Kalau Uang Tidak Bikin Bahagia, Mungkin Cara Belanjanya Salah!

Dari zaman dulu, zaman pra sejarah, manusia awal-awal sudah memahami sebuah kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Kemampuan manusia untuk memproduksi kebutuhannya tidak mampu mengimbangi jumlah kebutuhan dirinya sendiri. Oleh karena itu, manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun pada masa itu, manusia belum bisa membeli kebutuhannya dari orang lain, karena uang belum diciptakan oleh manusia. Uang baru diciptakan manusia sekitar 3000 tahun yang lalu, atau tepatnya 1100 SM (Sebelum Masehi).

Jadi yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan melakukan barter. Barter adalah kegiatan tukar-menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa perantaraan uang. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Akibatnya barter, yaitu barang ditukar dengan barang. Pada masa ini timbul benda-benda yang selalu dipakai dalam pertukaran. Kesulitan yang dialami oleh manusia dalam barter adalah kesulitan mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Jadi barter sangat tidak efisien.

barter

Contoh : kalau seseorang mau makan pisang karena mungkin dia sedang sembelit, namun dirinya hanya punya sapi. Maka dia harus mencari orang yang punya pisang dan mau ditukarkan dengan sapi. Tetapi kalau dia hanya bertemu dengan orang yang punya pisang, tetapi maunya kelinci, maka yang punya sapi ini harus mencari orang yang punya kelinci dan kebetulan dia mau sapi. Ketika akhirnya ketemu yang orang mau kelinci, dia juga harus melihat berapa jumlah kelinci yang dia punya sehingga sesuai dengan sapi yang mau dia tukarkan. Mungkin si pemilik sapi menilai minimal 50 kelinci baru nilainya setara dengan sapi miliknya. Tetapi seandainya si pemilik kelinci cuma punya 3 kelinci, maka perjanjian tidak terjadi, kecuali pemilik kelincinya itu kepengen banget punya sapi. Dengan demikian artinya si pemilik sapi harus menunggu si pemilik kelinci menukarkan barang lain di yang ia miliki dengan kelinci milik orang lain, sehingga jumlah kelincinya bisa mencapai 50 ekor untuk ditukarkan dengan sapi. Setelah terkumpul 50 ekor, baru ditukarkan, dan pemilik sapi ini baru bisa menukarkan dengan pisang. Itu juga kalau pisangnya masih belum dimakan sama pemiliknya atau tumbuh jadi pohon pisang baru. Atau lebih mungkin lagi, ketika pertukaran dengan kelinci selesai, si pemilik sapi bahkan lupa kenapa awalnya dia mau menukarkan sapinya dengan kelinci, karena sembelitnya sudah sembuh juga.

Jadi dapat kita lihat kalau proses barter itu sangat lama, melelahkan, dan membingungkan.

Maka tidak heran kalau orang jaman dulu itu lebih mengerti dengan baik perkataan : tidak semua hal yang kita mau di dunia, bisa kita dapatkan!

Setelah uang diciptakan dalam bentuk koin pertama kali, maka semua itu berubah. Manusia mampu mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan dan diinginkannya dengan lebih cepat dan efisien, tapi selama uangnya ada tentunya. Jadi mulailah seluruh hal di dunia perlahan-lahan dinilai keberhargaannya dengan uang, bahkan tidak jarang nyawa manusia sendiri juga dihargai dengan uang. Lama-kelamaan uang menjadi pusat dari segala pemenuhan kebutuhan manusia dan semakin sekarang menjadi pusat hidup manusia. Karena butuh apapun, butuh uang. Maka uang perlu dimiliki sebanyak-banyaknya demi hidup yang lebih baik. Dan mulailah muncul perkataan : everything has a price.

Tetapi apakah kalimat itu benar adanya? Apakah memang semua hal di dunia punya harganya dan bisa dibeli dengan uang, bahkan kebahagiaan?

Money vs happiness

Berdasarkan pengamatan saya, sebagian besar orang selalu berkata bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, dengan argumen bahwa apa yang mendatangkan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Argumen ini sangat indah, populer, dan pastinya salah.

Yes, salah. Saya tidak salah tulis dan teman-teman tidak salah baca.

Para peneliti dan ilmuwan telah meneliti hubungan antara kebahagiaan dengan uang selama beberapa dekade, dan kesimpulannya sangat jelas : Uang dapat membeli kebahagiaan, walau hanya bisa membeli tidak sebanyak yang banyak dari kita pikirkan. Hubungan antar uang dengan kebahagiaan itu positif, tetapi tidak terlalu besar. Uang membuat seseorang mampu untuk memiliki nutrisi yang lebih baik, pemeliharaan kesehatan yang lebih baik, sehingga kesehatan lebih terjaga dan umur lebih panjang. Kemudian uang juga memungkinkan seseorang untuk melindungi diri dari kecemasan dan bahaya. Uang memungkinan seseorang untuk mengontrol lingkungan hidupnya menjadi lebih nyaman dan memudahkan diri untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama teman dan keluarga. Semua itu adalah komposisi dasar dari kebahagiaan.

Tetapi tetap saja, banyak sekali orang yang memiliki uang yang banyak menjalani hidup yang tidak sebahagia dari mereka yang memiliki uang lebih kurang. Kalau uang bisa membeli kebahagiaan, mengapa tetap uang sulit mendatangkan kebahagiaan?

Jawab termudah adalah karena orang-orang tidak membelanjakannya dengan tepat!

Kebanyakan orang tidak mengetahui fakta ilmiah dasar mengenai kebahagiaan, apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan bagaimana membuat kebahagiaan itu bertahan, maka akhirnya mereka tidak tahu bagaimana menggunakan uang untuk mendapatkan kebahagiaan. Uang adalah sebuah alat yang menyediakan kita kesempatan untuk bahagia, tapi kesempatan ini biasa diboroskan secara rutin oleh kita, karena hal yang kita pikir akan membuat kita bahagia seringkali bukan.

Jadi bagaimana cara membelanjakan uang dengan lebih baik dan tepat agar kita bisa membeli kebahagiaan?

1. Belilah pengalaman daripada barang

Berdasarkan penelitian, orang akan lebih bahagia ketika membelanjakan uangnya untuk suatu pengalaman daripada barang. hal itu disebabkan karena (1) pengalaman-pengalaman yang dialami (mis : main seharian di disneyland) lebih sering diingat-ingat di kemudian hari dibandingkan barang-barang yang kita beli. Sebagai buktinya kalau saya meminta teman-teman mengingat masa-masa bahagia, maka kemungkinan besar yang teringat adalah memori-memori dari pengalaman yang menyenangkan, bukan barang-barang yang dibeli.

(2) Efek menyenangkan dari pengalaman yang dialami bertahan lama, bahkan ketika pengalaman tersebut sudah berlalu lama tetapi ketika diingat dengan jelas, maka kita masih dapat merasakan perasaan yang dengan derajat yang sama. Sedangkan ketika kita membeli barang, misal smartphone baru yang termahal, mungkin kita akan senang selama beberapa hari. Tetapi setelah lewat beberapa minggu atau bulan, efeknya sudah surut bahkan ketika kita mengingat lagi di kemudian hari.

sky diving

2. Membantu orang lain daripada hanya untuk diri sendiri

Banyak penelitian telah mendukung hal ini. Semakin kita sering berperilaku sosial atau beramal membantu orang lain, maka semakin bahagialah diri kita.

Dunn, Aknin dan Norton (2008) melakukan penelitian dengan menanyakan bagaimana mereka membelanjakan uang mereka dalam sebulan kepada sampel penelitian yang merepresentasikan amerika. Jawaban-jawabannya kemudian dikategorikan menjadi 4, yaitu : (1) tagihan dan pengeluaran, (2) hadiah untuk diri sendiri, (3) hadiah untuk orang lain, (4) sumbangan untuk amal. 2 kategori pertama adalah pengeluaran pribadi, dan 2 kategori selanjutnya adalah pengeluaran sosial. Hasil penelitiannya adalah semakin besar seseorang mengeluarkan uang untuk sosial, maka semakin bahagia dirinya.

Hal ini didukung oleh penelitian lainnya yang diadakan di Universitas British Colombia (UBC). Peserta diberikan uang sebesar $5 atau 20$, dan kemudian mereka diminta secara random untuk menghabiskan uang tersebut untuk dirinya sendiri dan orang lain. Lalu di akhirnya, peserta dihubungi dan diberikan beberapa pertanyaan. Hasilnya orang-orang yang diberi tugas untuk menggunakan uang tersebut untuk orang lain ditemukan lebih bahagia dibanding mereka yang diminta menghabiskan uang tersebut untuk dirinya sendiri.

Penelitian sejenis sangat banyak sekali dengan hasil yang serupa. Tetapi cukup dari dua penelitian tersebut, kita dapatkan bukti yang mendukung untuk pernyataan bahwa beramal akan membuat kita bahagia.

gift for others

Jadi apa lagi yang kita tunggu?

Sekarang saatnya kita membelanjakan uang yang kita miliki untuk membeli kebahagiaan! Tapi ingat jangan khilaf juga.

Karena kalau uang kita habis,

dan isi dompet di tengah bulan sudah tipis,

bisa-bisa kebahagiaan juga ikut menipis.

Kan rasanya jadi miris.

Kastena Boshi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s