu per satu memilih dan mengambil cangkir, kemudian menuangkan kopi ke dalamnya. Setelah semua telah memilih cangkir dan menuangkan kopi ke dalamnya, sang dosen berkata : Read More

Small Things Big Difference

Suatu senja di sebuah tepi pantai, seorang kakek berjalan menyelusuri pantai sambil menikmati pemandangan laut di sore hari. Setelah berjalan beberapa saat, sang kakek melihat ada jejak kaki di pantai. Jejak kaki seorang anak. Ia kemudian menerawang ke depan berusaha mencari sosok pemilik jejak kaki tersebut. Terlihat di kejauhan seorang anak lelaki sedang berjalan pelan sepanjang pantai, sambil sesekali membungkuk lalu melempar sesuatu ke laut. Anak ini terus melakukan kegiatan tersebut berulang-ulang kali secara konsisten.

Didorong oleh rasa penasaran, sang kakek akhirnya mempercepat langkah kakinya demi mengejar sang anak tersebut. Akhirnya setelah beberapa lama berjalan, sang kakek berhasil mengejar anak tersebut. Ternyata anak tersebut selama ini sambil menyelusuri tepi pantai, sambil memungut bintang laut dan melemparkannya ke laut. Sang kakek semakin penasaran dan bertanya kepada si anak, “Nak, apa yang sedang kamu lakukan?”

Sang anak menoleh ke arah sang kakek, kemudian menjawab, “saya sedang menyelamatkan nyawa para bintang laut ini. Apabila mereka tidak saya tolong, maka mereka bisa meninggal karena kekeringan!”

Mendengar jawaban ini, sang kakek tertawa dan membalas, “nak, pantai begitu panjang dan bintang laut di sepanjang pantai ini begitu banyak! Tidak mungkin kamu sendiri bisa menolong sebegitu banyaknya bintang laut! Itu pekerjaan yang percuma dan hanya membuang tenaga! Kamu tidak mungkin seorang diri mampu membuat perbedaan yang besar!” Read More

简单的生活

每个人都想要很幸福很愉快的生活,但是只有一些人能享受那样的生活。对我来说,如果你要得到愉快的生活,关键是你先要过简单的生活。

简单的生活并不是等于过贫穷的日子,不让自己花钱,也并不是很轻松与没有目标的生活。简单的生活就是一直尽量地追求梦想,常常知足,常常感恩,跟我爱的人一起过宝贵时光。

为什么要追求梦想呢?因为我认为有梦想的生活才有意义。梦想让我们知道在生活中要做什么,要得到什么。梦想会使我们有精神去工作,去学习,因为我们知道这份工作不仅是一种习惯罢了,而且是为了实现自己的梦想。

追求梦想并不是追求财富而已,而是我们跟着我们的心所想的,做我们喜爱的工作。Steve Jobs,苹果公司的首席执行官说,“我们只有一次的生命,然后每个人肯定会死亡。于是我们没借口不要跟着我们的心。要勇敢听从我们的心意,因为它已经清楚地知道我们将来要当什么。”

有时候,当我们在努力地追求我们的梦想时,财富会往我们的方向过来。但是在生活中,财富不是最重要的事。我们不要陷入在金钱之中,把钱当作生活中最重要的事。我们一定知足。在我看来,知足是简单生活的核心。不要一直跟别人相比。他们有什么,我们也要什么。买不需要的东西或者买贵重的东西。为了不让别人看不起而欠债。这也不表示我们不可以买东西。可以是可以,不过要看自己的需要和能力,并不是为了别人的评价。

最后,我觉得最幸福的生活是我们能跟我们爱的人分享生活点滴,一起过很宝贵的时光。所以不管多么忙,我们也要抽时间跟他们联系。我们不需要去花费很贵的地方旅游才能算是过宝贵时间。只要你跟他们的时候不忽视他们,然后一起走简单的活动,比如一起做饭,谈话,或者逛街,就可以的。工作的时候要拼命地工作,但是工作完了后也要努力地跟爱的人去玩儿。

对我来说,如果我们有很大的梦想,努力地追求它,知足和跟爱的人过日子,那就可以算是我们在享受幸福和快乐的生活。希望朋友们能过简单和快乐的生活。

李权达

Manusia, Anak Tangga & Kunci

Ada sepasang kakak beradik. Mereka berdua tinggal di apartemen di lantai 80. Suatu hari saat mereka kembali ke rumah setelah berlibur, ternyata ada pemadaman listrik di gedung apartemen mereka selama 1 hari penuh. Walaupun mereka membawa satu tas punggung besar dan berat, mereka tidak punya pilihan lain selain naik tangga darurat untuk kembali ke apartemen mereka. Sang kakak berkata, “kita saat ini hanya bisa naik tangga kalau ingin pulang.” Akhirnya kakak beradik ini pun menuju tangga darurat dan mulai mendaki tangga satu per satu.

Awal pendakian, mereka masih penuh dengan tenaga dan  saling bercerita tentang liburan mereka. Bercanda dan tertawa. Namun sesampainya di lantai 20, mereka mulai kelelahan. Sang kakak kembali berkata, “wah, tas punggung kita terlalu berat! Bagaimana kalau kita tinggalkan saja tas kita disini, kemudian saat listrik sudah nyala kembali, kita baru kembali mengambil tas kita.” Sang adik pun setuju dengan ide tersebut. Mereka akhirnya menaruh tas mereka yang berat di lantai tersebut dan melanjutkan mendaki.

Mereka melanjutkan mendaki sambil tertawa-tawa dan bercanda. Sampai akhirnya di lantai 40, mereka benar-benar sudah merasa kelelahan. Mereka mulai frustasi karena walau mereka sudah kelelahan, ternyata mereka baru mendaki setengah jalan. Saat itu kakak beradik ini mulai saling menggerutu dan saling menyalahkan. Saling menunjuk mengapa tidak perhatian dan mengingat pengumuman tentang pemadaman listrik. Mereka sambil bertengkar sambil lanjut mendaki. Read More

Dream Big, Dream Right

Beberapa hari lalu, salah seorang junior saya di Fakultas Psikologi menulis tulisan yang bertema sama dengan saya. Ia juga menulis tentang pentingnya memiliki tujuan dalam hidup. Pentingnya bermimpi. [read :http://tesargusmawan.wordpress.com/2011/04/13/what-is-your-destiny/]. Di tulisannya dikatakan bahwa hidup kita seperti layaknya bermain puzzle. Kita selama hidup sampai nanti kita kembali ke sisiNya, terus menerus menyusun puzzle tersebut. Apabila hidup bagai bermain Puzzle, maka mimpi kita, tujuan hidup kita adalah sebuah gambar petunjuk Puzzle. Gambar akhir Puzzle tersebut yang dapat menjadi pegangan kita dalam menyusun Puzzle tersebut.

Saat saya bekerja di PT. Dankos Farma dulu, saya pernah membawakan sebuah Motivational Training untuk para pekerja di sana. Sampailah pada sebuah sesi tentang mimpi. Saat itu saya mengajak para peserta bermain Puzzle terlebih dahulu, sehingga para peserta mampu lebih mudah dan cepat tentang arti penting bermimpi. Dalam permainan ini, saya mengajak mereka bermain 2 kali. Pertama mereka bermain tanpa ada contoh gambar. Kedua kalinya mereka bermain dengan Puzzle yang berbeda (dengan tingkat kesulitan yang serupa), namun pada kesempatan ini mereka diberikan gambar contoh. Selama permainan ada hal yang menarik terjadi selama permainan berlangsung. Waktu yang dibutuhkan oleh peserta untuk menyelesaikan permainan meningkat hampir 2x lipat pada percobaan kedua (dengan gambar) dibanding pada percobaan pertama (tanpa gambar). Jika sebelum dibutuhkan waktu 10 menit untuk menyelesaikan puzzle di percobaan pertama, maka pada percobaan kedua menjadi sekitar 5 menit saja.

Apa yang membuat mereka mampu lebih cepat menyelesaikan puzzle dengan bantuan gambar, teman-teman?

Jawabannya sederhana sekali. Karena dengan gambar mereka mampu terfokus dan tahu di mana letak sebuah potongan puzzle harus diletakkan. Seperti itulah juga gunanya mimpi dalam hidup teman-teman. Mimpi mampu menjadi petunjuk dan panduan teman-teman dalam menjalani hidup.

Tapi dalam pelatihan tersebut terdapat sebuah hal unik. Ternyata ada satu kelompok yang membutuhkan waktu yang kurang lebih sama, bahkan lebih lama dalam menyelesaikan percobaan kedua walaupun telah dibantu dengan contoh gambar. Apa yang membuat mereka begitu lambat? Ternyata peserta tersebut dalam menyelesaikan puzzle, sama sekali tidak menggunakan gambar dengan baik. Mereka hanya melihat sekali gambar tersebut dan sisanya gambar tersebut ditaruh di belakang mereka. Kemudian mereka mencoba-coba sendiri tanpa pernah melihat gambar tersebut lagi. Dibandingkan kelompok peserta lain, mereka terus menerus memperhatikan gambar. Setiap mengambil sebuah potongan puzzle, mereka memperhatikan gambar dengan seksama dan meletakkannya dengan tepat. Read More