Pixar Inside Out : Mengatasi Kehilangan Dan Depresi

Pixar Inside Out adalah sebuah film yang luar biasa dari kacamata saya sebagai seorang praktisi di bidang kesehatan psikologis, karena film ini memberikan sebuah penjelasan yang sederhana dan gamplang mengenai kecerdasan emosi. Namun bila kita melihat lebih jauh dan teliti, film Inside Out menunjukkan kepada kita bagaimana seseorang mengalami kehilangan dan depresi, serta bagaimana cara sembuh dari luka tersebut. Saya telah membahas mengenai pembelajaran sederhana mengenai kecerdasan emosi / EQ pada tulisan saya sebelum ini. Sekarang saatnya kita belajar bersama mengenai pelajaran lain yang disuguhkan di film ini, yaitu bagaimana mengatasi sebuah kehilangan dan depresi.

1ca03764e1621ede59125c2eb8c23128 Read More

Advertisements

Sekolah : Pabrik Penghasil Robot [ ? ]

Senin 3 Maret 2014, Jakarta kembali dihebohkan dengan berita seorang mahasiswa Unas tewas bunuh diri setelah meloncat dari lantai 5 gedung ITC Depok. Peristiwa ini mengundang banyak respon dari masyarakat di media sosial. Sebagian ada yang mengatakan bahwa hal yang dilakukan mahasiswa tersebut adalah tindakan egois dan bodoh, yang kemudian dengan cepat pula pernyataan tersebut disambut dengan kecaman dari banyak pihak. Pihak yang mengecam tersebut di timeline media sosial saya kebanyakan adalah mahasiswa psikologi. Saya sarjana psikologi. Bagi saya peristiwa bunuh diri adalah bodoh.

Sebelum teman-teman mulai mengecap saya buruk, menutup halaman ini, atau langsung mengecam pernyataan saya, tolong lanjut baca penjelasan saya. Saya belum selesai.

Saya setuju dengan semua pihak yang mengatakan bahwa perilaku bunuh diri adalah sebuah kebodohan dari korban bunuh diri. Perilaku mengakhiri hidup demi menyelesaikan masalah itu bodoh, apalagi terkadang masalahnya sangat sepele. Sebelum menulis tulisan ini saya membaca beberapa berita berkaitan dengan bunuh diri. Ada kasus seorang anak SMA bunuh diri karena tidak diberi uang untuk membeli softlens oleh keluarganya. Ketika saya baca berita itu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang benar tindakan mereka bodoh. Akan tetapi ada 1 hal yang terlupakan oleh kita, yaitu :

kondisi psikologis kita tidak sama dengan kondisi psikologis mereka para bunuh diri.  Read More

Tweets #MelekEmosi Pilihan part 4

Follow my tweet @WilliamSBudiman

  1. Superman ada Lex Luthor. Batman ada Joker. Dora ada swiper. Kalau di bidang emosi & psikologi,banditnya itu depresi. #MelekEmosi
  2. Awalnya depresi itu emosi biasa yg berubah “jahat” krn kita ga peduli samanya. Depresi ibarat Anakin Skywalker jd Darth Vader. #MelekEmosi
  3. Kemampuan super si depresi itu bisa “membisiki” manusia buat bunuh diri. Dia juga bisa buat manusia ga bisa berfungsi normal. #MelekEmosi
  4. Kaya virus komputer. Kdg kita ga sadar kpn terjangkit. Pas sadar, komputer sudah ga bisa booting. Itu cara kerja depresi. #MelekEmosi
  5. WHO sudah menetapkan kalau depresi adl krisis global & thn 2020 akan menggantikan sakit jantung sbg pembunuh nomor 1. #MelekEmosi
  6. Survey terakhir itu nunjukin kalau 94% penduduk Indonesia (jgn-jgn itu kita) itu sudah dijangkiti dan dibisiki oleh depresi. #MelekEmosi
  7. Angka 94% itu makin lama makin besar,krn masyarakat itu buta emosi. Dan persis kaya virus, depresi itu nular. #MelekEmosi
  8. Padahal kalau kita #MelekEmosi kita bisa dgn mudah mendeteksi kalau si depresi mulai mendekati kita.
  9. Masalahnya masyarakat kita sudah buta emosi,kepala batu pula. Tetap menganggap kesehatan mental itu hal remeh. Saatnya berubah. #MelekEmosi
  10. #MelekEmosi untuk mengelola emosi dgn lebih baik agar depresi berlari menjauh. Mari kita bangun masyarakat yg bahagia.
  11. Happiness is a choice not a result! So what do you choose? Just smile and goodnite all. Thanks for all the RT. #MelekEmosi