Berkaca Dari Finlandia, Penghasil Sistem Pendidikan Terbaik Dunia

Finlandia.

Ada yang tahu negara itu?

Kalau jaman dulu, negara ini dikenal dunia sebagai penghasil Nokia. Nokia adalah brand handphone dan smartphone paling wahid di Indonesia pas awal tahun 2000an. Saat ini, Finlandia adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia selama beberapa tahun terakhir.

Membaca beberapa artikel berita tentang sistem pendidikan di Finland membuat saya sempat merasa skeptis dan bertanya-tanya “Ini beneran? gimana caranya?” 

Bagaimana caranya saya tidak bingung, karena selama ini saya tidak pernah berpikir bahwa hal tersebut mungkin dilakukan atau bahkan boleh dilakukan dalam dunia pendidikan! Mari saya sebutkan beberapa fakta yang membuat saya kaget :

  1.  Anak baru sekolah ketika berumur 7 tahun,
  2. Anak-anak tidak dinilai atau dites apapun selama 6 tahun pertama sekolah,
  3. Standarisasi tes (ini adalah UN di Indonesia) hanya dilakukan 1 kali ketika mereka umur 16 tahun,
  4. Sekolah gratis,
  5. Waktu sekolah setiap hari hanya kurang lebih 4 jam sehari,
  6. Minim (kalau tidak bisa dibilang tidak ada) PR.

Finnish Education Chief: ‘We Created a School System Based on Equality’

Why Are Finland’s Schools Successful?

What we can learn from Finland’s successful school reform

From Finland, an Intriguing School-Reform Model

Finnish Education in a Nutshell

Oh my gosh!! Sekolah hanya 4 jam, tidak ada PR, dan UN cuma 1 kali. Ini impian semua murid sepertinya.

Jika dibandingkan dengan apa yang dilalui oleh murid di Indonesia, seperti ini sangat bertolak belakang. Dan dikarenakan seumur hidup saya sudah terbiasa melihat dan menjalani sistem pendidikan kita, maka fakta-fakta di atas seperti tidak masuk akal. Namun fakta tetap fakta dan hasil pengukuran untuk siswa internasional yang dilakukan oleh OECD menunjukkan kalau Finlandia secara konsisten berhasil mengalahkan negara-negara lain di dunia.

Dari apa yang saya baca, banyak sekali yang bisa dibahas mengenai aspek-aspek dari sistem pendidikan di Finlandia. Saya akan membagikan pengetahuan saya dan didampingi dengan opini saya akan hal apa yang harusnya dilakukan pemerintah dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya. Pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas 1 hal penting yang menurut saya faktor utama keberhasilan dari sistem pendidikan di Finlandia. Faktor tersebut adalah guru.

Menurut saya semua perencanaan kurikulum di luar dari plus minusnya, jika dijalankan dan diaplikasikan dengan tepat maka pasti ada dampak positif yang dapat dirasakan, entah dampak tersebut besar atau kecil. Namun mengapa ada negara yang sistem pendidikannya berhasil, namun ada yang tidak efektif. Bagi saya, jawabannya adalah kesiapan guru.

Quote SB - Kesiapaan Guru

Tahun 1970an Finlandia mengalami sebuah “kegagalan” sistem pendidikan, dan saat itu mereka melakukan sebuah perubahan besar-besaran dan menaruh investasi besar-besaran pada hal yang tepat. Investasi besar-besaran itu diletakkan pada pendidikan guru.

Dalam sistem pendidikan saat ini, syarat utama untuk menjadi guru resmi di Finlandia adalah gelar master atau S2. Bagi guru yang mengajar umum di kelas, mereka harus mengambil gelas master dalam bidang pendidikan. Sedangkan guru yang mengajar subjek pelajaran yang spesifik (seperti sejarah, matematika, dsb), mereka diwajibkan mengambil gelar master pada bidang masing-masing. Selain itu mereka juga diwajibkan belajar mengenai pembelajaran pedagogi dan metode pembelajaran lainnya demi menyokong kemampuan setiap guru dalam mengajar. Hebatnya adalah semua pembiayaan sekolah guru tersebut disubsidi oleh pemerintah!

Pembelajaran para guru ini tidak berhenti di sana. Setelah mereka sudah menjadi guru, mereka tetap digaji untuk pengembangan diri. Jadi gaji yang dibayarkan meliputi 4 jam mengajar di kelas dan 2 jam untuk program pengembangan profesional yang dirasa dapat membantu dirinya menjadi guru yang lebih baik.

Kemudian guru dijadikan profesi yang dihormati dan bergengsi, seperti halnya dokter dan pengacara. Hanya 10% dari lulusan dengan nilai terbaik yang dapat menjadi guru. Jadi guru bukan lagi menjadi pilihan ketiga atau keempat dari seorang lulusan. Jika di negara lain, mungkin seorang lulusan bisnis akan berpikir kerja di perusahaan dan menolak bekerja sebagai guru ekonomi sekolah. Tetapi tidak kasusnya di Finlandia.

Menurut saya, apa yang dilakukan oleh pemerintah Finlandia sangat berani dan tepat, sehingga mereka menikmati buah manisnya saat ini.

Mendidik guru sangat penting!

Sederhananya adalah bagaimana caranya sekolah dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki keunggulan kompetitif , jika guru yang mendidik ternyata pendidikannya rendah. Jangan pernah berharap melahirkan generasi yang hebat dan terdidik tanpa guru yang terdidik. Mungkin di Indonesia banyak melahirkan orang hebat dari sistem pendidikan yang ada. Benar! kata kuncinya orang hebat. Jadi sifatnya hanya sporadik bukan rata-rata penduduk.

Quote SB - indikasi kesuksesan pendidikan

Dengan mendidik guru sampai tingkat pendidikan yang tinggi, maka guru tersebut akan semakin terbuka pandangan dan pola pemikirannya, semakin ahli dalam bidangnya, kritis, dan mengetahui banyak informasi yang berguna dalam mengajar. Selain itu dengan pendidikan yang tinggi memungkinkan guru menjadi lebih dari siap untuk mengimplementasi kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah.

Apa yang terjadi di Indonesia?

Perubahan kurikulum tidak diimbangi dengan kapasitas guru, sehingga terjadi sebuah masalah besar dalam mengimplementasikannya di dalam pengajaran di sekolah. Guru di Indonesia tidak merata kemampuan dan pendidikannya. Tidak perlu berbicara dalam tataran negara, bicara saja dalam tataran kota Jakarta. Kapasitas dan kompetensi guru di Jakarta sangat tidak merata antar sekolah. Ada guru yang sudah sangat terdidik dan mengerti metode pengajaran dan pembelajaran terkini, tetapi kemewahan (ya kemewahan) itu hanya dinikmati oleh segelintir orang yang mampu.

Saya pernah terlibat dalam sebuah project program pelatihan peningkatan kualitas hidup bagi siswa/i tidak mampu di Jakarta. Project itu adalah kerjasama antara sebuah yayasan dari Pemda dengan Fakultas Psikologi Unika Atmajaya. Dalam satu kesempatan, saya ngobrol dengan satu guru dari sekolah negeri peserta program.

Beliau bercerita tentang kisahnya menjadi guru. Ternyata beliau masuk menjadi guru awalnya hanya ditawarkan oleh temannya. Ia diberi 1 buku PMP untuk dipelajari, lalu besoknya langsung mengajar sambil diobservasi oleh kepala sekolah untuk dievaluasi. Hasilnya cukup baik dan ia langsung diterima menjadi guru. Catatan, guru itu tidak punya latar belakang pendidikan dalam subjek PMP/kewarganegaraan, tidak pernah mengajar sebelumnya, tetapi langsung diterima mengajar.

Saya kaget saat itu, menurut saya itu hal yang sangat salah! Tapi saya pada saat yang bersamaan paham karena sekolah sedang kekurangan guru. Namun guru yang sudah terdidik, tidak mau dengan gaji seadanya yang dapat ditawarkan sekolah. Sebuah cerita yang mungkin tidak asing dalam kisah pendidikan kita.

Pertanyaan saya, bagaimana pendidikan bisa berjalan baik bila banyak hal senada (baik derajatnya tidak separah ataupun lebih parah) dari kisah saya di atas?

Saya merasa bahwa menjadi guru adalah profesi paling kejam. Menjadi ujung tombak yang langsung mendidik anak-anak. Di satu sisi ditekan oleh pemerintah dan sekolah melalui kurikulum dan target-targetnya. Namun tuntutan sebesar itu tidak pernah diimbangi dengan investasi yang besar dari pemerintah. Sudah gaji seadanya, selalu jadi kambing hitam pertama apabila terjadi kegagalan suatu pendidikan. Belum lagi, guru selalu menjadi pelampiasan amarah orangtua akan kesalahan/kegagalan anaknya.

Orangtua yang tercinta, mungkin perlu saya ingatkan bahwa walaupun teman-teman sudah membayar uang sekolah mahal, guru bukan karyawan kita. Mereka pendidik anak kita, yang mungkin lebih banyak mengajarkan nilai-nilai hidup positif kepada anak dibandingkan beberapa orangtua. So show some respect.

Menghormati guru juga bukan berarti menutup mata dari kesalahan dan berhenti mengkritik. Kita harus mengkritik demi sebuah kemajuan. Guru juga harus mau terus mendorong diri untuk berubah, bahkan bila itu artinya harus belajar pada orang yang lebih muda. Karena terkadang orang yang lebih junior mampu memberikan sudut pandang baru akan sebuah generasi yang telah berubah.

Tetapi hal yang paling penting adalah pemerintah!

Jangan hanya bisa mengubah kurikulum dan meminta hasil implementasi. Kembangkan guru yang kalian punya. Berikan investasi pendidikan yang tinggi bagi mereka. Berikan gaji yang sepadan atas tuntutan tanggung jawabnya. Teman-teman pemerintah (terutama kemendikbud) sudah mempunyai sebuah contoh yang baik dari negara Finlandia, maka mulailah membuat sebuah perubahan yang berarti.

Jangan hanya meributkan nama tokoh yang muncul di UN, tapi berikan guru-guru kami pendidikan yang lebih baik!

Saya sangat berharap suatu saat pendidikan Indonesia bisa memiliki kisah yang sama dengan pendidikan di Finlandia.

Apakah harapan saya ini berlebihan dan tidak masuk akal?

Kastena boshi

3 comments

  1. Yudi Cahyudi · June 26, 2014

    What is shown up (education system) in Finland seems to be so inspiring, to duplicate it in Indonesia, for me, it affords to execute IF ONLY the president is someone that prioritizes EDUCATION as the tool to better the generation, otherwise it will be just as a lip service.

  2. Ruangguru.com · February 15

    Benar sekali, Finlandia merupakan negara yang menghasilkan sistem pendidikan terbaik saat ini. Sistem yang digunakan tidak memberatkan anak usia sekolah. Sekolah dibuat sangat menyenangkan dan setiap anak di sana dapat mendapatkan pendidikan secara gratis. Negara sangat menjamin pendidikan mereka, sehingga terwujudlah sumber daya manusia Finlandia yang berkualitas.

  3. Edwin · February 23

    Dari berbagai sumber yang saya baca tentang pendidikan di Finlandia, saya lebih memahami sistem Finlandia dari artikel ini, kata-katanya ringan dan mudah dipahami. Informatif sekali, semoga bermanfaat juga untuk yang lain.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s