William Budiman


3 Comments

3 Pelajaran Yang Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan Indonesia

Mengajar seorang anak tentang bagaimana cara berlayar, bisa menjadi tepat ataupun menjadi sia-sia.

Sia-sia adalah ketika mengajarkan kepada anak yang tinggal di daerah pergunungan.

Tepat adalah ketika mengajarkan kepada seorang anak yang tinggal di daerah pantai atau kampung nelayan.

Sia-sia mengajarkan cara berlayar ke anak gunung, karena kebutuhan untuk berlayar minim atau bahkan tidak ada.

Tepat mengajarkan cara berlayar ke anak nelayan, karena mereka membutuhkan kemampuan tersebut untuk menunjang kehidupannya sehari-hari.

Melalui contoh di atas, kita melihat bahwa apakah suatu mata pelajaran itu tepat diajarkan atau hanya sebuah kesia-siaan, semua tergantung dengan relevansi mata pelajaran tersebut dengan kehidupan murid. Dengan kata lain yang lebih sederhana, pembelajaran yang baik harus memperhatikan kebutuhan anak-anak tersebut.

Better education Better nation

Ketika kita mengajarkan kepada seorang anak yang tidak ada relevansi dengan kehidupannya, baik sekarang ataupun di masa depan, maka hal tersebut menjadi sebuah kesia-siaan besar bagi sang murid. Anak tersebut telah menghabiskan berpuluh-puluh jam mempelajari sesuatu pelajaran yang penggunaan dalam kehidupannya sangat minim.

Sekarang kita berbicara tentang mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Saya pribadi merasa bahwa mata pelajaran yang ada dalam kurikulum pendidikan kita, sebagian dapat digolongkan ke dalam kategori sia-sia, sebagian lagi masuk ke dalam kategori yang sudah tepat. Tetapi, selain kedua kategori tersebut, ada kategori ketiga. Kategori ini terdiri dari mata pelajaran-mata pelajaran yang  relevansinya dengan kebutuhan di masyarakat sangat tinggi, tetapi belum masuk dalam kurikulum. Sederhananya : dalam kehidupan sangat dibutuhkan tetapi tidak diajarkan di sekolah-sekolah.

Continue reading


Leave a comment

Jangan Jadikan Jokowi Sebagai Pahlawan

Peringatan : Ini adalah opini saya sebagai seorang pendukung Jokowi sebagai capres dalam konteks Pemilu 2014. Tentunya opini saya akan positif tentang Jokowi. Jika teman-teman bukan pendukung Jokowi dan tidak menyukai Jokowi, saya anjurkan jangan baca tulisan ini, kecuali teman-teman mau menerima, mempertimbangkan dan menghargai opini saya ini. Terima kasih.

Joko WidodoPertama kali saya mendengar soal nama Ir. H. Joko Widodo a.k.a Jokowi adalah saat masa persiapan pemilihan Gubernur Jakarta. Saat itu Jokowi bersama Ahok mencalonkan diri sebagai calon orang nomor 1 dan 2 di Jakarta. Terus terang saat itu sikap saya cenderung netral terhadap Jokowi. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai tertarik dengan tokoh yang satu ini. Pendekatannya dalam berkampanye dan komunikasi politik yang dilakukan oleh beliau selama kampanye cagub menarik untuk diperhatikan. 

Bagi saya ada 3 hal yang menarik, bahkan mungkin ini faktor yang membuat dirinya menang dalam pemilihan Gubernur Jakarta.

1. Prestasi nyata yang gemilang

Saat maju sebagai cagub, beliau sudah menunjukkan kapasitasnya dalam memimpin saat menjabat sebagai walikota Solo. Beliau berhasi mentransformasi kota Solo menjadi salah satu kota terbaik di Indonesia. Selain itu beliau sudah mengantongi penghargaan internasional sebagai salah satu walikota terbaik di dunia oleh website worldmayor.com [sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/01/08/231452760/Jokowi-Wali-Kota-Terbaik-Ketiga-Dunia].

Bandingkan saja dengan prestasi yang dimiliki oleh kedua pendahulu Jokowi : Sutiyoso dan Fauzi Bowo. Sutiyoso sebelum menjadi gubernur Jakarta adalah seorang Panglima Kodam Jaya yang cukup berprestasi, tetapi tidak memiliki pengalaman apalagi prestasi sebagai pemimpin sebuah kota ataupun provinsi [sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sutiyoso]. Sedangkan Fauzi Bowo prestasi yang dimilikinya sebelum menjadi Gubernur Jakarta, ya……..wakilnya Bang Yos. Continue reading


Leave a comment

The Raid 2 Berandal : Totalitas + Kualitas = Mind Blowing!

The Raid 2 Berandal

The Raid 2 Berandal definitely is a mind-blowingly and insanely brutal yet incredibly beauty and awesome action movie that was ever made! EVER!

Bagi teman-teman pecinta film action dan bela diri pasti akan setuju dengan pernyataan saya di atas. Film ini dari segala aspek merupakan sebuah masterpieceterutama aspek sinematografi, film scoring (penataan musik) dan koreografi. It’s super cool!! Musik dalam film ini dijahit dengan sangat sempurna dan membantu kita merasakan suasana dan emosi dari setiap scene film. Kemudian, ini adalah pertama kalinya saya nonton film action dan terpana dengan angle pengambilan gambarnya dan sinematografinya. Detil-detil kecil dalam film ini diperhatikan dengan sangat telaten. It’s so beautiful!  Continue reading


19 Comments

Video Games Si Guru Ideal

video-gamePada tulisan terdahulu saya, saya menyebutkan bahwa video games adalah guru yang lebih baik dari pada guru-guru di sekolah. Saya berkata demikian karena video games terbukti mampu menumbuhkan minat belajar dan inisiatif belajar dalam diri anak-anak, padahal itu seharusnya adalah tugas dari seorang guru. Tetapi yang terjadi adalah guru-guru dengan tanpa sengaja malah menciptakan kondisi di mana para siswa membenci belajar. Seseorang yang memiliki tanggung jawab terbesar dalam menumbuhkan minat dan inisiatif belajar, malah menimbulkan kebencian dan keengganan dalam belajar. Ironis.

Saya merasa bahwa semua guru yang ingin mengajar harus mulai belajar dari video games untuk bisa menjadi seorang guru yang lebih baik. Continue reading


3 Comments

Saat Video Games Menjadi Guru Yang Lebih Baik Dari Guru Sekolah

Sampai saat tulisan ini saya keluarkan, saya masih mengalami kesulitan dalam menjelaskan pekerjaan saya kepada orang lain, baik orangtua, saudara, teman-teman sekolah maupun banyak orang lainnya. Pekerjaan saya adalah trainer dan saya mulai menjalani profesi ini sejak masih di bangku kuliah. Hampir setiap orang yang mendengar profesi saya, pertanyaan aneh ataupun kesimpulan aneh lainnya banyak bermunculan, seperti : “Oh MC kerjanya!”, “Jadi trainer kaya di fitnes gitu?”, sampai paling dekat itu “oh guru…”. 

Frustasi rasanya kalau harus menjelaskan profesi saya. Untunglah belakangan para motivator mulai bermunculan, salah satunya adalah Mario Teguh dengan “salam supernya” yang terkenal itu. Saya menjadi memiliki cara sederhana dalam menjelaskan pekerjaan saya : “Saya Mario Teguh, tapi berambut!”. Walaupun tetap tidak menjelaskan dengan tepat profesi saya, tetapi semua yang bertanya selalu langsung mendapat gambaran besar pekerjaan saya.

Saya sangat memaklumi kondisi tersebut, karena memang 10 tahun yang lalu sekitar tahun 2004, profesi trainer ini masih sangat minim bahkan belum ada. Kondisi yang sama juga terlihat untuk banyak profesi pekerjaan lain yang banyak dibutuhkan tahun 2014, tetapi belum ada pada saat 10 tahun lalu, bahkan 4 tahun lalu. Contoh profesi tersebut di Indonesia antara lain :

  • Social Media Strategists
  • App Developer
  • Personal Branding Consultant
  • Overseas Study Admissions Counselor
  • Stand Up Comedian

Hal ini disebabkan dengan terus berevolusinya ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian berdampak pada berkembangnya kebutuhan manusia. Perubahan tersebut terjadi sangat cepat baik kita sadari maupun tidak. Berdasarkan hasil survey menunjukkan bahwa 10 besar profesi pekerjaan yang paling dicari pada tahun 2010, belum ada pada tahun 2004. Continue reading


Leave a comment

Kisah Luar Biasa Menjadi Luar Biasa Salah

Follow me @WilliamSBudiman

Sejak saya kecil, saya sangat suka membaca kisah-kisah dari para tokoh sukses. Waktu saya membaca kisah inspirasi tersebut dari buku komik “Seri Tokoh Dunia”. Sepertinya buku komik itu adalah buku wajib yang dibelikan oleh orangtua ke anaknya yang masih duduk di SD, dan itu juga buku wajib yang dapat kita temukan di setiap perpustakaan sekolah. Saya yakin 80% dari teman-teman yang membaca tulisan saya ini pasti pernah membaca buku tersebut.

Buku seri tokoh dunia

Sekarang, saya membaca kisah sukses tokoh bukan lagi melalui buku komik, tetapi melalui buku-buku motivasi dan pengembangan diri, buku kumpulan kisah inspiratif seperti Chicken Soup (a very great books by the way), maupun dari artikel-artikel yang dapat kita temukan di dunia maya. Saya yakin bahwa bukan hanya saya pencinta kisah inspirasif dan kisah sukses ini, tapi hampir semua orang sangat suka membaca atau mendengarnya.

Why we love that kind of stories? Continue reading


Leave a comment

Brand It Like Beckham : The World Football Anomaly

Pada Headline halaman depan Koran Kompas edisi Sabtu 18 Mei 2013, tertampang foto David Beckham  dengan judul “Mau ke Mana Lagi, Beckham?” Lalu di bagian olahraga, Beckham mengambil 1 halaman penuh. Bahkan Berita pembahasan tentang Europa League : Benfica vs Chelsea hanya mengambil setengah halaman. Ini adalah hal yang mengagumkan dan luar biasa. Selama 17 tahun saya nonton sepakbola, saya tidak pernah melihat ada pesepakbola (bahkan olahragawan lain) yang pensiun dan mengambil headline di surat kabar nasional! Hanya Beckham satu-satunya.

Beckham Pensiun - Kompas

Setelah Beckham menyatakan pensiun, seperti yang telah diduga, respon di seluruh dunia langsung berhamburan. Banyak sekali artikel menulis tentang Beckham yang diikuti dengan komen-komen orang dalam artikel tersebut. Hal yang membuat sedih adalah dari sekian banyak komen tersebut cukup banyak orang yang mengkritik bahkan menghina Beckham. Komen tersebut memiliki pesan yang senada, antara lain :

  • Beckham bukan pemain hebat, dia hanya modal ganteng dan penampilan
  • Beckham adalah pemain bola yang overrated
  • Beckham bukan pemain bola, hanya bintang iklan yang dikontrak klub demi alasan marketing

Selama saya membaca komen tersebut, saya tidak berhenti berpikir dan bertanya :

Apa salahnya seorang pesepakbola menjadi terkenal untuk hal di luar sepakbola? Continue reading


11 Comments

Belajar Menjadi Bangsa Besar

September 2010 saya berangkat ke Xiamen, China. Saya mendapatkan beasiswa penuh 2 semester untuk jurusan bahasa dari pemerintah China. Sampai saat ini masa saya tinggal di negeri tirai bambu tersebut masih saya anggap sebagai salah satu masa paling membahagiakan dalam hidup saya. Belajar bahasa mandarin, belajar kebudayaan baru, berteman dengan sesama pelajar dari berbagai negara, travel ke beberapa kota di China secara spontan menggunakan kereta api. Tanpa terasa 1 tahun lewat sekejap mata. Padahal masih segar dalam ingatan saya, bagaimana pada bulan September awal tahun lalu, keluarga dan teman terdekat mengantar saya sampai ke Bandara Soekarno-Hatta. Mengantar kepergian saya ke China. Sekarang saya kembali ke Jakarta, Indonesia. Akhirnya saya bisa membayar lunas kerinduan saya makan gado-gado, nasi uduk, nasi kuning, sayur lodeh, minum es cendol, dan sebagainya.

Selama saya di China, saya menyadari bahwa negara kita beserta rakyatnya, masih perlu banyak belajar dari negara lain. China hanyalah negara yang “muda” jika dibandingkan Indonesia. China baru berumur 30 tahun sejak berdiri sebagai Republik, sedangkan Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun. Jika ingin kita personifikasikan, negara China hanyalah seorang pria dewasa yang bahkan belum terhitung separuh baya. Sedangkan Indonesia adalah seorang kakek berumur 66 tahun. Namun sangat disayangkan sekali perkembangan pembangunan di Indonesia harus kita akui kalah jauh dibanding dengan negara panda ini.

Saya menulis ini bukan hendak membanding-bandingkan Indonesia, apalagi menjelek-jelekan Indonesia. Saya mencintai negara Indonesia. Namun untuk bisa maju sebagai sebuah bangsa, saya yakin bahwa kita harus bisa mengakui dan menerima kenyataan bahwa negara kita masih banyak hal yang harus diperbaiki.

Belajar dari kelebihan negara lain menjadi salah satu cara tepat untuk dilakukan. Saya yakin banyak dari kita yang juga mempunyai pendapat yang sama. Tetapi saya mempunyai sedikit pandangan berbeda. Belajar dari negara dan bangsa lain tidak akan berguna apabila hanya pemerintahnya saja yang dituntut untuk belajar. Justru yang harus banyak belajar adalah kita, rakyat Indonesia secara keseluruhan.

bangsa besar

Sebelum beasiswa ini, saya juga pernah pergi ke belajar bahasa mandarin selama 1 bulan saat libur sekolah di Beijing pada tahun 1999. Saat itu usia saya adalah 14 tahun. Saat saya pergi tersebut saya melihat Beijing (Ibukota China) lebih buruk, lebih tertinggal dan lebih berantakan dibandingkan Jakarta. Sekarang, 12 tahun kemudian, kota tempat saya belajar yaitu Xiamen bahkan jauh lebih bagus, lebih tertata, lebih maju dan lebih bersih dibandingkan Jakarta. Xiamen adalah kota kecil seperti Batam. Sedangkan Jakarta adalah Ibukota, di mana merupakan kota terbesar dan termaju di di Indonesia. Kota terbesar di Indonesia kalah maju, kalah bersih dan kalah rapih dibandingkan kota kecil di China. Terus terang saya sempat berasa malu ketika pertama kali di Xiamen dan memikirkan kembali kota Jakarta.

Sejak 14 tahun lalu sampai hari ini, kondisi Jakarta masih tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali jumlah Mall dan Seven Eleven. Sedangkan kondisi angkutan umum di Jakarta tidak ada perubahan yang signifikan. Kedisiplinan masyarakat Jakarta masih sama saja; tidak ada perubahan. Jalanan di Jakarta masih sangat semerawut dengan segala pelanggaran lalu lintasnya. Dalam waktu 14 tahun, Jakarta seperti “gerak jalan”, namun China dalam 14 tahun seperti “berlari kesetanan”. Demi teman-teman mampu membayangkan kemajuan China, mari saya tuliskan beberapa kemajuan tersebut. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,109 other followers