William Budiman


3 Comments

Jangan Terjebak Pada Kesedihan Yang Sama

Seorang guru spiritual diundang datang ke sebuah seminar yang dihadiri ribuan hadirin. Guru tersebut diminta untuk berceramah dan memberikan nasihat-nasihat hidup bagi para hadirin. Saat sang guru ini mulai naik ke atas panggung, seluruh hadirin bertepuk tangan menyambutnya dan penasaran menanti wejangan-wejangan yang akan diberikan oleh guru spiritual ini.

Di atas panggung, sang guru memulai ceramahnya dengan menceritakan sebuah lelucon. Seluruh hadirin tertawa mendengarnya. Setelah hadirin berhenti tertawa, sang guru kembali menceritakan lelucon yang sama, kali ini hanya sebagian hadirin yang tertawa. kemudian sang guru tersebut selama 10 menit kemudian terus mengulangi cerita lelucon yang sama, sampai tidak ada satu pun hadirin yang tertawa lagi. Melihat raut wajah para hadirin yang terlihat bingung, sang guru pun tertawa.

Sang guru kemudian tersenyum lebar dan berkata, “Apabila kamu tidak dapat tertawa pada lelucon yang sama berulang-ulang, mengapa kamu selalu menangisi masalah yang sama berulang-ulang dalam waktu yang sangat lama?”

Setelah berbicara itu, sang guru pun turun panggung meninggalkan para hadirin yang termenung mendengar ucapannya.

Make Happiness a Habit and SMILE UP YOUR LIFE!

Kastena Boshi

follow me @WilliamSBudiman


Leave a comment

Gembala dan Pemburu

Pada jaman Tiongkok kuno, terdapat seorang gembala domba yang memiliki tetangga seorang pemburu. Pemburu ini memiliki anjing-anjing ganas yang seringkali meloncati pagar gembala ini dan mengejar domba-domba miliknya. Beberapa kali sang gembala ini mengingatkan tetangganya ini tentang dombanya namun selalu tidak dihiraukan.

Sampai suatu hari anjing pemburu tersebut kembali melompati pagar dan melukai beberapa domba sang gembala tersebut. Kesal dan marah atas kejadian ini, sang gembala langsung pergi ke kota untuk menemui hakim demi menuntut keadilan.

Hakim mendengarkan seluruh cerita keluh kesah si gembala. Lalu hakim tersebut berkata, “saya bisa saja menghukum pemburu tersebut dan memerintahkan dia untuk mengurung dan merantai anjing-anjing miliknya. Akan tetapi kamu akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Apakah kamu ingin memiliki tetangga yang adalah teman atau musuh?”

Mendengar pernyataan hakim, sang gembala kemudian merenung sesaat dan menjawab dengan hati-hati, “saya tentu memilih memiliki teman. Tetapi bagaimana caranya agar saya tetap memiliki teman dan saya tidak terus dirugikan?”

“Baik saya akan memberikan sebuah solusi yang dapat kamu jalankan sepulang dari tempat ini.” jawab sang hakim. Mendengar solusi yang diberikan oleh hakim tersebut, sang gembala pun setuju dan pulang ke rumah. Continue reading


3 Comments

Ayah, Anak & Keledai

Ada sepasang ayah dan anak yang sedang berjalan menarik keledai milik mereka. Mereka berniat untuk menjual keledai ini di kota. Saat awal perjalanan dari rumah menuju kota, sang ayah dan anak berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Sampai tak berapa lama, ada orang yang berkata kepada ayah dan anak ini, “Kalian bodoh sekali, kalian berdua menuntun keledai yang seharusnya bisa mengangkut salah satu dari kalian!”

Mendengar orang berkata seperti itu, sang ayah menyuruh sang anak duduk di atas keledai tersebut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka berjalan, mereka berjalan berpapasan dengan satu orang kembali. Orang tersebut tiba-tiba berkata, “Dasar anak tidak berbakti! Orangtua yang sudah tua disuruh berjalan kaki, tetapi sendirinya malah enak-enakan duduk santai di atas keledai!”

Mendengar komentar seperti itu, sang ayah dan anak pun segera berganti posisi. Sekarang sang ayah yang duduk di atas keledai dan sang anak yang berjalan kaki menuntun keledai. Tak berapa lama kemudian, kembali mereka berpapasan dengan orang lain di jalan. Orang tersebut berkomentar, “Dasar orangtua tidak sayang anak! Anak sudah terlihat kelelahan berjalan, bukannya disuruh duduk di atas keledai malah dirinya sendiri yang enak-enakan duduk di atas keledai!”

Segera setelah mendengar komentar tersebut, sang ayah menyuruh anaknya ikut naik menunggang keledai. Sehingga sekarang kedua sang ayah dan anak tersebut sama-sama duduk menunggangi keledai. Kembali setelah tak lama berjalan, terdengar komentar dari orang lain, “Kalian lihat keledai yang malang tersebut. Bagaimana kalian bisa membiarkan keledai tersebut mengangkut kalian berdua. Kalian berdua mungkin lebih mudah mengangkat keledai ini daripada keledai ini mengangkut kalian berdua!”

Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengikat kaki keledai mereka di sebuah tongkat panjang, kemudian sang ayah dan anak memanggul keledai tersebut di pundak mereka. Semakin dekat mereka berjalan menuju kota, semakin banyak orang yang merasa aneh melihat pemandangan seekor keledai dipanggul oleh ayah dan anak ini. Banyak orang mulai penasaran dan mulai berbondong-bondong datang berdiri melihat dari dekat ayah dan anak ini. Karena banyak orang di sekeliling, keledai menjadi takut dan mulai meronta-ronta. Saat mereka melewati jembatan, keledai ini meronta dengan sangat hebat dan akhirnya terlepas dari ikatannya, lalu terjatuh ke sungai dan mati tenggelam. Continue reading


7 Comments

3 Things

3 hal dalam hidup yang tak pernah kembali

  1. Waktu
  2. Perkataan
  3. Kesempatan

Teman-teman, kita tak akan pernah bisa memutar kembali waktu. Tapi kita bisa menciptakan kenangan dengan waktu yang masih kita punya. Manfaatkanlah waktu yang ada, walau waktu hidup kita hanya “sekejap mata”, untuk menciptakan kenangan yang berarti. Kenangan yang manis bagi diri kita dan orang-orang lain di sekitar kita. Kenangan manis yang selalu bisa dikenang bukan hanya oleh diri kita, tetapi oleh orang-orang yang hidup setelah masa hidup kita telah berlalu.

Time is free but it’s priceless, you can’t own it but you can use it. You can’t keep it but you can spend it.

Kita tak akan pernah bisa menarik ucapan yang telah kita keluarkan. Perkataan kasar yang keluar dari mulut kita tidak akan pernah dapat kita tarik kembali hanya dengan sebuah ucapan “maaf“. Kita tak akan pernah dapat menghapus lubang di hati orang lain akibat dari apa yang telah kita katakan hingga membuat orang lain marah, terluka atau menangis. Lubang itu akan selamanya berada di sana, di hati teman-teman atau orang yang kita kasihi. Continue reading


14 Comments

Never Never Never Lose Hope

Alkisah dahulu kala di China, di daerah dekat perbatasan dengan negara lain, hiduplah seorang kakek tua. Kakek ini hidup dengan putranya. Suatu hari saat sedang membawa kudanya pergi makan ke padang rumput, sang putra tanpa sengaja membiarkan kudanya terlepas dan lari ke daerah negara lain. Mendengar kabar ini, para tetangga datang ke rumah sang kakek untuk menghibur beliau. Tanpa diduga, sang kakek malah berkata kepada para tetangganya, “saya memang kehilangan kuda, tapi belum tentu ini adalah sebuah kesialan atau hal buruk.” Mendengar perkataan sang kakek, seluruh tetangga yang datang menjadi bingung dan pulang.

Beberapa bulan kemudian, saat sang putra keluar dari rumah, tiba-tiba ia melihat kudanya kembali sendiri. Tanpa tanggung-tanggung kudanya ini membawa satu kuda lain. Sehingga saat ini sang kakek bukan hanya memiliki satu kuda, tetapi 2 kuda sekaligus. Seluruh penduduk kampung heboh mendengar kejadian ini. Para tetangga kemudian datang kembali ke rumah kakek untuk mengucapkan selamat atas keberuntungan ini. Tetapi sekali lagi sang kakek berkata kepada para tetangganya, “memang saya mendapat satu kuda baru, tapi hal ini belum tentu sebuah keberuntungan.” Tetangganya kembali bingung dengan pernyataan sang kakek.

Kuda baru yang dibawa oleh kuda lama mereka adalah kuda liar yang sangat baik kualitasnya. Oleh karena itu sang putra sangat senang dan sangat bersemangat untuk mencoba menunggang kuda baru tersebut. Saat sedang menunggang kuda baru tersebut, karena belum terbiasa dengan kuda ini dan kurang hati-hati, sang putra terjatuh. Tulang kakinya patah. Para tetangga mendengar kabar ini kembali ke rumah sang kakek untuk menghibur sang kakek. Tetapi sang kakek malah berkata, “memang kelihatannya kejadian ini sebuah hal buruk, tapi belum tentu ini sebuah kesialan.” Tetangganya semakin bingung mendengar hal ini. Bagaimana mungkin kaki sang anak patah bukan sebuah kesialan. Bagaimana hal ini bisa jadi sebuah keberuntungan?

Beberapa bulan kemudian, negara China berperang dengan negara tetangga. Berhubung desa sang kakek merupakan daerah perbatasan dengan negara tersebut, maka seluruh pria yang cukup dewasa dan bisa memanggul senjata diwajibkan untuk pergi berperang. Dan hampir seluruh pria yang pergi berperang tersebut meninggal di medan perang, kecuali putra sang kakek. Putra sang kakek kakinya pincang, sehingga tidak bisa pergi berperang. Oleh karena itu si putra diperbolehkan tinggal di rumah dan melewati hari dengan tenang dengan ayahnya.

[Sumber cerita : Chinese Proverb塞翁失马“ ] Continue reading


10 Comments

Life is Like a Cup of Coffee

Sekelompok alumni yang sudah sangat mapan dalam hal karir pekerjaan, memutuskan untuk berkunjung ke rumah dosen dari universitas mereka dulu. Perbincangan di antara mereka di awali dengan menceritakan kabar masing-masing, pengalaman menyenangkan semasa kuliah. Tetapi perlahan-lahan, topik pembicaraan mereka mulai mengarah pada keluhan-keluhan mereka akan stress pekerjaan dan hidup mereka.

Sementara para mahasiswanya sedang berdiskusi tentang keluhan-keluhan hidup, sang dosen menawarkan para tamunya ini kopi. Setelah semua tamunya setuju dengan tawarannya, sang dosen ini pergi ke dapur dan segera kembali ke ruang tamu dengan satu teko besar kopi dan beberapa macam cangkir. Cangkir ini ada yang terbuat dari plastik, porselin keramik, kaca, kristal, kayu, logam, dll. Beberapa dari cangkir tersebut terlihat murah, beberapa terlihat mahal, beberapa terlihat sederhana dan polos, beberapa terlihat sangat cantik dan anggun.

Sang dosen mengatakan kepada para tamunya untuk tanpa sungkan-sungkan melayani diri mereka sendiri. Lalu para alumni ini mulai satu per satu memilih dan mengambil cangkir, kemudian menuangkan kopi ke dalamnya. Setelah semua telah memilih cangkir dan menuangkan kopi ke dalamnya, sang dosen berkata : Continue reading


4 Comments

Small Things Big Difference

Suatu senja di sebuah tepi pantai, seorang kakek berjalan menyelusuri pantai sambil menikmati pemandangan laut di sore hari. Setelah berjalan beberapa saat, sang kakek melihat ada jejak kaki di pantai. Jejak kaki seorang anak. Ia kemudian menerawang ke depan berusaha mencari sosok pemilik jejak kaki tersebut. Terlihat di kejauhan seorang anak lelaki sedang berjalan pelan sepanjang pantai, sambil sesekali membungkuk lalu melempar sesuatu ke laut. Anak ini terus melakukan kegiatan tersebut berulang-ulang kali secara konsisten.

Didorong oleh rasa penasaran, sang kakek akhirnya mempercepat langkah kakinya demi mengejar sang anak tersebut. Akhirnya setelah beberapa lama berjalan, sang kakek berhasil mengejar anak tersebut. Ternyata anak tersebut selama ini sambil menyelusuri tepi pantai, sambil memungut bintang laut dan melemparkannya ke laut. Sang kakek semakin penasaran dan bertanya kepada si anak, “Nak, apa yang sedang kamu lakukan?”

Sang anak menoleh ke arah sang kakek, kemudian menjawab, “saya sedang menyelamatkan nyawa para bintang laut ini. Apabila mereka tidak saya tolong, maka mereka bisa meninggal karena kekeringan!”

Mendengar jawaban ini, sang kakek tertawa dan membalas, “nak, pantai begitu panjang dan bintang laut di sepanjang pantai ini begitu banyak! Tidak mungkin kamu sendiri bisa menolong sebegitu banyaknya bintang laut! Itu pekerjaan yang percuma dan hanya membuang tenaga! Kamu tidak mungkin seorang diri mampu membuat perbedaan yang besar!” Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,180 other followers