How You Think About Stress May Help Your Life

Sebagai seorang sarjana psikologi, saya selama bertahun-tahun kuliah diajarkan bahwa stres adalah “musuh” yang mampu memberi dampak buruk bagi kesehatan fisiologis dan psikologis seseorang. Dan ketika akhirnya saya lulus dan menjadi seorang psychological health trainer, saya kembali mengajarkan kepada banyak orang bahwa stres adalah “musuh” yang perlu ditakuti dan dihindari. Sampai pada suatu saat saya membaca sebuah penelitian terbaru mengenai stres, yang kemudian saya menonton sebuah video seminar dari Kelly McGonigal (praktisi dan trainer psikologi kesehatan) di TED, dan saya cukup terkejut karena sepertinya apa yang selama ini saya yakini dan saya ajarkan ke orang lain membawa dampak buruk lebih banyak daripada dampak positifnya.

Changing how you think about stress makes you healthier

Stres pada umumnya diyakini membawa dampak negatif yang besar terhadap kesehatan, bahkan di Jepang terdapat istilah karoshi yang berarti kematian karena terlalu banyak bekerja. Namun sebuah penelitian yang diadakan oleh beberapa pihak menunjukkan hal yang sebaliknya.

Dampak stres yang umum diajarkan

Dampak stres yang umum diajarkan

Fakultas Medis dan Kesehatan Publik dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, mengadakan penelitian yang melibatkan 30.000 orang dewasa selama 8 tahun. Para partisipan penelitian ini ditanyakan 2 pertanyaan sederhana, yaitu :

  1. Seberapa besar stres yang dirasakan dalam 1 tahun terakhir?
  2. Apakah kamu percaya kalau stres itu berbahaya bagi kesehatan kamu?

Setelah 8 tahun, maka para partisipan diperiksa kembali apakah sudah meninggal atau belum.

Hasilnya : 43% partisipan yang mengatakan bahwa dirinya stres berat ditemukan telah meninggal. Tetapi itu hanya berlaku buat mereka yang juga menyatakan kalau mereka percaya bahwa stres itu berbahaya bagi kesehatan. Sedangkan bagi mereka yang menyatakan sedang stres berat, tetapi pada saat yang bersamaan tidak percaya bahwa stres itu berbahaya, mereka merupakan kelompok dengan resiko terkecil dari semua kelompok dalam penelitian tersebut. Bahkan lebih kecil dibandingkan dengan kelompok yang merasa dirinya stres ringan tapi percaya kalau stres itu berbahaya. (Keller, Litzelman, Wisk, et al. 2012)

Di amerika sendiri selama tahun 2012, terdapat 182.000 kematian bukan akibat stres, tetapi karena keyakinan bahwa stres itu berbahaya bagi kesehatan. Mereka meninggal karena kepercayaannya. Terdengar lucu dan tragis pada saat bersamaan. Angka ini lebih tinggi bahkan dibandingkan kanker, pembunuhan dan HIV AIDS.

Dan selama ini saya terus diajarkan dan diyakinkan bahwa stres itu berbahaya bagi kesehatan. Terlebih saya mengajarkan ke banyak orang, baik dewasa maupun remaja. Semoga tidak ada yang meninggal akibat apa yang saya ajarkan ini.

stress

Penelitian ini membawa sebuah pertanyaan baru : apakah dengan cara kita mengganti cara berpikir kita mengenai stres dapat membuat kita lebih sehat?

Jawabannya adalah iya!

Saat kita mulai merasa tertekan, maka jantung kita akan mulai berdetak lebih cepat, napas lebih cepat dan pendek-pendek, dan berkeringat. Bagi banyak orang mungkin gejala di atas digambarkan sebagai gejala panik ataupun cemas. Namun kita juga bisa melihat bahwa kondisi tersebut adalah cara tubuh kita memompa energi ekstra agar mampu mengatasi hambatan. Detak jantung lebih kencang karena tubuh kita diberikan pasokan darah lebih banyak sehingga lebih aktif. Napas lebih cepat karena tubuh memasukkan pasokan oksigen lebih banyak ke otak untuk mengoptimalkan performa otak. Tubuh berkeringat menunjukkan badan membakar kalori lebih banyak demi menghasilkan energi untuk tubuh. Sehingga dapat disimpulkan tubuh kita bersiap untuk berjuang.

Sebuah penelitian yang disebut dengan nama Social Stress Test yang diadakan oleh Jamieson, Nock, & Mendes (2012) dari Fakultas Psikologi, Universitas Harvard menampilkan bahwa cara berpikir kita menentukan bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap stres. Dalam penelitian ini peserta secara tiba-tiba diminta untuk memberikan pidato singkat tentang kelemahannya di depan panggung dengan lampu sorot, beberapa kamera video dan panelis ahli yang sudah diarahkan untuk menampilkan ekspresi wajah yang menyebalkan, merendahkan, tidak sabar dan bosan selama peserta berpidato singkat. Setelah itu peserta diberikan tes matematika yang sulit secara lisan, sambil terus diburu-buru menjawab. Intinya peserta dibuat stres, namun sebelumnya peserta diberikan pengetahuan bahwa stres itu artinya mempersiapkan tubuh kita untuk berjuang. Persis yang saya tuliskan di paragraf sebelum ini.

Hasilnya :

Pada umumnya pembuluh darah dekat jantung ketika kita sedang mengalami stres maka akan menebal dan mengencang. Sehingga darah yang terpompa keras dan deras terus menerus selama stres melewati pembeluh darah yang tebal dan kencang tersebut sangat tidak sehat. Oleh karena itu mengapa sakit jantung sangat erat hubungannya dengan gejala stres.

Tetapi hasil yang berbeda ditemukan pada partisipan penelitian yang telah diberitahu kalau stres itu baik bagi tubuh. Pembuluh darahnya tetap lentur, tipis dan relaks, walaupun jantung berdetak cepat. Hal ini adalah kondisi yang jauh lebih sehat dan bahkan mirip dengan kondisi jantung di saat kita merasakan kebahagiaan (kesenangan setelah diterima lamarannya oleh pasangan) atau keberanian.

Pemikiran kita mempengaruhi bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap stres

Pemikiran kita mempengaruhi bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap stres

Stress Makes You Social

Hormon-hormon yang umum dikaitkan dengan stres antara lain : adrenalin dan cortisol. Namun ada satu hormon yang jarang dilihat sebagai hormon stres, yaitu hormon oksitosin. Hormon ini seringkali disebut sebagai cuddle hormone, karena terproduksi saat kita berpelukan dengan orang yang kita kasihi. Hormon ini memiliki fungsi untuk meregenerasi sel jantung yang rusak akibat hormon stres lain, sehingga dapat menyehatkan dan menguatkan jantung kita. Catatan tambahan, hormon ini juga berguna sekali bagi ibu yang menyusui untuk mampu menghasilkan ASI yang baik. Oleh karena itu sering dikatakan dukungan afeksi dan moril suami bagi ibu hamil sangat menentukan kualitas ASI, karena hormon ini memang terproduksi banyak ketika kita memiliki kedekatan dan kenyamanan emosi dengan orang yang kita kasihi.

Oksitosin : The Love Hormone

Oksitosin : The Love Hormone

Hormon oksitosin keluar pada saat kita stres. Ketika keluar, hormon ini meningkatkan insting sosial kita sebagai manusia yang kemudian membuat diri kita timbul kebutuhan dan keinginan untuk berhubungan dengan orang lain yang kita kasihi. Hormon ini meningkatkan kemampuan empati kita, meningkatkan kepedulian kita, dan kebutuhan kita untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak heran mengapa ketika kita stres, kita seringkali bisa merasa kesepian. Hal ini disebabkan tubuh kita mendorong kita untuk mencari orang lain, berkomunikasi dan mempererat hubungan, serta menceritakan masalah kita daripada malah menahannya sendiri.

Ketika kita mau mendengarkan kebutuhan itu, maka kita akan mempererat hubungan sosial kita dan pada akhirnya memperbanyak produksi hormon oksitosin dalam prosesnya, yang kemudian hormon ini akan memperkuat jantung kita dari stres. Stres mengajarkan dan mendorong kita untuk lebih peduli dan lebih mempererat dukungan sosial kita, sehingga pada akhirnya kita lebih kuat menghadapi tantangan stres.

Stress Is Good

Saat teman-teman membaca tulisan ini, mungkin tanpa disadari, tulisan ini bisa menyelamatkan hidup anda suatu saat nanti (atau mungkin sekarang). Setiap kali teman-teman merasakan stres mulai meningkat, tantangan hidup mulai menumpuk di hadapan kita, maka ingatlah semua hal yang telah teman-teman baca di tulisan ini.

Ingatlah :

  1. Saat kita memilih untuk memandang respon stres kita sebagai sesuatu yang membantu, maka kita akan menghasilkan sebuah sistem biologis dari keberanian dalam menghadapi tantangan.
  2. Ketika kita memilih untuk mempererat dan berhubungan dengan orang terkasih saat kita merasa stres, maka kita mampu menghasilkan sebuah ketahanan alami dalam menghadapi masalah.

Stres memberikan kepada diri kita sebuah akses ke dalam diri kita untuk peduli, berempati dan terhubung intim dengan lingkungan kita. Dan jantung kita yang memompa keras sedang memompa keberanian, kekuatan dan energi bagi kita untuk mengatasi segala tantangan yang kita hadapi.

Maka saat kita mampu memandang stres bukan sebagai “musuh”, tetapi sebagai “teman” yang mendukung kita, maka saat itu kita tidak hanya menjadi lebih percaya diri, tetapi kita mampu menjadi berani. Dan kita juga menjadi sadar bahwa kita tidak perlu menghadapi masalah-masalah kita sendiri.

Kastena Boshi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s