Kisah Luar Biasa Menjadi Luar Biasa Salah

Follow me @WilliamSBudiman

Sejak saya kecil, saya sangat suka membaca kisah-kisah dari para tokoh sukses. Waktu saya membaca kisah inspirasi tersebut dari buku komik “Seri Tokoh Dunia”. Sepertinya buku komik itu adalah buku wajib yang dibelikan oleh orangtua ke anaknya yang masih duduk di SD, dan itu juga buku wajib yang dapat kita temukan di setiap perpustakaan sekolah. Saya yakin 80% dari teman-teman yang membaca tulisan saya ini pasti pernah membaca buku tersebut.

Buku seri tokoh dunia

Sekarang, saya membaca kisah sukses tokoh bukan lagi melalui buku komik, tetapi melalui buku-buku motivasi dan pengembangan diri, buku kumpulan kisah inspiratif seperti Chicken Soup (a very great books by the way), maupun dari artikel-artikel yang dapat kita temukan di dunia maya. Saya yakin bahwa bukan hanya saya pencinta kisah inspirasif dan kisah sukses ini, tapi hampir semua orang sangat suka membaca atau mendengarnya.

Why we love that kind of stories?

Trio Macan Dunia MayaMenurut saya, kisah sukses inspiratif tersebut secara psikologis seperti minuman energi bagi pikiran dan mental. Saya selalu menjadi lebih bersemangat dan optimis ketika selesai membaca kisah tersebut. Setiap saya membaca saya menemukan banyak sekali orang yang mirip seperti saya kondisinya atau bahkan lebih parah, namun pada akhirnya dapat menggapai mimpi dan hidup dalam kehidupan yang tidak pernah dibayangkan oleh dirinya. Bagi saya, kalau mereka saja bisa, maka artinya saya pun pasti bisa.

Berbicara tentang tokoh sukses, terdapat 3 tokoh yang paling berpengaruh bagi masyarakat dunia saat ini, yaitu : Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg. Saya bilang bahwa mereka bertiga sangat berpengaruh, karena mereka berperan sangat besar dalam melahirkan era digital dan teknologi pada masa kini. Siapa yang tidak mengenal atau menggunakan produk mereka?

Siapa yang tidak mengenal Microsoft, Apple dan Facebook? Itu adalah tiga brand paling terkenal dan memiliki jutaan pengguna di seluruh belahan dunia.

Kembali pada topik kisah sukses inspiratif, mereka bertiga memiliki kesamaan yang sangat mencolok, yaitu :

  • jenius,
  • milyader
  • tidak lulus sekolah!

Karakteristik terakhir saya tekankan karena memang mereka terkenal akan hal tersebut, dan bagian tersebut sangat ditekankan dalam kisah hidup mereka. Tidak lulus sekolah, tapi berhasil sukses.

Kalau kita pernah benar-benar mengikuti kisahnya, maka pasti kita menemukan benang merah dari kisah hidup ketiga tokoh sukses di atas, yaitu :

  1. Cinta belajar walau tidak sekolah. Karena belajar ≠ sekolah.
  2. Memiliki gairah dalam bekerja yang sesuai dengan minatnya.
  3. Berpikiran maju dibandingkan orang-orang segenerasinya.
  4. Bertindak lebih banyak dibanding berwacana.
  5. Bekerja lebih keras dibandingkan orang lain dalam merealisasikan mimpi mereka.
  6. Mereka berhasil dan menikmati kesuksesan mereka dalam berkelimpahan kekayaan.

Jadi kalau kisah hidup mereka bertiga dibuat rumusnya, maka rumus tersebut adalah :

Kesuksesan = Belajar (- Edukasi) + Passion +  Visi + take action + Work Hard

Sayangnya tidak semua orang memahami kisah mereka seperti yang saya tuliskan di atas. Tidak banyak orang yang benar-benar membaca dan mempelajari kisah hidup mereka. Sebagian besar orang-orang hanya memahami kisah tersebut pada : “Mereka tidak lulus sekolah dan mereka sukses. Jadi pendidikan tidak penting dalam kesuksesan. Jadi sekolah itu tidak penting.”

Sebagian besar orang akhirnya merumuskan kisah inspiratif tersebut hanya menjadi :

Kesuksesan = (-edukasi)

Poin karakteristik penting lainnya terlewatkan dan dihapus begitu saja.

Buku BILLIONAIRE BOY mark zuckerbergYang lebih menyedihkan lagi, pamahaman keliru ini dimiliki oleh para anak dan remaja. Saya dalam setiap seminar dan training di sekolah-sekolah, seringkali menemukan pemahaman keliru ini. Sekali saya diundang oleh sebuah sekolah untuk berbicara dalam sebuah seminar motivasi bagi anak-anak “bermasalah” yang sudah mendapat vonis tidak naik kelas.

Ketika berjalannya waktu dan saya banyak berdiskusi dengan mereka, ternyata salah satu penyebab mereka malas belajar dan jatuh dalam keadaan seperti itu karena keyakinan bahwa pendidikan itu tidak penting. Banyak yang suka menyeletuk “Steve Jobs aja ga lulus tapi sukses.

Ketika banyak dari anak-anak remaja (bahkan mungkin orang dewasa) di Indonesia memiliki pola pikir keyakinan seperti itu, siapa yang harus bertanggung jawab?

Pendapat saya pribadi, ini adalah sebuah contoh nyata di mana sebuah kisah luar biasa menjadi luar biasa salah.

Mengajarkan nilai hidup melalui kisah atau cerita adalah sebuah cara yang sangat bagus, karena cerita memberikan muatan emosi dalam kata-kata dan pesan. Semakin kuat muatan emosinya, maka semakin terjalin hubungan emosi antara tokoh dalam cerita dengan pendengar/pembaca. Semakin kuat ikatan emosi yang terjalin, maka semakin kuat juga keinginan untuk meniru dan mengikuti nilai yang disampaikan dalam cerita. Akan tetapi, ketika kita salah dalam proses bercerita, maka pesan yang disampaikan akan salah. Hasilnya orang yang membaca atau mendengar akan berperilaku yang berbeda.

Oleh karena itu berhati-hatilah dengan kisah inspiratif. Semua kisah inspiratif memiliki poin pembelajaran yang positif, tapi tidak semua kisah inspiratif berdampak positif. Jadi ketika kita mengajarkan orang lain, terutama anak-anak, melalui sebuah kisah inspiratif, maka pastikan poin pembelajaran ditekankan dengan jelas dan lengkap. Jangan sampai niat kita untuk “menyelamatkan” orang lain malah berakhir tragis. Apalagi jika mereka adalah orang yang kita sayangi.

Kastena Boshi

Please help me share this story. Just click share button below.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s