The Garuda Way

Teman-teman, kita sebagai bangsa Indonesia tentunya tahu bahwa Burung Garuda adalah lambang negara kita. Burung Garuda bukan hanya sekedar lambang negara kita, bukan sekedar judul lagu nasional, bukan juga hanya sekedar hiasan di kelas-kelas dan kantor-kantor, apalagi hanya sekedar nama maskapai penerbangan. Burung Garuda mengisyarakatkan semangat yang luar biasa! Tapi apakah kita sebagai bangsa Indonesia meletakkan semangat Burung Garuda tersebut tepat di dada kita dan mengikuti semangatnya dalam menjalani hidup kita?

Mungkin setelah teman-teman membaca kalimat terakhir saya tadi, ada pertanyaan yang timbul : “Semangat apa? Semangat apa yang dimiliki Burung Garuda?”

Apabila pertanyaan tersebut muncul di diri teman-teman, saya rasa itu adalah hal yang sangat wajar, mengingat banyak orang yang mungkin sangat tidak mengenal Burung Garuda sebagai simbol bangsa kita. Saya juga seperti itu sampai beberapa hari lalu saya membaca blog teman saya dengan sebuah cerita yang luar biasa di dalamnya. (http://kalengorange.wordpress.com/2010/11/30/elang/)

Dalam blognya, dia bercerita tentang elang jawa. Tahu kah teman-teman, elang jawa adalah gambaran identik dengan lambang negara kita Burung Garuda?

Burung Garuda digambar berdasarkan rupa dari elang jawa.

Elang jawa saat ini adalah satwa langka yang terancam punah di Indonesia. Habitat elang jawa adalah hutan hujan tropis primer di daratan Jawa. Seiring mulai menghilangnya hutan hujan tropis di Jawa, semakin mengecil juga jumlah populasi burung lambang negara kita ini.

Kalau mata kita menatap Elang Jawa terbang dengan anggunnya, apa yang mungkin terpikir dibenak kita? Kemungkinan kita akan berpikir bahwa elang adalah penguasa udara. Pemangsa yang gigih dalam mengincar korbannya. Raja dari segala unggas yang terbang di udara.

Tahukah teman-teman, berapa umur elang jawa?

Umur elang jawa dapat mencapai 70 tahun.

Wow..  Sebuah usia yang luar biasa bagi ukuran unggas.

Tetapi apakah teman-teman tahu, bagaimana perjuangan si Elang untuk mencapai usia tersebut?

Inilah kisahnya :

Elang dalam usia normalnya dapat mencapai 40 tahun. Pada usia inilah elang tersebut harus menentukan pilihan hidupnya, apakah ia mau hidup sampai usia 70 tahun atau tidak? Keputusan yang berat ini harus diambil, jika tidak maka usia elang tersebut akan berakhir di usia 40.

Hal tersebut terjadi karena pada usianya yang ke 40, paruhnya sudah terlalu panjang membengkok sehingga hampir menyentuh dada, sehingga mengakibatkan ia tidak dapat menangkap mangsanya. Kuku cakarnya telah menua dan rapuh, sehingga ia sulit mencengkeram mangsanya. Kemudian bulu-bulu di tubuhnya telah semakin lebat dan panjang, sehingga menjadi terlalu berat baginya untuk bermanuver dengan gesit dan anggun. Mangsanya pun dapat melarikan diri.

Keputusan yang diambil oleh elang jawa membuat ia menderita selama kurang lebih lima bulan. Keputusan ini akan membawa elang pada sebuah proses perubahan yang sangat menyakitkan.

Proses ini mengharuskan si elang terbang menuju puncak gunung yang tinggi, di mana tidak ada gangguan apapun. Pertama, si elang harus menghantamkan paruh bengkoknya berkali-kali pada dinding-dinding batu gunung sehingga paruh lamanya terlepas dari mulutnya.

Setelah paruh yang lama terlepas, si Elang harus berpuasa menahan lapar sambil menanti tumbuhnya paruh yang baru. Lalu, setelah paruh baru tumbuh adalah mencabut cakarnya yang menua dan menanti tumbuhnya cakar baru.

Terakhir adalah mencabuti bulu-bulunya satu persatu.

Proses selama 5 bulan ini sangat menyakitkan bagi si elang, tetapi dibalik proses yang menyakitkan itu, si elang mampu untuk hidup 30 tahun lagi.

(sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12399)

Teman-teman, saat kita menginginkan sesuatu dalam hidup kita. Ketika kita bermimpi tentang sesuatu dalam diri kita. Sesuatu yang setiap hari kita doakan kepada Tuhan agar hal tersebut, entah bagaimana caranya, dapat terwujud suatu saat nanti. Tapi teman-teman, doa bukanlah satu-satunya jalan. Teman-teman harus berusaha sekuat tenaga untuk mengusahakan tujuan, mimpi, teman-teman terwujud. Doa tanpa usaha dari diri kita sendiri tidak akan ada hasil. Tidak ada kesuksesan dan keberhasilan tanpa keringat kita di sana.

Semua hal di dunia ini ada harganya, kesuksesan juga ada harganya.

Pertanyaannya apakah kita rela membayar sebuah harga kesuksesan?

Seberapa yang berani kita bayar, menunjukkan seberapa banyak pula lah yang akan kita dapatkan. Harga dari sebuah kesuksesan adalah kerja keras. Sama halnya seperti elang jawa, ketika ia ingin memperpanjang umurnya, dia tidak hanya diam dan menunggu. Elang jawa harus melewati proses kerja keras yang menyakitkan dalam jangka waktu yang lama. Tetapi hasilnya elang jawa akan hidup selama 30 tahun lagi. Elang jawa membayar harga yang sangat mahal untuk bisa mencapai umur 70 tahun. Umur yang bahkan tidak bisa dicapai bagi sebagian manusia modern.

Masalah yang sering muncul adalah bukan kita tidak menyadari bahwa kita harus mengambil tindakan untuk mencapai tujuan kita. Tetapi masalah yang seringkali timbul adalah kita tidak berani untuk mengambil tindakan atau usaha untuk mencapai tujuan kita. Kita takut mengambil langkah pertama keluar dari comfort zone kita, kita takut hal ini akan tidak nyaman dan menyakitkan buat diri kita. Kita tidak berani keluar dari comfort zone karena kita “buta” tentang masa depan. Kita takut apakah ketika kita memutuskan melangkah dan berusaha, masa depan akan memihak pada kita.

Apakah tujuan saya memang akan tercapai?

Apakah cara yang saya jalankan benar?

Bagaimana kalau usaha saya gagal?

Dan banyak lagi pertanyaan dalam diri kita yang menghambat kita…..

Dalam bukunya “The Shark and The Goldfish”, Jon Gordon menunjukkan kepada semua orang mengenai satu persamaan yang dimiliki oleh orang optimis dan pesimis. Orang optimis dan pesimis sama-sama tidak bisa melihat masa depan, mereka tidak tahu masa depan.

Tapi perbedaannya adalah orang pesimis terus melihat dan menekankan masa depan akan suram, sehingga ia tidak mengambil tindakan apapun demi tidak tercapainya masa depan yang suram tersebut. Padahal belum tentu ketika ia mengambil tindakan tersebut masa depan akan suram.

Di lain pihak, orang optimis melihat bahwa masa depan selalu cerah, apapun yang terjadi. Sehingga walau ia dipenuhi ketidaktahuan akan masa depan, mereka berani mengambil resiko untuk bertindak. Bertindak keluar dari comfort zonenya, walau masa depan belum tentu juga “indah”. Namun pada kenyataannya, di dunia ini jauh lebih banyak orang optimis yang mencapai suatu pencapaian yang luar biasa dibanding orang pesimis.

Seperti tulisan saya yang terdahulu (baca : https://williambudiman.com/2010/10/19/you-are-what-you-think/ ), ketika kita percaya dan yakin pada 1 hal, maka secara otomatis tanpa kita sadari, keyakinan kita akan mengarahkan pikiran kita, fokus kita dan tindakan kita mendekati hal yang kita percaya. Apabila kita percaya bahwa masa depan jelek, maka keyakinan kita akan mengarahkan kita secara otomatis untuk “tidak melakukan apapun” dan tetap berdiam dalam comfort zone. Tetap pada yang pasti-pasti saja. Tapi kenyataan ketika kita memilih untuk tetap pada  “yang pasti-pasti saja”, kemungkinan besar kita akhirnya akan menjalani hidup yang bukan sepantasnya dan seharusnya kita jalani. HIDUP BIASA-BIASA SAJA dan semakin jauh dengan mimpi teman-teman.

Terkadang kebanyakan orang hanya terpaku kepada pertanyaan : “Bagaimana kalau rencana saya, tujuan saya gagal?”, kemudian kita memikirkan apa yang terjadi pada hidup kita kalau seandainya kita gagal. apa yang akan hilang dari kita.

Tetapi jarang orang-orang terfokus pada “Bagaimana kalau rencana saya berhasil?”, dan memikirkan semua yang terjadi pada diri kita seandainya kita sukses.

Teman-teman, rasa takut untuk keluar dari comfort zone dan berusaha keras adalah hal yang wajar. Tapi keyakinan kita, iman kita, harus lebih kuat dari rasa takut kita. Karena ketika kita meyakini dan mengimani masa depan yang cerah, hal tersebut akan memberi kita kekuatan yang luar biasa untuk keluar dari comfort zone dan melakukan sesuatu yang luar biasa hari ini. Sesuatu yang mungkin sebelumnya belum pernah terbayangkan oleh teman-teman.

Believe in yourself and aethra (bahasa latin yang berarti : langit yang cerah) will be within your reach.

Hiduplah dengan semangat GARUDA di dada teman-teman.

Kastena Boshi

follow me @WilliamSBudiman

 

12 comments

  1. DeJinZz Qre · December 4, 2010

    keren bgt >w< insprirational bgt.😀

  2. Nick - Sim · December 4, 2010

    Wow, this is another inspiring words for all of us. Disini, teman kita william brother mencoba mengumpamakan kehidupan (mungkin menurut gue lebih ke arah karier) kita dengan kehidupan seekor elang.

    Pilihannya adalah, hidup atau mati (40 tahun). Di zaman sekarang, banyak orang-orang (khususnya yang muda-muda) modern di masyarakat ini cenderung cukup puas. Mungkin dari 10 orang belum tentu ada yang berpikir out of the box. Ironisnya, “umur gue 24 tahun, gaji uda sekitar 10jt”, dah cukup lah, buat apa gue mencoba tantangan2 lain, yg beresiko (usaha misalnya), toh dengan begini gue udah cukup.

    Cuma ya mungkin banyak orang berkata “lo ngomong sih gampang, pake umpama bla bla bla…, lo gak ngerasin sih”… Balik lagi kawan, the hardest thing when we learnt to walk is the first step isn’t it?

    Muantap be…

    • monsieursb · December 4, 2010

      Hahaha, thx man.. tapi sebenarnya gwa menulis ini bukan hanya masalah karir.. karena kita selalu akan bertemu dengan langkah pertama di setiap langkah hidup.. saat kita mau pacaran, mau nembak, itu butuh keluar comfort zone. Saat memilih untuk bisa kuliah dan dapat nilai yang lebih baik, artinya harus belajar lebih giat, itu keluar dari comfort zone. Mau jadi apapun, intinya mencapai keinginan kita, butuh keluar dr comfort zone. karir hanya sebagian kecil.

      Dan tepat sekali, “The hardest thing when we learnt to walk was the first step!” Tapi seorang bayi juga ga memusingkan apakah besarnya dia bisa berjalan atau tidak, yang ia tahu hanyalah langkahkan langkah pertama dengan keberanian. Dan kabar bahagia, hampir lebih dari 75% orang di dunia, (tanpa perlu dukungan statistik, tp saya percaya itu), mungkin lebih, bisa berjalan setelah melangkahkan langkah pertamanya… SO be BRAVE!!!

  3. kalengorange · December 4, 2010

    Wah SB.. inspirational sekali.. u bs memanjangkan ide awal dari g.. hehe..
    tp emang bener c.. Jepang punya Toyota Way, Indonesia punya Garuda Way.

    “Teman-teman, rasa takut untuk keluar dari comfort zone dan berusaha keras adalah hal yang wajar. Tapi Keyakinan kita, iman kita, harus lebih kuat dari rasa takut kita. Karena ketika kita meyakini dan mengimani masa depan yang cerah, hal tersebut akan memberi kita kekuatan yang luar biasa untuk keluar dari comfort zone dan melakukan sesuatu yang luar biasa hari ini. Sesuatu yang mungkin sebelumnya belum pernah terbayangkan oleh teman-teman.” –> g paling suka bagian yg ini.. karena terkadang comfort zone ini menjadi pengganggu paling besar di setiap langkah kita untuk menuju sesuatu tantangan baru.

    • monsieursb · December 4, 2010

      hahahaha… terima kasih kembali tin… kl ini inspirasional, berarti blog loe awal inspirasi gwa… hehehe sebenarnya gwa udah lama bgt mau menulis sesuatu yang berhubungan dengan comfort zone, tapi gwa bingung harus mulai dari mana & dengan ilustrasi apa. Blog loe membuat gwa dpt inspirasi… hehehe…

  4. Silvy · December 5, 2010

    Gw kira awalnya lu mau cerita kenapa negara kita pake lambang Indonesia. hahaha.

    well, gw baru pernah denger tuh ttg si Elang Jawa. pas diliat-liat, bener juga ya.. mirip sama Garuda Indonesia.

    Kadang memang kebanyakan orang merasa hidupnya udah cukup. Daripada ambil resiko, mendingan menjalani hidup yang sudah ada. Buat gw pribadi sih, menjalani hidup yang biasa-biasa aja sama aja kayak masakan tanpa garam, hambar.

    Anw, beberapa waktu belakangan ini, gw sedang menghadapi teman gw yang selalu merasa bahwa dirinya ga boleh berharap. ketika dya berharap, pasti aja ga terkabul. Tipe orang yang cenderung memandang hidup negatif, dan ga percaya sama pendapat dari luar.. tapi selalu mengeluh (mungkin bukan mengeluh tp cuma cerita aja. dan gw udah ga tau lg gmn harus merespon cerita2 dya yang tiap kali setipe itu)

    Menurut lo gmn, be? hahaaha

    • monsieursb · December 5, 2010

      Hm, gwa juga suka bertemu dengan orang seperti itu. Hanya senang bercerita ttg keluh kesahnya, tapi tidak berani mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalahnya.
      Gwa biasanya ketemu orang kaya gitu hanya bilang sama die,

      “gwa ga capek dengerin keluh kesah loe yang sama berkali-kali! Tapi gwa juga ga capek-capek sampein ide yang sama ke loe berkali-kali, yang belom loe kerjakan buat nyelesaiin masalah loe sampe hari ini. Jadi jangan capek juga ya.. seandainya loe capek, loe jalanin ide gwa sekuat tenaga loe, kl gagal, baru gwa diem menyampaikan ide yang sama.”

  5. Jessot · December 5, 2010

    Wow… iya gue pernah denger kayaknya ttg burung garuda ini… dan jadi teringat kalo gue baru saja dapet quotes terkait hal ini. Quote itu dari Grey’s Anatomy yang baru aja gue ntn tadi.

    “If you don’t feel the losses… that’s when you know you’re not cut out for this kind of work” (by Derek Shepherd)

    Kalo ga berasa kalah or gagal, itulah saatnya bertanya…jangan2, gue ada di comfort zone gue?
    Dan jangan-jangan karena ga merasa gagal, jangan2 rasa yang gue rasakan dalam melakukan hal tsb jg bukan passion gue? Karena “merasa gagal” seringkali menjadi bukti bahwa “you’ve tried hard enough and it still didn’t work”. Trying hard enough means you have some interest in it that made you do things to make it work.
    Jadi, jangan nyerah dengan berkali2 merasa gagal dan jangan jadi takut nyoba.

  6. Gaby Sarah · December 7, 2010

    Gw selalu honored kalau lo minta ngereview blog lo, B.
    Dan setiap kali baca blog lo, gw selalu terinspirasi (baca: ‘tertohok’ in a positive way).
    Penulisan lo juga semakin matang, semakin efisien kata namun mudah dimengerti (dibandingkan tulisan lo dulu yg di topik berdoa ya kalau ngga salah).
    And I found it definitely worth enough to be shared with others, so I promote it on my twitter @gabysarahs😉

  7. Pingback: Dare to Dream Big « Monsieur SB's Stories
  8. Pingback: Dare to Dream Big « Kotak Mimpi Kita
  9. Pingback: Berteman dengan Kesalahan dan Kegagalan « Monsieur SB's Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s