Bend It Like Beckham part 1

follow me @WilliamSBudiman

Saya sudah mengenal sepakbola sejak dulu, tapi saya tidak pernah berminat untuk mengikutinya. Tapi semua itu berubah setelah tanggal 17 Agustus 1996. Saat itu tanpa sengaja saya menyaksikan pertandingan sepakbola antara Manchester United vs. Wimbledon di TV. Pada awalnya saya hanya iseng-iseng nonton, karena tidak ada acara lain. Namun pada menit-menit akhir pertandingan, saya melihat kejadian yang sangat berkesan buat saya. seorang pemain muda asal Inggris menyetak gol dari jarak 71,5 meter, lebih dari ½ lapangan sepakbola!Kejadian itu hanya berlangsung kurang dari 4 detik, tapi benar-benar mengagumkan buat seorang anak kecil berusia 11 tahun. Gol tersebut kemudian dinyatakan sebagai “Goal of The Decade” (gol terbaik dalam 1 dekade) Liga Premier Inggris pada tahun 2003, kurang lebih 7 tahun setelah gol tersebut terjadi.  Pesepakbola itu adalah David Robert Joseph Beckham atau lebih dikenal sebagai David Beckham. Sejak saat itu saya mengidolakan David Beckham dan mengikuti terus kisah karir sepakbolanya.

David Beckham bukan sekedar pahlawan masa kecil saya, tapi ia adalah role model saya sampai saat ini. Beckham sebagai seorang pemain bola, sebagai pribadi, memberikan banyak pelajaran yang berharga bagi saya. Karakter yang terus saya ikuti dan tiru sampai saat ini.

Banyak orang yang suka meledek saya karena saya mengidolakan David Beckham dengan alasan :

  1. Sebagian besar fans David Beckham di Indonesia adalah wanita. Saya juga setuju dengan alasan ini, karena selain saya dan sahabat saya, saya tidak menemukan adanya pria lain yang mengidolakan David Beckham. Mereka lebih mengidolakan pemain lain yang lebih “skillful” dibanding Beckham.
  2. Berhubungan dengan alasan pertama, Beckham dianggap tidak cukup “skillful” untuk bisa dijadikan idola. Masih banyak pemain dengan talenta dan skill yang lebih luar biasa, sebut saja Zidane, Figo, Ronaldo, dan sebagainya.
  3. Beckham dianggap bisa terkenal lebih karena kehidupan di luar sepakbola. Karena istrinya, karena iklan-iklan yang dibintanginya, dan karena dia hanya bermodal wajah dan penampilan modis.

Saya tentunya ada pro dan kontra dengan opini-opini di atas. Namun saya lebih tertarik dalam menceritakan mengapa saya mengidolakan Beckham dan pelajaran apa yang bisa kita petik darinya daripada mendebatkan opini mana yang benar dan yang salah. Saya mengidolakan Beckham karena dirinya mengajarkan saya banyak nilai-nilai melalui kisah perjalanan karirnya. 

Pelajaran pertama :  Dream Big and Work Hard

Beckham memiliki cita-cita yang sangat besar sejak kecil, yaitu menjadi pemain Manchester United dan tim nasional Inggris, bahkan menjadi kapten timnas seperti idolanya Bryan Robson. Mimpinya ini diremehkan oleh pelatihnya di club sepakbola lokal, karena Beckham kecil badannya sangat kurus dibanding yang anak yang lain. Terlepas dari itu, Beckham tetap memegang cita-cita ini erat-erat dan terus berlatih jauh lebih keras dibanding siapapun yang seumuran dengan dirinya.

Beckham setiap pulang sekolah langsung berlatih sepakbola sendiri di taman dekat rumahnya. Dan saat malam minggu, di saat teman-temannya pergi jalan-jalan, Beckham selalu memutuskan untuk istirahat di rumah untuk menyiapkan tenaga bertanding sepakbola untuk klub masa kecilnya. Akhirnya pada suatu sore, seorang pemandu bakat MU menonton pertandingannya dan langsung menghubungi orangtua Beckham. Sejak saat itu, pintu mimpi Beckham mulai terbuka satu per satu.

Saat dirinya berumur 14 tahun setelah selesai bertanding, ibu Beckham berkata,

“Tadi ada pencari bakat dari MU dan ia akan datang lagi untuk bertemu kita malam ini.” 

Sesaat setelah mendengar berita tersebut Beckham langsung melompat-lompat kegirangan dan menangis, karena ia seringkali berkata,“Aku rasa mereka (MU) tidak akan menemukanku di tempat ini.”

Bagian kisah perjalanannya ini mengajarkan saya untuk berani bermimpi setinggi-tingginya, walau orang lain meragukan kita! Namun hal yang terpenting adalah berjuang sekeras-kerasnya demi mimpi tersebut. Karena tanpa kerja keras dan latihan setiap hari, Beckham tidak akan memiliki kualitas yang mencukupi untuk bisa dikontrak oleh klub sebesar ManUtd. Bahkan sampai dirinya sudah menjadi pemain besar, menurut teman-teman seklub dan pelatihnya, ia selalu berlatih dengan sangat keras dan paling terakhir meninggalkan lapangan latihan. Beckham selalu menghabiskan waktu 1-2jam ekstra diluar jam latihan, hanya untuk berlatih tendangan bebas sendiri.

Pelajaran kedua : Be Yourself dan keluarkan yang terbaik dari potensimu

Beckham sejak kecil bukanlah pemain yang memiliki bakat alami yang luar biasa. Ia tidak memiliki kemampuan-kemampuan yang biasanya dimiliki oleh pemain-pemain legendaris, co : Pele, Maradona, Zidane, Cantona, Baggio, Ronaldinho, dll. Beckham tidak memiliki kemampuan mendribel bola yang luar biasa, tidak memiliki insting menyetak gol yang hebat, tidak memiliki kemampuan bertahan yang hebat (bahkan ini adalah salah satu kelemahannya), dan tidak memiliki kecepatan yang membuat lawan hanya seperti sedang berjalan kaki.

Beckham “hanya” memiliki kemampuan tendangan yang sangat akurat! Umpan-umpan yang luar biasa. Beckham sadar akan hal ini dan ia mengasah kemampuan ini dengan sebegitu kerasnya. Ia terus memeras potensi kemampuannya ini sampai tetes terakhir dan menjadi yang terbaik dalam hal umpan dan bola mati. Ia bahkan menjadi salah satu pemain terbaik dunia (2 kali mendapat penghargaan sebagai Runner-Up FIFA WORLD FOOTBALLER OF THE YEAR)  “hanya” dengan bermodalkan kemampuan ini. Tendangan bebas Beckham sangat cantik dan mematikan. Saya selalu excited setiap kali Beckham mengambil tendangan bebas, karena saya merasa bahwa akan ada suatu yang luar biasa terjadi. Umpan-umpannya luar biasa akurat, bahkan saya seringkali merasa tidak habis pikir dan terkagum-kagum bagaimana Beckham dapat mengirim umpan seakurat tersebut dari jarak yang sangat jauh.

Suatu kali Beckham pernah ditanya dalam wawancara tentang kemampuan sepakbolanya ini. Beckham menjawab bahwa dirinya bukan tipe pemain seperti Ryan Giggs (teman satu klub di ManUtd), atau Zidane yang akan dapat terus mendribel melewati banyak pemain dan mencetak gol indah. Beckham berkata bahwa dirinya bisa melakukan semua itu (melewati banyak pemain lawan dan mencetak gol) hanya dengan menendangkan bola tersebut ke arah yang ia inginkan. 

Beckham menunjukkan bahwa untuk bisa menjadi hebat, tidak selalu harus menjadi seperti orang lain. Jalan menuju kesuksesan setiap orang berbeda. Jangan pernah berusaha menjadi orang lain, tetapi kembangkanlah potensi unik kita masing-masing.  Daripada hanya terus meributkan dan memusingkan hal yang tidak miliki, lebih baik asah terus kemampuan dan potensi yang kita miliki. Dengan demikian potensi kita itu akan berubah menjadi modal utama yang akan membawa diri kita ke pintu kesuksesan.

To be continued….. [Bend it like Beckham part 2]

One comment

  1. astrid · February 20, 2011

    Astrid likes this post so much!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s