3 Racun Kebahagiaan

Setiap saat saya berbicara soal kebahagiaan, saya selalu tertarik untuk membicarakan filosofi agama Budha.

Mengapa?

Karena menurut saya, agama Budha memiliki filosofi tentang kebahagiaan yang menurut saya pribadi sangat mirip dengan ilmu psikologi yang saya pelajari. Sebelum memulai semua pembicaraan tentang filosofi Budhis, saya mengaku kalau saya penganut agama Budha. Tetapi apa yang saya tuliskan ini bukan sebuah opini yang lahir dari pandangan bias, tetapi sebuah opini yang lahir dari sebuah pemahaman saat mempelajari kedua ilmu tersebut : Budhisme dan Psikologi.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa semua orang pada dasarnya mencari kebahagiaan, tetapi seringkali seumur hidup terjebak dalam ketidakbahagiaan. Dalam agama Budha disebutkan ada 3 racun yang membuat manusia terjebak dalam samsara (kesengsaraan). Secara sederhana ketiga racun (bahasa sansekerta : triviṣa) adalah penyebab manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang pada akhirnya membuat dirinya terjebak hidup dalam kesengsaraan. Ketiga racun inilah yang menyebabkan lahirnya karma dan pada akhirnya memutus hubungan manusia dengan sumber kebahagiaan utama : nirwana (surga).

Wheel Of Life (Roda Kehidupan)

Wheel Of Life (Roda Kehidupan)

Ketiga racun tersebut, yaitu :

1. keserakahan

Keserakahan adalah sebuah nafsu atas kepemilikan (material/non-material) yang tidak pernah terpuaskan. Ketidakpuasan akan hal-hal duniawi (istilah budhis) inilah yang menyebabkan manusia terjebak dalam pengejaran yang tidak pernah berakhir.

Kekayaan/harta, seks, status/kenamaan, makanan, dan kehidupan yang bersenang-senang adalah hal-hal yang selama ini diartikan sebagai sumber kebahagiaan oleh manusia. Oleh karena itu, manusia selama hidupnya terfokus untuk mendapatkan hal itu dengan segala daya dan upaya. Setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Sayangnya kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama. Sehingga akhirnya kita berupaya mendapatkan lebih dan lebih, demi mendapatkan kembali perasaan bahagia tersebut.

Keserakahan merupakan benih dari kejahatan di dunia ini dari yang kecil sampai besar, seperti : pencurian, perampokan, korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, pengerusakan hutan, pengeksploitasian manusia, dan sebagainya.

Cara kita menghilangkan keserakahan adalah dengan melatih kebiasaan memberi/menolong. Sering-seringlah beramal, maka perlahan-lahan kita bukan hanya dapat mengurangi sifat serakah, tetapi kebahagiaan juga akan mendatangi kita. Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita terbiasa dalam memberi/beramal, level kebahagiaan kita meningkat.

Keserakahan

Keserakahan

2. Kebencian / Amarah

Racun kedua ini terdiri dari 2 hal besar yang seringkali saling terkait, yaitu kebencian dan amarah.

Tersiksa oleh kebencian dan amarah

Tersiksa oleh kebencian dan amarah

Amarah adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengontrol kemarahan dalam diri yang akhirnya merusak diri sendiri. Amarah yang tidak terkontrol akan membuat diri kita terluka secara emosi, menjadi tidak tenang, pikiran cemas & terokupasi dengan pemikiran negatif. Semua hal tersebut pada akhirnya akan menyengsarakan hidup kita dan kebahagiaan akan semakin sulit diraih.

Kebencian muncul akibat dari perbandingan. Ketika kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, maka kebencian seringkali muncul sebagai konsekuensinya. Perasaan tidak adil, kebencian, iri hati dan dendam. Kita terfokus akan pada keberhasilan, kekayaan, keahlian yang dimiliki orang lain dan terus menerus merasa tidak adil. Kebencian ibarat lintah emosi, ia terus menyedot kebahagiaan dan pikiran positif seseorang, sampai pada satu titik kebencian akan “membunuh” orang tersebut dari dalam.

Kebencian adalah benih dari segala penurunan moral manusia. Kita menjadi berani dan terdorong melakukan hal-hal yang tidak bermoral hanya demi memuaskan kebencian yang kita rasakan. Anak membunuh orangtua, suami menyiksa dan membunuh istri demi asuransi, membunuh pacar karena cemburu, dan sebagainya.

Cara menghilangkan kebencian dan amarah adalah dengan melatih kebiasaan bersyukur. Terdengar klise, tetapi penelitian menunjukkan bahwa rasa bersyukur akan membuat kita menjadi bahagia, karena dengan rasa bersyukur kita menjadi terfokus apa yang baik dalam hidup kita dibandingkan apa yang kita tidak miliki.

3. Kebodohan

Kebodohan dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan kepintaran IQ seseorang. Bahkan dalam konsep ini, seringkali kepintaran seseorang menjadi sumber kebodohan seseorang. Semakin pintar seseorang, seringkali semakin bodoh orang tersebut.

Kebodohan di sini berarti ketidakmampuan seseorang dalam memahami hal yang sejati dan yang palsu, serta keras kepala. Ketidakmampuan manusia dalam melihat hal apa yang mendatangkan kebahagiaan sejati, pada akhirnya menjadikan manusia terfokus dalam mengejar hal duniawi sebagai sumber kebahagiaan. Selain itu, ketidaktahuan ini ditambah parah dengan kekeraskepalaan dalam mempertahankan keyakinan salah yang dimilikinya. Menutup kuping dan mata seerat-eratnya terhadap bukti-bukti nyata yang menunjukkan kebalikan dari apa yang kita yakini. Selamanya hidup dalam keyakinan bahwa apa yang kita yakini adalah benar, dan orang lain salah. Itulah kebodohan.

Itulah sebabnya mengapa orang yang pintar seringkali adalah orang yang bodoh, karena seringkali pengetahuan dan pengalaman mereka membuat pemikiran mereka menjadi tertutup akan kemungkinan lain.

Kebodohan ini dalam konsep 3 racun agama Budha merupakan bibit dari 2 racun lainnya. Dari ketidakmampuan melihat sumber kebahagiaan sejati, maka manusia menjadi serakah mengejar harta material, jabatan, status, dan banyak hal duniawi lainnya. Keserakahan akan membuat manusia mulai saling membandingkan dan menimbulkan kebencian. Di mana kebencian pada akhirnya membuat kebijaksanaan manusia tertutup, maka semakin bodohlah manusia tersebut.

Kebodohan

Kita semua sebagai manusia ingin memiliki hidup yang bahagia. Untuk memperoleh kebahagiaan tersebut, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuang 3 racun yang ada di dalam tubuh kita.

Ambil keberanian untuk mempertanyakan apakah kita telah melakukan hal yang tepat dalam mengejar kebahagiaan.

Mulailah untuk membuka mata dan telinga untuk melihat bukti-bukti yang ada bahwa kebahagiaan kita tidak berasal dari seberapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi status jabatan kita.

Berhentilah mengejar kebahagiaan, karena pada dasarnya kebahagiaan tidak pernah berada jauh dari kita.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau melihat kebahagiaan tersebut? Atau masih ingin terus mengejar hal lain yang kita anggap kebahagiaan?

Kastena Boshi

 

One comment

  1. Yudi Cahyudi · August 25, 2014

    What an inspiring article !!! Heart warming..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s