William Budiman


Leave a comment

The Raid 2 Berandal : Totalitas + Kualitas = Mind Blowing!

The Raid 2 Berandal

The Raid 2 Berandal definitely is a mind-blowingly and insanely brutal yet incredibly beauty and awesome action movie that was ever made! EVER!

Bagi teman-teman pecinta film action dan bela diri pasti akan setuju dengan pernyataan saya di atas. Film ini dari segala aspek merupakan sebuah masterpieceterutama aspek sinematografi, film scoring (penataan musik) dan koreografi. It’s super cool!! Musik dalam film ini dijahit dengan sangat sempurna dan membantu kita merasakan suasana dan emosi dari setiap scene film. Kemudian, ini adalah pertama kalinya saya nonton film action dan terpana dengan angle pengambilan gambarnya dan sinematografinya. Detil-detil kecil dalam film ini diperhatikan dengan sangat telaten. It’s so beautiful!  Continue reading


3 Comments

Bermimpi, Percaya, Berdoa dan Berusaha

Pada usianya yang ke-34, Florence Chadwick memiliki tujuan untuk menjadi wanita pertama yang berhasil berenang dari Pulau Catalina menuju pesisir California. Jutaan Orang menyaksikan usahanya tersebut melalui TV pada tanggal 4 Juli 1952. Florence terlihat berjuang di hamparan lautan yang kelihatannya seperti padang es yang tak bertepi dan yang dikelilingi kabut yang sangat tebal. Begitu tebalnya kabut itu sehingga bahkan ia tidak dapat melihat perahu yang mengawalnya. Ibu dan pelatihnya berada dalam perahu itu sambil terus memberian dorongan dengan berteriak: “Ayo, sedikit lagi sudah hampir sampai !” Florence terus berjuang untuk melawan air laut yang dinginnya menembus kulit sambil menghindari ikan-ikan hiu yang berenang kearahnya. Ikan-ikan hiu itu hanya dapat diusir melalui tembakan senapan yang ditembakkan oleh pelatihnya dari perahu. Continue reading


4 Comments

Taking Responsibility

[lanjutan dari http://williambudiman.com/2012/02/17/berteman-dengan-kesalahan-dan-kegagalan/]

Pada tulisan saya sebelum ini, saya menekankan bahwa setiap kesuksesan pasti “ditemani” dengan kesalahan dan kegagalan. Saya menuliskan bahwa “KEBERHASILAN atau KESUKSESAN adalah HASIL dari akumulasi kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan yang telah direfleksikan dan diperbaiki“. Dalam bahasa yang lebih sederhana : untuk menjadi sukses, kita harus belajar dari setiap kesalahan dan kegagalan kita. Saya rasa semua orang tahu dengan hal ini. Bahkan saya yakin semua orang setuju akan hal ini. Oleh karena itu ada beberapa peribahasa yang menyebutkan hal yang bernada sama, seperti : “Pengalaman adalah guru yang terbaik” ; “keledai tidak jatuh pada lubang yang sama dua kali!”. Namun hal yang perlu kita cermati dan renungi adalah, apabila semua orang setuju bahwa kita harus belajar dari kesalahan dan kegagalan kita untuk menjadi sukses, mengapa masih lebih banyak orang yang tidak sukses dibanding sukses? Mengapa banyak sekali orang yang selalu terjebak dengan kesalahan dan kegagalan yang sama tanpa pernah menjadi lebih baik? Continue reading


5 Comments

Berteman dengan Kesalahan dan Kegagalan

Pekerjaan sebagai seorang trainer membawa saya bertemu dengan banyak orang-orang baru. Bertemu dengan teman-teman baru dari banyak latar belakang keluarga, agama, ras, ekonomi, umur, pendidikan bahkan bangsa yang berbeda. Pengalaman bisa berkenalan dan “bersentuhan” dengan banyak karakter individu yang unik inilah merupakan salah satu sebab mengapa saya mencintai pekerjaan saya ini. Kesempatan saya untuk belajar bersama dengan para peserta yang luar biasa di banyak kegiatan membuat saya melihat ada satu kesamaan ditengah-tengah perbedaan karakteristik para peserta. Kesamaannya adalah sebagian besar dari para peserta pelatihan, seminar dan workshop saya memiliki hambatan dalam memberikan pendapat!

Ketika saya mengajukan pertanyaan ataupun sebuah pernyataan, hanya sebagian kecil dari peserta saya yang berani untuk menjawab dan berpendapat. Sebagian besar lainnya memilih untuk tetap diam dan menjadi pendengar yang baik. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi ketika saya membantu sebuah training di Iran, fenomena ini pun terjadi. Hanya sebagian kecil peserta yang aktif dan berani memberikan pendapat. Tentunya banyak hal yang dapat menyebabkan fenomena ini, namun saya melihat ada satu penyebab yang cukup dominan, yaitu : TAKUT SALAH! Continue reading


14 Comments

Never Never Never Lose Hope

Alkisah dahulu kala di China, di daerah dekat perbatasan dengan negara lain, hiduplah seorang kakek tua. Kakek ini hidup dengan putranya. Suatu hari saat sedang membawa kudanya pergi makan ke padang rumput, sang putra tanpa sengaja membiarkan kudanya terlepas dan lari ke daerah negara lain. Mendengar kabar ini, para tetangga datang ke rumah sang kakek untuk menghibur beliau. Tanpa diduga, sang kakek malah berkata kepada para tetangganya, “saya memang kehilangan kuda, tapi belum tentu ini adalah sebuah kesialan atau hal buruk.” Mendengar perkataan sang kakek, seluruh tetangga yang datang menjadi bingung dan pulang.

Beberapa bulan kemudian, saat sang putra keluar dari rumah, tiba-tiba ia melihat kudanya kembali sendiri. Tanpa tanggung-tanggung kudanya ini membawa satu kuda lain. Sehingga saat ini sang kakek bukan hanya memiliki satu kuda, tetapi 2 kuda sekaligus. Seluruh penduduk kampung heboh mendengar kejadian ini. Para tetangga kemudian datang kembali ke rumah kakek untuk mengucapkan selamat atas keberuntungan ini. Tetapi sekali lagi sang kakek berkata kepada para tetangganya, “memang saya mendapat satu kuda baru, tapi hal ini belum tentu sebuah keberuntungan.” Tetangganya kembali bingung dengan pernyataan sang kakek.

Kuda baru yang dibawa oleh kuda lama mereka adalah kuda liar yang sangat baik kualitasnya. Oleh karena itu sang putra sangat senang dan sangat bersemangat untuk mencoba menunggang kuda baru tersebut. Saat sedang menunggang kuda baru tersebut, karena belum terbiasa dengan kuda ini dan kurang hati-hati, sang putra terjatuh. Tulang kakinya patah. Para tetangga mendengar kabar ini kembali ke rumah sang kakek untuk menghibur sang kakek. Tetapi sang kakek malah berkata, “memang kelihatannya kejadian ini sebuah hal buruk, tapi belum tentu ini sebuah kesialan.” Tetangganya semakin bingung mendengar hal ini. Bagaimana mungkin kaki sang anak patah bukan sebuah kesialan. Bagaimana hal ini bisa jadi sebuah keberuntungan?

Beberapa bulan kemudian, negara China berperang dengan negara tetangga. Berhubung desa sang kakek merupakan daerah perbatasan dengan negara tersebut, maka seluruh pria yang cukup dewasa dan bisa memanggul senjata diwajibkan untuk pergi berperang. Dan hampir seluruh pria yang pergi berperang tersebut meninggal di medan perang, kecuali putra sang kakek. Putra sang kakek kakinya pincang, sehingga tidak bisa pergi berperang. Oleh karena itu si putra diperbolehkan tinggal di rumah dan melewati hari dengan tenang dengan ayahnya.

[Sumber cerita : Chinese Proverb塞翁失马“ ] Continue reading


9 Comments

Friends and Enemies of Success

Di sebuah hutan hiduplah seorang pertapa. Pertapa ini dianggap sakti dan bijaksana oleh penduduk di sekitar hutan tersebut, oleh karena itu tidak jarang orang yang datang ke pertapa ini untuk meminta bantuan. Di desa tidak jauh dari hutan sang pertapa, hiduplah seorang pemuda. Dirinya cukup pemalas dan tidak mau bekerja keras, tapi dirinya ingin kaya. Oleh karena itu, pemuda ini memutuskan untuk mencari sang pertapa untuk meminta pertolongan.

Setelah beberapa mencari lokasi pertapa ini, sang pemuda akhirnya bertemu dengan sang pertapa. Tanpa panjang lebar, sang pemuda langsung mengutarakan niatnya kepada sang pertapa. “Wahai pertapa bijaksana, saya ingin cepat kaya tanpa harus berusaha keras! Tolong bantu saya.” Lalu sang pertapa menjawab, “Hal ini mudah, kamu tinggal ke tebing dekat laut di seberang desa kamu. Cari sebuah batu yang ketika kamu pegang terasa hangat dan sangat halus. Jika kamu bisa menemukan batu ini, artinya kekayaan akan segera datang ke kamu.

Pemuda ini menurut dan keesokan harinya ia langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh sang pertapa. Tempat tersebut ternyata sebuah tebing yang sangat besar dan banyak sekali batu. Pemuda ini langsung mulai mengambil satu batu dan memeriksa batu tersebut. Ternyata batu tersebut terasa dingin dan permukaannya kasar. Oleh karena itu bukan batu yang di maksud, maka ia melempar batu tersebut ke luar tebing, ke arah laut. Satu per satu pemuda ini memeriksa batu di sana, dari pagi hari sampai matahari tenggelam. Tetapi tidak ada satupun batu yang terasa hangat dan halus.

Keesokan paginya ia kembali datang ke tempat tersebut dan melakukan kegiatan yang sama, tapi selalu dengan hasil yang sama. Semua batu yang dipegangnya selalu dingin dan kasar. Ia terus melakukan kegiatan ini hari demi hari, bahkan bulan demi bulan, dan selalu dengan hasil yang sama.

Suatu hari, ia kembali datang ke tebing ini dan melakukan kegiatan yang sama. Setelah lewat berjam-jam di tebing tersebut, ia mengambil sebuah batu, dipegang sebentar di telapak tangan dan langsung dilempar ke laut. Tapi tiba-tiba dia jatuh berlutut, berteriak kencang dan mulai menangis. Ternyata batu yang dibuang tersebut adalah batu yang dicari-cari dirinya selama ini. Batu yang hangat dan halus. Tapi karena pemuda ini selama berbulan-bulan terbiasa mengambil batu, dipegang  sebentar dan langsung dilempar ke laut, tanpa terasa ketika batu yang dicari-cari telah ketemu, ia secara otomatis tetap membuang batu tersebut. Saat dirinya sadar, semuanya telah terlambat. Kebiasaan dirinya telah menyebabkan batu yang dicari-cari selama berbulan-bulan terbuang begitu saja. Continue reading


5 Comments

Manusia, Anak Tangga & Kunci

Ada sepasang kakak beradik. Mereka berdua tinggal di apartemen di lantai 80. Suatu hari saat mereka kembali ke rumah setelah berlibur, ternyata ada pemadaman listrik di gedung apartemen mereka selama 1 hari penuh. Walaupun mereka membawa satu tas punggung besar dan berat, mereka tidak punya pilihan lain selain naik tangga darurat untuk kembali ke apartemen mereka. Sang kakak berkata, “kita saat ini hanya bisa naik tangga kalau ingin pulang.” Akhirnya kakak beradik ini pun menuju tangga darurat dan mulai mendaki tangga satu per satu.

Awal pendakian, mereka masih penuh dengan tenaga dan  saling bercerita tentang liburan mereka. Bercanda dan tertawa. Namun sesampainya di lantai 20, mereka mulai kelelahan. Sang kakak kembali berkata, “wah, tas punggung kita terlalu berat! Bagaimana kalau kita tinggalkan saja tas kita disini, kemudian saat listrik sudah nyala kembali, kita baru kembali mengambil tas kita.” Sang adik pun setuju dengan ide tersebut. Mereka akhirnya menaruh tas mereka yang berat di lantai tersebut dan melanjutkan mendaki.

Mereka melanjutkan mendaki sambil tertawa-tawa dan bercanda. Sampai akhirnya di lantai 40, mereka benar-benar sudah merasa kelelahan. Mereka mulai frustasi karena walau mereka sudah kelelahan, ternyata mereka baru mendaki setengah jalan. Saat itu kakak beradik ini mulai saling menggerutu dan saling menyalahkan. Saling menunjuk mengapa tidak perhatian dan mengingat pengumuman tentang pemadaman listrik. Mereka sambil bertengkar sambil lanjut mendaki. Continue reading


12 Comments

Dream Big, Dream Right

Beberapa hari lalu, salah seorang junior saya di Fakultas Psikologi menulis tulisan yang bertema sama dengan saya. Ia juga menulis tentang pentingnya memiliki tujuan dalam hidup. Pentingnya bermimpi. [read :http://tesargusmawan.wordpress.com/2011/04/13/what-is-your-destiny/]. Di tulisannya dikatakan bahwa hidup kita seperti layaknya bermain puzzle. Kita selama hidup sampai nanti kita kembali ke sisiNya, terus menerus menyusun puzzle tersebut. Apabila hidup bagai bermain Puzzle, maka mimpi kita, tujuan hidup kita adalah sebuah gambar petunjuk Puzzle. Gambar akhir Puzzle tersebut yang dapat menjadi pegangan kita dalam menyusun Puzzle tersebut.

Saat saya bekerja di PT. Dankos Farma dulu, saya pernah membawakan sebuah Motivational Training untuk para pekerja di sana. Sampailah pada sebuah sesi tentang mimpi. Saat itu saya mengajak para peserta bermain Puzzle terlebih dahulu, sehingga para peserta mampu lebih mudah dan cepat tentang arti penting bermimpi. Dalam permainan ini, saya mengajak mereka bermain 2 kali. Pertama mereka bermain tanpa ada contoh gambar. Kedua kalinya mereka bermain dengan Puzzle yang berbeda (dengan tingkat kesulitan yang serupa), namun pada kesempatan ini mereka diberikan gambar contoh. Selama permainan ada hal yang menarik terjadi selama permainan berlangsung. Waktu yang dibutuhkan oleh peserta untuk menyelesaikan permainan meningkat hampir 2x lipat pada percobaan kedua (dengan gambar) dibanding pada percobaan pertama (tanpa gambar). Jika sebelum dibutuhkan waktu 10 menit untuk menyelesaikan puzzle di percobaan pertama, maka pada percobaan kedua menjadi sekitar 5 menit saja.

Apa yang membuat mereka mampu lebih cepat menyelesaikan puzzle dengan bantuan gambar, teman-teman?

Jawabannya sederhana sekali. Karena dengan gambar mereka mampu terfokus dan tahu di mana letak sebuah potongan puzzle harus diletakkan. Seperti itulah juga gunanya mimpi dalam hidup teman-teman. Mimpi mampu menjadi petunjuk dan panduan teman-teman dalam menjalani hidup.

Tapi dalam pelatihan tersebut terdapat sebuah hal unik. Ternyata ada satu kelompok yang membutuhkan waktu yang kurang lebih sama, bahkan lebih lama dalam menyelesaikan percobaan kedua walaupun telah dibantu dengan contoh gambar. Apa yang membuat mereka begitu lambat? Ternyata peserta tersebut dalam menyelesaikan puzzle, sama sekali tidak menggunakan gambar dengan baik. Mereka hanya melihat sekali gambar tersebut dan sisanya gambar tersebut ditaruh di belakang mereka. Kemudian mereka mencoba-coba sendiri tanpa pernah melihat gambar tersebut lagi. Dibandingkan kelompok peserta lain, mereka terus menerus memperhatikan gambar. Setiap mengambil sebuah potongan puzzle, mereka memperhatikan gambar dengan seksama dan meletakkannya dengan tepat. Continue reading


8 Comments

R.A. Kartini : Wanita Biasa dengan Mimpi Luar Biasa

Kartini merupakan salah seorang pahlawan Indonesia yang paling diingat oleh bangsa kita. Kita memiliki banyak pahlawan nasional, tetapi yang memiliki hari nasional sendiri itu hanya sedikit. Hari lahir R.A. Kartini dirayakan secara tersendiri sebagai sebuah hari nasional. Hari Kartini bahkan merupakan hari nasional termeriah kedua setelah HUT Kemerdekaan RI. Setiap tahun pada Hari Kartini, di mana-mana dapat kita lihat orang-orang, terutama wanita, menggunakan pakaian adat. Kemudian di TV hampir tidak putus-putusnya iklan dan acara yang membahas tentang Hari Kartini.

Teman-teman, apabila kita membayangkan dan membandingkan Kartini dengan pahlawan nasional lainnya, mungkin kita dapat melihat bahwa Kartini bahkan tidak pernah angkat senjata melawan penjajah. Tidak mempertaruhkan nyawanya di medan perang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Kartini jika kita perhatikan bahkan kehidupannya pun seperti wanita pada umumnya, wanita biasa. Tetapi mengapa beliau mendapat tempat khusus di hati bangsa kita? Mengapa hanya Kartini yang mendapat hari raya khusus?

Hari Kartini

Apa yang membuat Kartini begitu spesial bagi bangsa kita?

Menurut saya, ada 2 hal yang membuat Kartini begitu spesial. Continue reading


8 Comments

The Fringe Benefits of Failure and The Importance of Imagination

Teman-teman, ini adalah pidato yang diberikan oleh JK. Rowling kepada para lulusan Harvard University tahun 2008. Sebuah pidato yang penuh dengan inspirasi dan motivasi dari seorang yang luar biasa.

[Text as delivered follows. Copyright of JK Rowling, June 2008]

President Faust, members of the Harvard Corporation and the Board of Overseers, members of the faculty, proud parents, and, above all, graduates.

The first thing I would like to say is ‘thank you.’ Not only has Harvard given me an extraordinary honour, but the weeks of fear and nausea I have endured at the thought of giving this commencement address have made me lose weight. A win-win situation! Now all I have to do is take deep breaths, squint at the red banners and convince myself that I am at the world’s largest Gryffindor reunion.

Delivering a commencement address is a great responsibility; or so I thought until I cast my mind back to my own graduation. The commencement speaker that day was the distinguished British philosopher Baroness Mary Warnock. Reflecting on her speech has helped me enormously in writing this one, because it turns out that I can’t remember a single word she said. This liberating discovery enables me to proceed without any fear that I might inadvertently influence you to abandon promising careers in business, the law or politics for the giddy delights of becoming a gay wizard.

You see? If all you remember in years to come is the ‘gay wizard’ joke, I’ve come out ahead of Baroness Mary Warnock. Achievable goals: the first step to self improvement.

Actually, I have wracked my mind and heart for what I ought to say to you today. I have asked myself what I wish I had known at my own graduation, and what important lessons I have learned in the 21 years that have expired between that day and this. I have come up with two answers. On this wonderful day when we are gathered together to celebrate your academic success, I have decided to talk to you about the benefits of failure. And as you stand on the threshold of what is sometimes called ‘real life’, I want to extol the crucial importance of imagination.

These may seem quixotic or paradoxical choices, but please bear with me. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,159 other followers