William Budiman

Video Games Si Guru Ideal

19 Comments

video-gamePada tulisan terdahulu saya, saya menyebutkan bahwa video games adalah guru yang lebih baik dari pada guru-guru di sekolah. Saya berkata demikian karena video games terbukti mampu menumbuhkan minat belajar dan inisiatif belajar dalam diri anak-anak, padahal itu seharusnya adalah tugas dari seorang guru. Tetapi yang terjadi adalah guru-guru dengan tanpa sengaja malah menciptakan kondisi di mana para siswa membenci belajar. Seseorang yang memiliki tanggung jawab terbesar dalam menumbuhkan minat dan inisiatif belajar, malah menimbulkan kebencian dan keengganan dalam belajar. Ironis.

Saya merasa bahwa semua guru yang ingin mengajar harus mulai belajar dari video games untuk bisa menjadi seorang guru yang lebih baik.

Baik, saya yakin beberapa orang yang skeptis (mungkin yang berprofesi guru) mulai mempertanyakan dan memprotes pernyataan saya di atas. “Video games di banyak kasus terbukti membawa dampak buruk bagi anak-anak (terutama perilaku kekerasan), bagaimana sesuatu yang berdampak negatif harus dicontoh oleh guru-guru kita? Bukankah hal ini akan mendatangkan lebih banyak masalah daripada seharusnya?”

Dalam proses pendidikan ada 2 hal yang perlu kita perhatikan, yaitu konteks dan konten.

Konten adalah poin pembelajaran yang ingin disampaikan kepada murid.

Konteks adalah bagaimana cara konten tersebut diajarkan.

Konteks selalu membungkus konten. Konten sebaik apapun, tetapi dibungkus dalam sebuah konteks yang tidak baik/tidak tepat, maka konten tidak akan dicerna dengan baik. Bahkan mungkin terlupakan sama sekali.

Sebaliknya ketika konten itu buruk, tapi terbungkus konteks yang sangat baik, maka konten tersebut akan tertanam dengan sangat kuat dalam setiap orang.

Bagi saya, guru yang baik adalah mereka yang memiliki konteks yang baik, bukan konten. Terlepas dari konten apa yang diajarkan, tugas utama guru sebenarnya adalah memastikan sebuah konten tertanam dengan baik dalam diri setiap muridnya. Jadi yang kontekslah yang mencerminkan seorang guru, bukan konten.

Beberapa video games mungkin memiliki konten yang buruk dan penuh kekerasan, tetapi semua itu dibungkus dengan konteks yang sangat baik dan menarik.

Guru-guru di sekolah mengajarkan kepada kita sebuah konten yang baik! Sayangnya, konteks yang membungkus konten tersebut monoton, membosankan, memaksa, menyulitkan dan penuh dengan hukuman. Sehingga sangat wajar apabila banyak konten pelajaran di sekolah yang  tidak nyangkut di kepala murid-murid. Oleh karena itu saya berkata bahwa video games adalah guru yang lebih baik dari pada guru di sekolah.

Saya akan menyebutkan beberapa konteks dari video games yang harus dipelajari oleh setiap dari kita, terutama mereka yang memiliki kewajiban utama mengajar. Apabila ada yang berniat menambahkan, silakan langsung tambahkan di bagian komen agar kita bisa saling melengkapi.

1. Video games memberikan tujuan spesifik, maka menjadi bermakna

MetalGearSolidSetiap video games memiliki sebuah tujuan akhir atau plot cerita yang jelas, baik itu menyelamatkan putri, menjadi raja di dunia balap, mencegah dunia dari perang dunia, dan sebagainya. Setiap pemain video games saat bermain tahu dengan jelas apa yang akan mereka lakukan dan apa yang mereka tuju. Hal ini membuat bermain video games memiliki makna.

Sebaliknya pada saat belajar di sekolah, hampir tidak ada guru yang menjelaskan apa kegunaan apalagi tujuan jelas dari belajar matematika sin cos tangen, belajar tabel kimia, atau membelah kodok. Apa korelasinya pelajaran tersebut di kehidupan sehari-hari?

Guru entah lupa menjelaskan bagian tersebut atau sekedar tidak ingin repot menjelaskan, tetapi ketika tujuan spesifik dan why we should learn this subject tidak tersampaikan dengan jelas kepada murid, maka anak kehilangan makna dalam belajar. Belajar hanya menjadi sebuah rutinitas yang tidak jelas apa gunanya, yang diperintahkan oleh otoritas.

2. Pemain adalah tokoh utama dan pahlawan

Dalam games, kita adalah tokoh utama, kita adalah pahlawan. Sebagai tokoh utama kita memiliki kebebasan dalam menentukan cara kita sendiri dalam menyelesaikan satu level. Walau games tetap memiliki sebuah acuan pasti hal-hal yang harus kita lalui dan aturan pasti (seperti sekolah), tetapi kita diberikan sebuah kebebasan bereksplorasi dalam menyelesaikan level tersebut. Semua tidak harus sama dengan yang lain.

dynasty-warriors-5-empires-20060330052011134-000Selain itu kita juga adalah tokoh sentral, tokoh penting. We are the hero! Hal ini membuat pemain tanpa disadari menjadi merasa penting dan bertanggung jawab akan misi yang dijalani. Perasaan penting dan dihargai ini, kemudian berimbas pada munculnya sebuah niat untuk mejalankan peran dalam permainan.

Sebaliknya dalam sekolah, kita semua adalah bagian dalam sistem. Murid kehilangan penghargaan sebagai individu. Selain itu juga, tokoh sentral dalam proses belajar di sekolah adalah guru di depan kelas, bukannya murid. Murid hanya harus mengikuti semua pelajaran yang diterima tanpa pertanyaan lebih lanjut. Murid tidak lebih penting dari guru. Murid tidak diberi kebebasan bereksplorasi terhadap pelajaran yang diberikan. Semua disesuaikan dengan gaya pengajaran guru, apa yang dianggap terbaik oleh guru.

Percayalah, saya tidak menganjurkan murid untuk dibiarkan berlaku seenaknya dalam kelas dan kurang ajar terhadap guru. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah berikan murid sebuah peran sentral dalam pelajaran, biarkan mereka yang bereskplorasi dengan dipandu oleh guru.

3. Tidak pernah monoton dan menarik

Apakah saya harus membahas ini? Sungguh?

4. Token reward

mario bros

Salah satu hal mencolok dari setiap games adalah token / reward yang dapat kita kumpulkan di sepanjang permainan atas pencapaian kecil setiap pemain. Tindakan mengalahkan satu musuh kecil akan dihadiahkan sebuah token / bonus kecil yang dapat berguna pada keseluruhan perjalanan games tersebut. Video games secara implisit mengajarkan bahwa keberhasilan itu bukan hanya ketika berhasil ngalahkan Bos di setiap level atau menamatkan games itu.

Keberhasilan adalah proses dalam menjalankan permainan.

Sebaliknya sekolah mengajarkan bahwa tindakan kecil kita tidak berarti. Yang terpenting adalah nilai. Nilai ulangan harian, nilai ujian tengah semester dan nilai ujian akhir semester, yang kemudian dirangkum dalam sebuah nilai akhir, diurutkan dalam ranking/peringkat.

Apakah upaya untuk belajar sampai malam dihitung? Apakah upaya belajar mati-matian untuk sesuatu pelajaran yang merupakan kelemahan saya (pelajaran OR atau matematika) dinilai? Apakah usaha saya untuk mendengarkan guru di depan kelas dinilai sebagai sebuah usaha, atau itu sebuah kewajiban murid?

Saya percaya nilai itu penting, karena pada akhirnya kita memang harus lulus berdasarkan penilaian akhir dan ranking. Tetapi sekolah juga seharusnya melihat belajar bukan masalah penyelesaian tugas akhir dengan baik, tetapi proses yang dilalui setiap anak.

5. Pemain dapat mencoba berkali-kali tanpa ada penilaian buruk

continueBermain games melewati satu level terkadang membuat frustasi. Sulit sekali dan harus mencoba berkali-kali. Sama seperti belajar.

Pertanyaan yang muncul, mengapa ketika belajar anak lebih mudah menyerah, sedangkan dalam games anak lebih pantang menyerah?

Karena games membiarkan anak yang gagal untuk mencoba lagi berkali-kali tanpa ada penilaian dan komen negatif, seperti : “masa gitu aja ga bisa!”, “kamu kan udah belajar berkali-kali, masa masih salah?”, dan sebagainya.

Gagal itu memalukan dan menyakitkan, terkadang mengesalkan. Tetapi lebih mengesalkan lagi ketika kita didorong untuk pantang menyerah dan terus mencoba sambil dikomentari / dinilai jelek.

Quote SB - Video games

Terkadang kita bisa belajar banyak dan menjadi orang yang lebih baik dari sesuatu yang selama ini dianggap buruk dan tidak berguna. Sama seperti kita bisa belajar untuk jadi guru yang lebih baik dari video games yang selama ini dilabel tidak mendidik.

Apabila ada yang ingin menambahkan kebaikan video games sebagai guru, mohon jangan ragu untuk menambahkan saya dengan menuliskan di kolom komen. Pendapat teman-teman akan memperkaya kita semua. Thanks.

Kastena Boshi.

About these ads

Author: William Sulivan

Founder of Aethra Learning Center | Passionate Psychological Health Trainer | Positive Psychology Practitioner

19 thoughts on “Video Games Si Guru Ideal

  1. Menurut Anda, games adalah cara baik untuk menjadi guru yang baik. tapi bagaimana diluar sana masyarakat masih skeptist tentang tulisan Anda. Saya saja baru tahu tentang tulisan Anda. Explain more, please :)

    • Pertama makasih sudah mau komen. Mengenai masyarakat yang masih skeptis, saya terus terang saat menulis artikel ini sama sekali tidak berharap mereka yang skeptis untuk berubah pandangan. Karena perubahan pandangan itu tergantung keterbukaan pikiran orang tersebut akan hal baru. Jadi saya hanya menuliskan opini dengan sedikit bantuan fakta. Ketika mereka membaca dan setuju, itu good. Bisa dishare itu jauh lebih bagus lagi. Tetapi kalau mereka memilih tidak percaya dan skeptis, artinya itu pilihan mereka. :)

      Soal yang ingin dijelaskan lebih lanjut, itu soal apa ya? Bagian apa yang perlu dijelaskan?

  2. Setuju om!
    saya sebagai gamer mempelajari banyak hal dari video games dan banyak diantaranya tidak diajarkan di bangku sekolah.
    video games memberi kita cerita supaya dapat diambil maknanya, sementara di sekolah hanya memberi teori tanpa contoh soal yang jelas.

    dan saya setuju sekali dengan soal pantang menyerah. Saya belajar dari video games bahwa kegagalan adalah sebuah pilihan ketika kita berhenti mencoba, namun di sekolah membantah hal tersebut dan mengajarkan bahwa kita hanya punya beberapa kali kesempatan, dan jika belum berhasil kita harus menanggung beban kegagalan itu dan menerima predikat “bodoh” dsb…

  3. Pingback: Video Games Si Guru Ideal | Trinity

  4. saya setuju dengan anda, tapi saya menyayangkan tentang cara anda menulis. coba lihat ulang tulisan anda, anda terlalu banyak menyebutkan hal negatif yg d eksklusifkan,mengesankan seolah2 g ada hal positif dari sekolah n guru. skarang coba d analogikan seperti ini, anda adalah guru (penulis) n guru adalah murid anda. anda harus menyampaikan jadi guru itu konteks harus dipercantik n d bikin menarik, namun anda menyampaikannya seolah2 konteks guru selama ini jelek. pertanyaannya apakah dengan mendengar ajaran anda, murid anda (guru) merasa seperti maen game?

    • Pertama-tama, thanks ya sudah dibaca dan diberi komen, fforfarid. Namun mohon maaf, saya mengalami kesulitan dalam memahami komen anda.
      Jadi saya hanya membahas bbrp hal yng sejauh ini saya sepertinya memahami.

      Tentang penyampaian negatif, sangat disayangkan dan mohon maaf kalau anda terganggu dalam membacanya. Memang saya menuliskan ini bukan dalam tataran ingin menyenangkan semua orang. saya yakin banyak yang terganggu membaca tulisan saya. Karena tulisan ini adalah kritik terhadap cara pengajaran guru dan sistem pendidikan di Indonesia. Kritik yang jujur dan menggambarkan hal yang saya temui di lapangan selama saya berkarir sebagai trainer di sekolah-sekolah, berdiskusi dengan siswa, guru dan orangtua. Jadi karena ini kritik, memang tujuannya adalah memprovokasi beberapa pemikiran yang mungkin di beberapa orang menjadi terlihat negatif.

      Kedua saya tidak menuliskan semua guru itu buruk atau salah dalam mengajar. Yang saya sampaikan adalah semua guru harus berbenah diri dan menambah ilmu untuk belajar. karena jaman berubah, kebutuhan berubah, karakter siswa berubah, masa guru ga pernah berubah cara mengajarnya.

      Terakhir, tentang pertanyaan anda terakhir, saya berasumsi kalau anda bertanya apakah kalau saya mengajar, saya bisa mengajar murid-murid dengan sebegitu mengasyikkan dan lebih menarik daripada main games. Apakah seperti itu?
      Kalau iya, saya bilang tidak bisa. karena bagaimanapun games pasti lebih menyenangkan daripada belajar. jelas.
      Tapi kalau dibaca lebih teliti lagi, yang saya ingin sampaikan adalah ada beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari video games dan diterapkan dalam proses mengajar, sehingga murid akan lebih memiliki minat belajar dan inisiatif belajar.

      Semoga respon saya tepat dan memuaskan. Terima kasih untuk komen yang jujur dari anda.

  5. owh,begitu. saya pikir tulisannya tentang sharing masukan agar sekolah lebih baik. ternyata kritik n provokasi. terimakasih penjelasannya.

    “jaman berubah,kebutuhan berubah,karakter siswa berubah, masa guru ga pernah berubah cara mengajarnya.” maaf kata2 anda ini OOT. juga tidak anda paparkan di tulisan anda.

    • Cukup bingung membaca 2 komentar Anda. Komentar pertama bingung untuk menginterpretasikan kalimat-kalimatnya. Komentar kedua, bingung juga….

      “sharing masukan agar sekolah lebih baik. ternyata kritik n provokasi.” –> kritik kan juga bisa jadi masukan supaya segala sesuatu jadi lebih baik. Provokasi juga bisa sifatnya untuk ‘membangunkan’ semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Bukan begitu ya?

      ” “jaman berubah,kebutuhan berubah,karakter siswa berubah, masa guru ga pernah berubah cara mengajarnya.” maaf kata2 anda ini OOT. juga tidak anda paparkan di tulisan anda. ” –> tergambarkan dan sangat relevan kok. Coba dibaca ulang lagi tulisannya mungkin? Dan mungkin tulisan sebelumnya.

  6. games memberikan reward untuk setiap progress sekecil apapun. meski progress kecil mendapat reward kecil dan progress besar mendapat reward besar.
    dalam proses belajar mengajar, masih banyak orang (bukan cuma guru, orang tua, kakak, mentor, coach, trainer, atau siapapun yg sedang mengajar) yang hanya memberi reward jika si “murid” menyelesaikan tugas sampai final dan benar, dan kadang2 melupakan proses perkembangan positif yang sudah dialami si “murid”.
    karena bagaimanapun, letak pembelajaran justru di proses perkembangannya, bukan di hasilnya. hasil hanyalah akibat dari proses, itu sebabnya kita juga mesti belajar menghargai proses perkembangan’nya dan tidak hanya melulu berfokus pada hasil semata.

  7. Tulisan yang cukup provokatif, menarik, menggelitik. tentang konten, konteks, reward, tujuan. sangat layak untuk dikritisi untuk menemukan perubahan.

  8. Tulisannya keren banget om, berusaha membandingkan sistem pendidikan dengan sistem dan seluk beluk bermain games. secara keseluruhan saya setuju terutama di point pertama. tetapi andai kata saya berperan sebagai pengajar, mungkin saya juga bingung menjawab pertanyaannya. misalnya kenapa kita membelah kodok, menghafal tabel kimia, ataupun belajar sincostan? Om melihat dari sudut pandang motivasi atau niat melakukan sesuatu anak yang memang kadang sangat diperlukan dalam belajar ataupun bermain. tetapi ketika saya juga mencoba bertanya “kenapa sih gw harus belajar ini?” jawab yang mungkin saya dapatkan adalah ” waduh, gw juga gk tau.” hahaha mohon pembahasan lebih lanjutnya om ^^b

    • Ray, thanks ya udah membaca dan kasih komen di tulisan saya. Pertama, sepertinya umur saya masih lbh cocok dipanggil kakak dibanding om. Hahaha..

      Kemudian soal kebingungan yg km bicarakan itu exactly one of the biggest problems in our education system. Murid, bahkan mgkn guru ga tau knp harus mengajarkan satu subjek pelajaran. Semuanya hanya mengikuti yg sudah ada without any further questions. Nah ini yg buat pendidikan kita kehilangan meaning. Ketika kehilangan makna, maka belajar itu menjadi hanya sebuah rutinitas yg membosankan dan krn inilah byk yg menjadi malas belajar.

      Contoh deh.. misal pelajaran sejarah. Menurut sy,knp kita harus belajar diponegoro, sultan iskandar muda itu bukan hanya demi tau detil kejadian dr cerita mereka, tetapi tahu hal apa yg bs kita pelajari dr cerita tersebut, apakah itu friendship, kesetiaan, pengorbanan. Seperti itu, karakter itu yg perlu dimiliki dlm kehidupan, bukan cerita mereka semata.

  9. iya kka, ternyata saya juga baru liat ternyata kka satu kampus sama saya cuma bedanya kka udah alumni. hahahah
    Nah kalau gitu saya tanya solusinya kka. saya juga setuju kalo sistem pendidikan sekolah / pendidikan kita masih kurang baik, tetapi tindakan konkrit apa aj nih yg menurut kka bisa dilakukan anak sekolahan (SD, SMP,SMA) untuk “merespons” sistem pendidikan kita yang seperti sekarang ini? hehehe ^^v

    • Yes.. saya sudah jadi alumni. :)

      Tindakan konkrit sederhana yang bs dilakukan sama siswa menurut saya adalah secara proaktif membangun sndiri meaning dan keterkaitan antara pelajaran yg di dapat dgn hidupnya. Caranya dgn set tujuan apa buat diri loe dan bagaimana setiap hari sekolah itu adl usaha berkontribusi dalam mencapai tujuan hidup.

  10. Ada satu hal yang saya sangat sependapat dengan Anda. Bukannya bermaksud untuk menggeneralisir, tapi sejauh pengalaman saya, saya lebih banyak melihat kebanyakan orang lebih mementingkan hasil dibanding proses usaha yang kita lakukan dalam mencapai sesuatu. Mungkin Anda juga pernah dengar humor tentang orang2 yang memuji dan mengelus2 kandungan di dalam perut bumil, tapi ngga ada yang ngelus2… ehem… laki2 (you know what i mean) yang berusaha keras membuat sang istri mengandung. Haha.

    Joking aside, mungkin bakal terlalu panjang lebar kalo saya tulis di kotak komentar, karena kurang lebih konten yang Anda bahas hampir sama dengan sudut pandang saya di artikel yang saya tulis ini -> http://www.gamexeon.com/berita/66855/main-itu-hidup-itu-main#.Ux7Ud_mSyLc

    Maaf kalo bahasa dan susunannya agak kacau dan terlalu informal. Maklum artikel lawas dan target readernya emang buat anak2 muda. Hehe.

    Semoga di masa depan, bakal lebih banyak generasi yang ngga gampang skeptis dan “menghakimi” secara sepihak tanpa mempelajari nilai positif yang terkandung dari video game lebih dulu. Ngga terkecuali Pak Beye yang terhormat x) -> http://www.gamexeon.com/artikel/24449/generasi-gamer-anti-sosial#.Ux7UbvmSyLc

  11. Ehmmp …. Sudah pernah belajar Ilmu Pendidikan belum, Mas? Kalau Anda sudah pernah belajar Ilmu Pendidikan, apa yang Anda analogikan bahwa Vidio Game adalah si Guru Ideal, benar gitu?
    Its interesting …

    • Hallo Pipit. thanks for reading and commenting.
      Saya pernah belajar tentang teori pendidikan di kuliah psikologi saya.
      Kalau anda bertanya apakah yang saya tulis itu benar/salah, saya kembalikan ke anda. Apakah anda merasa benar atau salah?
      Karena benar atau salah itu semua tergantung dari mana posisi kita berdiri memandang isu tersebut.

      Tentu saja kalau ditanya pendapat saya, itu adalah opini saya yang terbentuk dari ilmu yang saya punya dan pengalaman di lapangan selama menjadi pengajar (dalam hal ini trainer dan dosen).

      Semoga memuaskan jawaban dari saya.

  12. Jadi inget, pas SMA ada temen yang bisa b.inggris gara-gara main games Final fantasy . Dia bilang, gw belajar dari game final fantasy, kan suka ada tulisan cerita b.inggris, ya gua cari arti dan pelajari susunan katanya.
    Tulisan anda bisa dinilai buruk atau negatif trgantung orang yang melihat dan membacanya.

    • Itu yang terjadi dengan saya juga! Pas SMA bisa bahasa Inggris krn main games Metal Gear Solid.

      Saya paham akan konsekuensi ketika menulis dalam blog saya. Pasti akan ada yg sependapat dan berbeda. Saya hanya terus berusaha jujur dgn yang saya rasakan dan alami.

      Saya hanya bs berharap semoga bagi yang membaca dan punya pendapat berbeda,tidak serta merta menilai negatif. Krn hanya adanya perbedaan baru terdapat ruang untuk berkembang.

      Terima kasih buat komennya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,109 other followers