Dream Big, Dream Right

Beberapa hari lalu, salah seorang junior saya di Fakultas Psikologi menulis tulisan yang bertema sama dengan saya. Ia juga menulis tentang pentingnya memiliki tujuan dalam hidup. Pentingnya bermimpi. [read :http://tesargusmawan.wordpress.com/2011/04/13/what-is-your-destiny/]. Di tulisannya dikatakan bahwa hidup kita seperti layaknya bermain puzzle. Kita selama hidup sampai nanti kita kembali ke sisiNya, terus menerus menyusun puzzle tersebut. Apabila hidup bagai bermain Puzzle, maka mimpi kita, tujuan hidup kita adalah sebuah gambar petunjuk Puzzle. Gambar akhir Puzzle tersebut yang dapat menjadi pegangan kita dalam menyusun Puzzle tersebut.

Saat saya bekerja di PT. Dankos Farma dulu, saya pernah membawakan sebuah Motivational Training untuk para pekerja di sana. Sampailah pada sebuah sesi tentang mimpi. Saat itu saya mengajak para peserta bermain Puzzle terlebih dahulu, sehingga para peserta mampu lebih mudah dan cepat tentang arti penting bermimpi. Dalam permainan ini, saya mengajak mereka bermain 2 kali. Pertama mereka bermain tanpa ada contoh gambar. Kedua kalinya mereka bermain dengan Puzzle yang berbeda (dengan tingkat kesulitan yang serupa), namun pada kesempatan ini mereka diberikan gambar contoh. Selama permainan ada hal yang menarik terjadi selama permainan berlangsung. Waktu yang dibutuhkan oleh peserta untuk menyelesaikan permainan meningkat hampir 2x lipat pada percobaan kedua (dengan gambar) dibanding pada percobaan pertama (tanpa gambar). Jika sebelum dibutuhkan waktu 10 menit untuk menyelesaikan puzzle di percobaan pertama, maka pada percobaan kedua menjadi sekitar 5 menit saja.

Apa yang membuat mereka mampu lebih cepat menyelesaikan puzzle dengan bantuan gambar, teman-teman?

Jawabannya sederhana sekali. Karena dengan gambar mereka mampu terfokus dan tahu di mana letak sebuah potongan puzzle harus diletakkan. Seperti itulah juga gunanya mimpi dalam hidup teman-teman. Mimpi mampu menjadi petunjuk dan panduan teman-teman dalam menjalani hidup.

Tapi dalam pelatihan tersebut terdapat sebuah hal unik. Ternyata ada satu kelompok yang membutuhkan waktu yang kurang lebih sama, bahkan lebih lama dalam menyelesaikan percobaan kedua walaupun telah dibantu dengan contoh gambar. Apa yang membuat mereka begitu lambat? Ternyata peserta tersebut dalam menyelesaikan puzzle, sama sekali tidak menggunakan gambar dengan baik. Mereka hanya melihat sekali gambar tersebut dan sisanya gambar tersebut ditaruh di belakang mereka. Kemudian mereka mencoba-coba sendiri tanpa pernah melihat gambar tersebut lagi. Dibandingkan kelompok peserta lain, mereka terus menerus memperhatikan gambar. Setiap mengambil sebuah potongan puzzle, mereka memperhatikan gambar dengan seksama dan meletakkannya dengan tepat.

Kelompok ini sudah punya gambar untuk membantu mereka. Tetapi tanpa menggunakannya dengan efektif dan efisien, maka gambar tersebut sama sekali tidak berguna. Sama seperti mimpi kita. Mimpi adalah “alat bantu”, tanpa menggunakannya dengan baik dan benar, maka jangan berharap bahwa mimpi tersebut akan terealisasi nantinya.

Jadi bagaimana cara mempergunakan mimpi dengan baik dan benar?

Tentunya bagaimana menggunakan mimpi dengan baik dan benar, tidak hanya ada satu cara. Setiap orang juga memiliki cara yang berbeda. Tapi pada kesempatan ini, saya akan mencoba memberikan beberapa hal sederhana yang saya percaya dapat mengoptimalkan mimpi teman-teman.

1. Ubah Mimpi menjadi target dan sasaran yang jelas dan menantang

Yang membedakan antara mimpi sebagai tujuan dengan mimpi sebagai “mimpi siang bolong” adalah apakah teman-teman mampu merubah mimpi teman-teman menjadi target dengan tujuan dan sasaran yang jelas. Inilah yang membedakan antara para orang sukses dengan orang biasa. Sebagian besar orang hanya membiarkan mimpi tersebut tetap menjadi mimpi, namun para orang sukses terbiasa untuk mengubah mimpi tersebut menjadi target yang jelas dapat dicapai dan menantang.

Contoh mimpi yang buruk : “Saya ingin kurus”

Contoh mimpi yang baik : “Berat badan saya 70 KG pada Desember 2011″

Dengan mengubah mimpi kita menjadi sesuatu yang spesifik, jelas dan dapat diketahui dengan jelas targetnya, maka kita akan lebih mudah untuk merencanakan dan memfokuskan tenaga kita untuk mencapai hal tersebut. Hal ini sama halnya seperti kita menanyakan arah jalan kepada 2 orang di tengah jalan. Satu orang hanya bilang, “jalan saja terus, itu sudah tempatnya. kalau masih bingung, tanya lagi sama orang lain di sana.” Satu orang lagi berkata, “dari sini, lurus terus sampai ketemu gedung A, lalu belok kiri. Setelah itu lurus sampai lampu merah kedua, belok kanan. Tempat yang anda cari ada di sebelah kanan, gedung warna merah.”

Ketika teman-teman menjadi sang penanya jalan, menurut teman-teman, petunjuk orang pertama atau kedua yang lebih memudahkan kita?

Oleh karena itu teman-teman, tuliskan dengan sangat jelas mimpi teman-teman menjadi sebuah target spesifik, dan rasakan manfaatnya bagi teman-teman.

2. Bermimpilah untuk meraih sesuatu yang positif, daripada hanya menghindari sesuatu yang negatif

Teman-teman, adakah perbedaan antara pernyataan : “Saya tidak mau sakit” dengan “Saya mau hidup sehat”?

Antara pernyataan : “Saya tidak mau miskin” dengan “Saya mau kaya“?

Mungkin apabila kita lihat sejenak, kita merasa bahwa tidak ada perbedaannya. Namun apabila kita perhatikan dan renungkan lebih seksama, sebenarnya terdapat perbedaan yang luar biasa besar. Ketika teman-teman berkata saya tidak mau miskin, maka asal saya terhindar dari kemiskinan, saya masih punya sedikit uang walau pas-pasan, maka tujuan saya telah tercapai. Sedangkan saat teman-teman berkata saya mau kaya, maka saat tujuan ini tercapai, teman-teman memiliki uang yang lebih dari cukup. Hasil yang dihasilkan dari kedua mimpi tersebut sangat besar bedanya.

Selain hasil yang berbeda sangat besar, tujuan yang hanya berusaha menghindari hasil yang negatif hanya akan memberikan kita motivasi dan inspirasi untuk bekerja keras yang juga lebih kecil. Ketika kita telah berhasil tidak miskin, maka setelah itu kita akan merasa bahwa diri kita telah berhasil. Lalu tanpa kita sadari, kita akan mengendurkan semangat kita, tuntutan kepada diri kita sendiri agar kita bisa bekerja lebih giat untuk mencapai hasil yang luar biasa, hasil yang memang pantas kita raih.

3. Rumuskan dan tuang dalam tulisan mimpi teman-teman

Suatu studi tentang tujuan dilakukan oleh Mark McCormack kepada para lulusan MBA di Harvard Business School antara tahun 1979 & 1989. Tahun 1979, para lulusan MBA tersebut ditanya, “apakah anda telah menyusun suatu rencana yang jelas, spesifikdan tertulis tentang masa depan anda, dan perencanaan tentang bagaimana merealisasikan rencana tersebut?” Hasilnya 3 % menyatakan telah memiliki tujuan yang spesifik, jelas dan tertulis. 13% menyatakan memiliki tujuan yang spesifik dan jelas, namun tidak tertulis. 84% menyatakan belum memiliki dan menyusun rencana tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1989, periset melakukan wawancara dengan semua responden yang telah ditanyanya dulu. Hasilnya 13% yang menyatakan telah memiliki tujuan yang spesifik dan jelas, tetapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata 2x lipat besarnya dari 84% lulusan yang belum memiliki tujuan. Yang mengejutkan adalah 3% lulusan yang menyatakan telah memiliki tujuan jelas, spesifik dan tertulis, memiliki penghasilan rata-rata 10x lipat dari 97% lulusan lainnya.

[Darmawangsa & Munadi, “Fight like a Tiger, Win like a Champion”, 2006]

Teman-teman, memutuskan untuk bergabung dengan kelompok yang mana?

84%?

13%?

3%?

4. Ingatkan diri teman-teman akan mimpimu secara berulang-ulang

Seperti cerita pertama saya tentang pengalaman saya membawakan pelatihan di PT. Dankos Farma, kita dapat melihat bahwa walau kita telah memiliki gambar puzzle, tapi kita tidak pernah melihat secara berulang-ulang, maka gambar tersebut menjadi tidak berguna. Sama seperti mimpi, ketika kita sudah punya mimpi yang jelas, spesifik, dan tertulis, tapi kita tidak pernah melihat kembali, mengingat kembali mimpi kita. Maka mimpi tersebut akan sia-sia. Kita butuh selalu mengingat kembali mimpi kita demi 3 hal :

  1. Membuat kita selalu bertindak dalam jalur menuju mimpi,
  2. Memberi kita semangat tambahan untuk selalu mengeluarkan yang terbaik dari kita demi mencapai mimpi kita,
  3. Menunjukkan progress kita dalam menuju mimpi kita. Sudah sejauh mana pencapaian kita.

Hal ini penting karena ketika kita masuk dalam rutinitas dan kesibukan sehari-hari kita, kita akan cenderung lupa dengan tujuan awal kita. Sehingga dengan kembali melihat dan terus mengingatkan mimpi kita, maka mimpi kita tersebut selamanya tidak akan menjadi sia-sia. Mimpi tersebut hanya akan menunggu waktu untuk teman-teman wujudkan.

Cara termudah untuk terus mengingatkan mimpi teman-teman adalah bercerita tentang mimpi teman-teman ke sebanyak-banyaknya orang di sekeliling teman-teman. Jangan takut ditertawakan, jangan pernah merasa mimpi teman-teman sepele. Ceritakan berbagilah. Karena dengan bercerita, maka teman-teman secara tidak sadar mulai menyusun mimpi teman-teman dengan lebih spesifik, jelas dan terencana. Dan semakin sering teman-teman bercerita, semakin jelas dan spesifik mimpi teman-teman. Semakin teman-teman bercerita, semakin yakin teman-teman bahwa mimpi tersebut dapat dicapai, semakin termotivasi teman-teman untuk bergerak meraih mimpi tersebut.

Oleh karena itu, saya sangat menyarankan teman-teman bersedia untuk berbagi mimpi teman-teman dengan saya di email : kotak.mimpi.kita@gmail.com. Ceritakan dengan detil mimpi teman-teman dan bagaimana perjuangan yang teman-teman hadapi sekarang dan apa rencana ke depannya. Saya harap dengan sarana ini teman-teman mampu masuk ke dalam kelompok 3%. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menampilkan mimpi teman-teman dalam suatu media (www.kotakmimpikita.wordpress.com), di mana mimpi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman lain yang sedang bermimpi selayaknya kita. Saya percaya bahwa mimpi dapat menghubungkan dan menyatukan kita semua sebagai suatu keluarga manusia. Mimpi tidak mengenal batasan umur, suku bangsa, agama, dll.

Semoga suatu saat nanti, semua mimpi teman-teman akan mulai terwujud satu per satu-satu.

Kastena Boshi

follow me @WilliamSBudiman

12 comments

  1. Tesar Gusmawan · April 29, 2011

    Nice writing ko. Reflective and informative.🙂
    Dan kotakmimpikita itu ide yg bagus sekali. hehehe

    • William SB · April 29, 2011

      Thx yak… iya, kotak mimpi itu mau dijadiin project yang serius…

  2. Alvin CPL · April 29, 2011

    tanya dunk, bagi yang belum tahu mimpinya apa gimana?

    • William SB · May 4, 2011

      Wah pertanyaan yang bagus sekali… Thx yak..

      Seandainya pas kita liburan, kita tahu banget kalau kita mau senang-senang, tapi kita ga punya tujuan. ga tau mau kemana. Apa yang harus dilakukan?? Paling mudah adalah langsung tentukan saat itu juga mau kemana, dan pergi. saat dalam perjalanan ternyata minat kita berubah, pikiran kita berubah karena tiba-tiba kita punya ide tujuan lain yang lebih sesuai dengan diri kita, dengan kesenangan kita, maka bisa langsung diganti arah perjalanan kita. Tujuan perjalanan bukan suatu hal yang mati, tidak bisa dirubah selama.

      Nah bagaimana menentukan pertama kali mau kemana, saat kita belum punya ide sama sekali.
      1) Paling mudah adalah mendengarkan pendapat dan cerita dari banyak orang ttg tujuan yang mereka mau tuju atau telah mereka tuju. Cari info. Seandainya kita tiba-tiba tertarik dengan tujuan tertentu, maka pergi ke sana.
      2) Pikirkan kita paling senang melakukan apa, jadikan itu sebagai tujuan. karena tujuan yang menyenangkan adalah tujuan yang memperkenankan kita melakukan hal yang kita cintai.

      Kurang lebih jawaban singkatnya begitu. Jadi kalau bagi yang belum tahu mimpinya, buat saja sendiri mimpi itu dari awal. Mimpi itu bukan untuk dicari tahu, tapi untuk dibuat. Jangan takut salah, karena kalau salah masih bisa kita rubah mimpi kita. Apalagi mengejar mimpi tidak mengenal umur. Yang justru perlu ditakutkan kita tidak pernah berani membuat mimpi dan melangkah sama sekali, karena artinya kita akan terus “luntang-lantung” tanpa tujuan selama kita hidup.

      Semoga terjawab pertanyaannya. Thx ya..

      LYSA

      • 13 20 94 3 · May 5, 2011

        hmm, ok
        memang wa takut ambil langkah karena minatnya sendiri tergolong subkultur

        btw, LYSA itu siapa?

      • William SB · May 6, 2011

        nah itu jangan takut… coba kamu baca di The Garuda Way deh, semoga itu bisa bantu kamu, yakinin kamu..
        Hm LYSA itu bukan siapa-siapa, itu singkatan.. coba cari di beberapa tulisan gwa ada yang dikasih kepanjangannya kok.. itu signature gwa sebagai penulis.. (^^,)

  3. Marsha · May 3, 2011

    wait for my email ya, be..🙂

    • William SB · May 4, 2011

      ditunggu dengan sangat, sha.. (^^,)

  4. Aveline · May 9, 2011

    THANK YOU !!!!

    • William SB · May 9, 2011

      your welcome… (^^,)

  5. Jessot (Eleonora Jessica Farolan) · May 13, 2011

    paling catchy pas gue baca adalah:
    UBAH, Be, bukan RUBAH!
    hahaha ga bener kalo rubah krn kata dasarnya ubah, bukan rubah (kalo rubah kan hewan) hehehe…

    hmm… mimpi boleh besar, tp tentunya kudu “benar”… fokus pada yg positif… SETUJU! =D

    • William SB · May 13, 2011

      hahaha, thx buat koreksinya sot… hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s